| Pemerintah Harus Menyediakan Akses Terhadap Bahan Bacaan. |
|
|
|
|
Siaran Pers Hari Buku Sedunia (23/4/08) Tidak banyak diantara kita yang tahu kalau tanggal 23 April merupakan hari buku international (world book day), World Book Day yang dirancang oleh organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan PBB (UNESCO) adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia, Peringatan ini ditujukan untuk memunculkan kesadaran semua orang untuk menggunakan literasi sebagai media perubahan dalam kehidupannya. Tingginya angka buta huruf yang ada di Indonesia saat ini berkaitan langsung dengan rendahnya aktifitas membaca yang disebabkan oleh kurangnya akses orang miskin dan masyarakat terpencil terhadap bahan bacaan. Menurut data Education for All (EFA) Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia adalah negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta huruf di Indonesia. Bagi komunitas tersebut saat ini Indonesia sudah mendapat kartu merah di bidang literasi. Dari angka tersebut ada sekitar 11 juta anak Indonesia tidak memiliki akses terhadap bahan bacaan dan kesempatan untuk memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan formal, ditambah orang dewasa yang belum melek huruf dan angka. Dari angka diatas kita dapat menyimpulkan masalah buta aksara di Indonesia saat ini dikarenakan akses terhadap pendidikan yang masih sulit bagi kelompok orang miskin serta tidak adanya akses untu mendapatkan pendidikan serta akses pada buku atau tidak tersedianya kesempatan dan fasilitas bagi masyarakat khususnya anak-anak untuk mendapatkan bahan bacaan berupa buku-buku yang berkualitas. Padahal dalam Undang-undang dasar 1945 secara tegas menyebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu masih ditegaskan lagi dalam pasal 31 (1) bahwa Tiap- tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Sedangkan ayat (2) menegaskan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem nasional yang diatur dalam Undang-Undang. Untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas tentu saja harus memberikan akses terhadap pendidikan dan bahaan bacaan yang berkualitas kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Hasil forum pendidikan dunia yang diselenggarakan di Dakar Senegal 26-28 April 2000 melahirkan kesepakatan Dakar mengenai Pendidikan Untuk Semua (PUS) yang menjadi bukti komitmen global untuk itu. Dalam forum itu Ada enam poin yang disepakati sebagai kerangka aksi dan komitmen pemerintah berbagai negara dan masyarakat internasional. Kesepakatan itu di antaranya adalah 1. Perluasan dan peningkatan secara menyeluruh pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini. 2. Memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak,(terutama golongan minoritas, anak kurang beruntung) memperoleh akses dan dapat menyelesaikan pendidikan dasar yang bermutu secara gratis. 3 Tercapainya peningkatan sebesar 50 persen dari angka melek huruf orang dewasa (terutama perempuan) pada tahun 2015 dan akses yang sama terhadap pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. 4 memastikan bahwa kebutuhan belajar dari semua pemuda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang merata terhadap program pembelajaran dan kecakapan hidup. YMP sebagai salah satu NGO yang konsern terhadap masyarakat adat telah menyelenggarakan berbagai program dan kegiatan dalam kerangka memberdayakan masyarakat miskin dan marginal dalam aspek pendidikan melalui penyelenggaraan sekolah-sekolah alternatif bagi komunitas yang tidak terjangkau layanan pendidikan formal (mis. Sekolah Lipu di dataran Bulang bagi anak-anak tau Taa Wana) dan membangun perpustakaan-perpustakaan komunitas yang menyediakan bahan bacaan dan informasi lainnya. Karenanya melalui peringatan hari buku sedunia pada tanggal 23 april tahun ini Yayasan Merah Putih mendesak pemerintah untuk pertama menyediakan pendidikan berkualitas dan gratis kepada anak-anak Indonesia (khsusnya golongan minoritas dan kurang beruntung) kedua mengakui dan membantu penyelenggaran sekolah-sekolah alternatif sebagai wujud partisipasi masyarakat di bidang pendidikan ketiga memberikan akses bagi anak-anak kurang beruntung terhadap bahan bacaan dan menyediakan sarana untuk pengaksesan informasi yang berkaitan dengan bahan-bahan bacaan secara mudah. Selain itu YMP juga mendorong dan menghimbau masyarakat luas untuk mendonasikan bahan bacaan dan literature kepada kelompok masyarakat lainnya yang kurang mampu, sebab terwujudnya masyarakat cerdas dapat dicapai dengan komitmen kuat dari Negara untuk penyetaraan akses bahan bacaan dan partisipasi aktif masyarakat dalam gerakan kerelawanan pembangunan bidang literasi. Related Items: |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





