E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA arrow BERITA arrow PT TTEC Rusak Hutan
PT TTEC Rusak Hutan PDF Print E-mail
Mercusuar (21/1)
Poso- Forum Komunikasi Masyarakat Tojo (FKMT) menuding kerusakan hutan di Kecamatan Toho Kabupaten Tojo Unauna (Touna) dilakukan PT Tri Tunggal Ebony Corporation (TTEC) tidak terlepas dari dukungan Pemkab Touna.

Olehnya FKMT menilai Pemkab Touna turut bertanggungjawab. Kepada Koran ini di Poso Sabtu (19/1) Ketua FKMT Salim Makaruru menilai apa yang dilakukan oleh masyarakat Tojo dengan melakukan demo menentang kehadiran PT TTEC pekan lalu di desa Lemoro sudah tepat, sebab tidak sedikit dampak lingkungan akibat eksploitasi hutan yang dilakukan perusahaan ini sejak tahun 2005, sedikitnya 500 hektar hutan di sekitar wilayah Tojo rusak.
Lahirnya surat laporan tim yang turun lapangan guna menindaklanjuti laporan warga ke DPRD terkait kerusakan areal hutan dan persawahan warga menurut salim hanyalah laporan yang terkesan direkayas. Tim yang dipimpin langsung Sekab Touna Chaerullah Lamoro serta anggota dewan, LSM dan tokoh masyarakat dalam melakukan peninjauan di sekitar areal milik TTEC pada bulan Maret 2007 lalu, menurut Salim tidak bisa dibenarkan.
“Saya merupakan salah satu anggota tim yang turut dalam rombongan saat itu, seingat saya waktu itu tim tidak meninjau seluruh lokasi yang menjadi keluhan warga. “ Kami juga heran mengapa ada laporan perjanalanan dinas yang dikeluarkan oleh pemkab menyatakan bahwa tidak ditemukan kerusakan sebagaimana yang menjadi laporan warga selama ini” ujar Salim kesal. Padahal kata dia, kenyataannya tidak demikian. Terlebih lagi hutan bagi warga Tojo merupakan sumber kehidupan serta sumber air bersih masyarakat. Dampak lain yang ditimbulkan akibat beroperasinya perusahaan yang dinahkodai Thomas Co Putera tersebut dikatakan Salim adalah terjadinya kekeringan lahan persawahan. Kenyataan itu juga diakui Saharuddin Maca warga desa Lemoro saat melakukan aksi demo pekan lalu. Menurutnya , kerusakan hutan yang terjadi telah menimbulkan kekeringan lahan persawahan. Bahkan sekitar 19 hektar sawah di desanya tak bisa ditanami akibat akibat kekeringan tersebut. Akibatnya ia dan warga  lainnya terancam kehilangan mata pencaharian dan krisis pangan. Warga memperkirakan skitar 500 hektar sawah di 11 desa dalam wilayah Kecamatan Tojo dan Tojo Barat sudah tidak dapat ditanami akibat kekeringan itu. Kerusakan hutan juga menurut warga telah menyulitkan mereka untuk memperoleh air bersih, setelah sumber-sumber mangering dan aliran sungai yang dulunya jernih kini menjadi keruh. Namun Kepala Cabang pemegang HPH PT TTEC, Thomas Co Putera yang sempat ditemui wartawan menolak perusahaannya disebut yang paling bertanggungjawab atas dampak kekeringan dan sulitnya air bersih yang dialami warga Tojo. Bahkan ia sangat yakin dampak tersebut telah ada sebelum perusahaannya beroperasi di wilayah itu.


Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >