E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA arrow SIARAN PERS arrow Perubahan Iklim: Gagalnya Pembangunan Global
Perubahan Iklim: Gagalnya Pembangunan Global PDF Print E-mail

ymp 14/12/2007 

Perubahan iklim merupakan buah dari gagalnya model pembangunan global, saat ini Negara-negara industri , dengan derajat pertumbuhan  ekonomi yang mapan, sedemikian rakusnya mengkonsumsi energy fosil hingga mencapai 70 persen, fakta itu sudah sangat jelas dan merupakan penggunaan yang sudah berlebihan.

Negara maju yang menjalankan roda industry hingga ekspansi ke Negara-negara berkembang, yang digerakan oleh lembaga penjamin seperti World Bank dan Asian Development Bank (ADB), terus mengeluarkan kepulan asap-asap hitam beracun, hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.
Dengan demikian, tentunya aktifitas industri akan semakin meningkat. Itu akan berdampak pada lingkungan dan penggunaan energy akan terus bertambah,” tandasnya. Kadar karbon dioksida di udara semakin ekstrim dan menjadi malapetaka bagi kebutuhan udara manusia. Hal tersebut juga akan berpengaruh langsung pada perubahan iklim secara global.
Kegagalan tersebut sebenarnya telah dibahas dalam konferensi perubahan iklim di Bali yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tanggal (1-10/12) baru-baru ini. Namun dalam pertemuan di Bali itu muncul komitmen dan tanggungjawab Negara industry terhadap kerusakan iklim global. tapi, sayangnya komitmen tersebut malah dibelokan oleh Negara industry, apa yang disebut sebagai Bali road-map of climate change, berubah makna menjadi perdagangan carbon ( carbon trading) yang didalamnya, meminta dan memaksa kepada semua Negara berkembang termasuk Indonesia untuk memelihara hutan dengan menjanjikan bantuan uang kepada Negara berkembang yang memiliki hutan, dan disisi lain Negara maju terus menggunakan energy secara berlebihan, dan enggan menurunkan emisinya.
Satu hektar akan diberika kompensasi 5-10 dolar Amerika penggantian tersebut sangat kecil dan juga tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut tidak adil bagi Negara berkembang sebab Negara maju  seperti Amerika Serikat, tidak mau berpartisipasi dalam mengurangi resiko perubahan iklim yang kian tak terkendali.

 

Azmi Siradjudin

Divisi Advokasi dan Pemberdayaan 


Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >