E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA arrow kipping arrow Pendidikan Alternatif arrow Mengintip Kegembiraan di Wana Bulang
Mengintip Kegembiraan di Wana Bulang PDF Print E-mail
Jurnal Nasional, 27 Maret 2008
Pagi baru saja tiba. Di Wana Bulang, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, suasananya terasa dingin. Tak terdengar hiruk pikuk apa pun. Lima anak kecil, berlari dengan riang tanpa alas kaki dan pakaian seadanya. Adalah Bono, Ninjang, Piro, Nto,I dan Irma. Wajah mereka kelihatan bergembira. Saling berkejaran. Sesampainya di Banua Bae , sebutan untuk rumah pertemuan, anak-anak kecil itu berdiri dengan tegap di halaman Banua Bae. Berbaris, sambil menyanyikan lagi Indonesia Raya. Seorang perempuan muda berdiri dan menjadi pemimpin upacaranya.
Ternyata, di Banua Bae itulah, Bono, Ninjang, Piro, Nto’i, Irma dan teman lainnya, belajar mengeja dan menulis huruf-huruf latin. Ada kebahagian pada diri anak-anak pedalaman itu. Gurat gembira dan ceria tergambar jelas di wajah bocah-bocah itu. Di Banua Bae itulah mereka bersekolah.
Itulah potret pendidikan sekolah di perdalaman yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota. Sebuah kawasan yang harus dicapai dengan lama perjalanan hingga 16 jam dari Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah. Secara geografis, kawasan itu berada di atas pegunungan, dikelilingi hutan tropis dan terletak di atas 700 meter dari permukaan laut.
Warga setempat adalah suku asli yang disebut dengan Tau Taa Wana Bulang. Sebutan itu, karena mereka tinggal di kawasan Wana Bulang. Di Sulawesi Tengah, suku Wana ini terdapat di Kabupaten Morowali, Kabupaten Banggai, dan di Kabupaten Tojo Una-Una.
Karena mereka yang oleh pemerintah di sebut sebagai komunitas adat terpencil (KAT), maka jangan berharap akan ada bangunan sekolah. Tapi, semangat dan kemauan keras untuk bisa membaca dan menulis tak pernah pupus sedikit pun.
Tak ada rotan akar pun jadi. Pepatah ini sangat tepat menggambarkan semangat anak-anak di komunitas Tau Taa Wa Bulang itu. Karena tak ada gedung sekolah, Banua Bae (rumah pertemuan) berdinding kayu pun bisa menjadi sekolah.
Warga setempat memberikan nama sekolah itu sebagai Sekolah Lipu atau sekolah kampung. Di komunitas itu ada empat sekolah Lipu, yaitu di Lipu Lengkasa, Partambung, Vatutana dan Ratovoli. Seluruh Lipu atau kampung itu terletak berhadapan dengan hulu Sungai Bongka, sungai terbesar di Kabupaten Tojo Una-Una. Berdasarkan hasil pemetaan dari Yayasan Merah Putih Palu, luas seluruh Lipu itu sekitar 22.270 hektare, dengan jumlah penduduk sekitat 352 jiwa dan 78 rumah tangga.
Sekolah Lipu atau sekolah kampung itu, didirikan oleh warga setempat bersama Yayasan Merah Putih Palu.
Tak ada tujuan lain, Nasution Camang, Direktur Yayasan Merah Putih mengatakan, hanya bermaksud mengajarkan baca tulis bagi anak-anak. “Ini hanya sebuah proses pemberdayaan bagi komunitas adat di bidang pendidikan secara langsung,” kata Nasution Camang.
Konsep sekolah Lipu di Wana Bulang, adalah realitas sekolah alam. Metode belajarnya sangat informal. Antara guru dan muridnya tak ada jarak. Kedua unsur ini saling menyatu dan terlihat sangat akrab. Maka jangan heran, di sekolah Lipu ini, canda, tawa, wajah serius bercampur baur menjadi satu dan silih berganti.
Kadang-kadang anak-anak itu bermain dan cuek dengan pelajaran, kadang pula mereka serius. Sungguh, suatu pemandangan sangat demokratis dari Sekolah Lipu. Gurunya saja, perempuan yang juga suku Tau Tau Wana Bulang. Perempuan itu bernama Indo Deleng. Nama guru ini, dalam bahasa setempat berarti ibu kuli. Usianya sekarang masih 24 tahun.
Kadang-kadang, anak-anak ini tak harus belajar di dalam ruangan. Kadang mereka harus duduk di atas bebatuan. Kadang pula harus duduk di atas kayu-kayu yang tumpang. Kadang juga duduk di sekitar sungai sambil menulis. Bahkan, kalau kehabisan kapur tulis, Indo Deleng terpaksa menulis dengan arang kayu.
Tapi ada kebanggaan tersendiri bagi warga setempat. Mereka bangga, dengan keterbatasan fasilitas, tapi tetap anak-anak mereka masih bisa sekolah, dan sekarang sudah dapat membaca, menulis, dan menghitung. “Ini sekolah kami. Kami sangat senang anak-anak kami bisa sekolah,” kata Ntoi pria berusia 27 tahun, dalam bahasa setempat namanya berarti bumbu. Ruslan sangaji

Related Items:

 
< Sebelum