E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA arrow BERITA arrow Sekolah Alternatif Tau Taa Wana Bulang Butuh Perhatian Pemerintah
Sekolah Alternatif Tau Taa Wana Bulang Butuh Perhatian Pemerintah PDF Print E-mail
Suara Sulteng (25/9)
Palu-Kelompok belajar alternatif bagi warga Tau Taa Wana yang ada di Sulteng perlu mendapat perhatian serius pihak pemerintah sebab mereka yang mendiami hutan rimba di wilayah pegunungan adalah masyarakat yang punya hak untuk mendapatkan pendidikan sesuai alamnya. Di Sulteng ada beberapa kelompok belajar alternatif yang diberi nama Tau Taa Wana Bulang, yang mendiami di tiga kawasan yakni, kawasan Mpoa-Ue Viau, Kawasan Sibado, Salumangge, Siko, Kablenga(SSK) serta kawasan Wananga Bulang (Lengkasa, Paratambung, Vatutana, Ratuvoli).

Diperkirakan puluhan ribu warga mendiami tiga kawasan tersebut yang membutuhkan perhatian pemerintah. Dengan terbentuknya kelompok belajar alternative yang dimediasi Yayasan  Merah Putih (YMP) terus mengembangkan jaringan. Komunikasi dengan propinsi lain yang juga membina pendidikan alternative.
YMP bersama beberapa fasilitator lapangan bersama guru lokal bertandang ke redaksi Suara Sulteng, beberapa hari lalu menceritakan perjalanan mereka dalam mengembangkan pendidikan alternatif di Sulteng.
Tiga fasilitator lapangan bagian pendidikan, yakni Nelvin, Taufik, dan Gofur menuturkan kalau mereka belum lama ini melakukan perjalanan studi di daerah lain. Sasaran kunjungan studi kata Taufik adalah di dua tempat yaitu, Taman Nasional Bukit 12 Jambi, dan wilayah Bogor Studi alkternatif Rimbawan Muda Indonesia (RMI).
Disana kata Taufik, pihaknya belajar metode studi alternatif. Bagaimana warga terasing itu diajari memahami alamnya dengan memberikan pemahaman yang dipelajari kebanyakan  siswa yang belajar normal di sekolah formal.
 Mereka juga mengikutsertakan guru lokal yang berasal dari enam Lipu atau atau kampong. Enam Lipu dan dan guru lokal itu masing-masing, Lipu kablenga, dibimbing Pau, Lipu Sabado oleh Ninu, Lipu Mpoa, guru Nde dan Mpeo, Lipu Ue Viau didampingi guru Van dan Sensi. Sementara Lipu Vananga Bulang dan Salumangge, dibina guru Rian, Tingi dan Elu. Semua guru btersebut kata Taufik telah mengikuti belajar di lokasi dimana peserta didik itu berada di tempat-tempat kediaman lereng gunung.
Respon kawan-kawan daerah lain yang konsern membina lanjut Taufik punya komitmen untuk membentuk sebuah jaringan yang di beri nama Jaringan Nasional Pendidikan Alternatif. Tugas utama kelompok jaringan tersebut adalah memfasilitasi atau menjembatani kepentingan sekolah alternative dengan pihak pemerintah. “Kita berharappemerintah daerah (pemda) Sulteng, bisa lebih memperhatikan kebutuhan pendidikan warga di tiga wilayah yakni wilayah Ampana, Bangkep dan Kabupaten Morowali,” harap Taufik.


Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >