MENU UTAMA
Pengunjung Online
Ada 7 guests online


Homepage
Site map
Akibat pasar bebas China-Asean yang dimulai 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur baca selengkapnya di ESILO Edisi 37/2010
 
Nilai Penduduk Miskin Indonesia PDF Print E-mail
8/7/2008
Oleh: Nasution Camang
Apa boleh buat, kali ini saya terpaksa berceloteh tentang kemiskinan lagi. Bukan karena saya mencintai kemiskinan, atau benci pada orang-orang miskin. Tidak sama sekali! Ini karena pemerintah kita kembali mereproduksi kemiskinan massal lewat mekanisme pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Padahal rupa-rupa cara dari santun sampai anarkis sudah rakyat lakukan agar harga BBM tidak dinaikkan, tapi SBY-JK tetap tak hirau. Pemimpin pilihan rakyat itu, tetap nekat mencabut subsidi BBM. Alasannya, APBN harus diselamatkan, titik. Sontak, pakar dan mantan menteri yang konon punya resep alternatif  selain menaikkan harga BBM  menjadi geram bukan kepalang. “Pemerintah macam apa yang tega menyengsarakan rakyat demi menyelamatkan APBN!” ketus salah seorang oposan kenaikan BBM ini, di todays dialognya Metro TV.
Mulanya, keketusan itu saya anggap wajar-wajar saja. Cara kritik “oposan” ya, memang mesti begitu, harus nyaring dan sumbang. Kalau tidak, apa bedanya dengan “kelompok pro”. Tapi belakangan, saya pun ikut kaget begitu membaca perkiraannya Tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI). Katanya, jumlah rakyat miskin akan melonjak menjadi 41,7 juta orang atau 21,92 persen pada tahun 2008 ini. Kalau kita bandingkan dengan angka kemiskinan tahun 2007 yang berjumlah 37,2 juta (16,58 persen), berarti tahun ini, ada 4,5 juta jiwa orang miskin baru (OMB) berhasil diciptakan SBY-JK karena menaikkan harga BBM.
Hasil kalkulasi ini masih berdasarkan standar garis “kemiskinan minimal” bikinan Badan Pusat Statistik (BPS), yakni 2.100 kalori perkapita perhari. Kalau dirupiahkan, nilainya pada tahun 2007 berkisar Rp 5.500. Tapi sekarang, berhubung harga BBM sudah naik, sehingga membikin harga kebutuhan pokok melonjak, maka para ahli memperkirakan besarannya kurang lebih Rp 6.500 atau 195 ribu perbulan. Jadi, yang berpendapatan di atas Rp 195 ribu tidak tergolong miskin. Hanya mereka yang berpendapatan kurang dari Rp 195 ribu perbulanlah yang disebut orang miskin.
SBY-JK sangat senang menggunakan standar ini. Dia berkeras tidak mau menggunakan standar Bank Dunia. Pasalnya, standar garis kemiskinan Bank Dunia dipatok diangka US$ 2, setara Rp 8.000 perorang perhari atau Rp 540 ribu perbulan. Bayangkan jika SBY-JK berani menggunakan standar Bank Dunia, sudah pasti jumlah penduduk mis-kin Indonesia menjadi berlipat ganda, bisa mencapai 130-an juta jiwa. Sebuah angka yang bakal membikin pamornya hancur lebur. Karena itu, Bantuan Langsung Tu-nai (BLT) merujuk pada standar bikinan BPS.  Sebuah standar yang sangat-sangat rendah..! Malah banyak yang beranggapan, standar bikinan BPS ini, sesungguhnya standar kemiskinan (maaf) “versi binatang”. Kok, bisa?. Ya, karena indikatornya hanya berdasarkan asupan makanan (pangan). biaya rumah, pakaian, pendidikan dan kesehatan, tidak termasuk. Nah, bukankah hanya binatang yang tidak menjadikan rumah, pakaian, pendidikan dan kesehatan sebagai kebutuhan pokok?! Kebutuhan pokok seekor binatang hanyalah makan. Dan, sekali lagi, standar kemiskinan yang dipakai SBY-JK, merujuk ke situ.
Kondisi menyedihkan ini, akan tambah menyedihkan lagi jika kita menyimak tulisannya Marwan Batubara. Lewat websitenya, www.marwan batubara.com, anggota DPD wakil DKI Jakarta ini, menilai standar kemiskinan bikinan BPS itu, sangat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai subsidi bagi sapi di Eropa sebesar US$ 2,5 per hari atau setara dengan Rp  22.500 perhari jika nilai kurs Rp 9.000 per US$ 1.
Kalau perbandingannya dengan hewan ternak Eropa terlalu berlebihan, bolehlah kita menggunakan perbandingan dengan hewan peliharaan di Indonesia.  Untuk hal ini, beritanya Suara Merde-ka (14 Mei 2007) bisa dijadikan referensi. Koran Semarang ini memberitakan, seorang bos pemu-lung asal Tegal, Agus Hasanudin, biasanya me-ngeluarkan biaya antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu perhari untuk kebutuhan konsumsi 60 ekor anjing peliharaannya. Jika dipukul rata, berarti setiap anjing peliharaan mendapat jatah antara Rp1.600 sampai Rp2.500 perhari.
Sekarang, mari kita lihat jatah BLT yang Rp 100 ribu untuk setiap Rumah Tangga Miskin (RTM) per bulan. Jika setiap RTM dirata-ratakan terdiri atas 4 orang (Ayah, Ibu dan dua orang anak), maka masing-masing mendapat jatah Rp 25.000, atau Rp 833 per hari. Ternyata, jumlah ini pun masih jauh d ibawah jatah harian anjing pelihara-an Agus Hasanudin. Jadi begitulah nilai warga negara miskin di Indonesia.*


Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >
Today43
Yesterday68
Week185
Month536
All94576

(C) Fliesenstadt
Anggota: 4
Berita: 257
WebLinks: 5
Tamu: 500773