E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA
Memberdayakan Nalar Anak Seharusnya Tidak Hanya Mengandalkan Sekolah:Mungkinkan? PDF Print E-mail
15 September 2008
oleh
Dr. Sugit Zulianto, M.Pd
Sebelum memasuki sekolah formal, seseorang sesungguhnya sudah melakukan kegiatan belajar. Melalui proses itu, pembelajaran berlangsung secara alamiah, bahkan dalam suasana penuh kekeluargaan karena lazim dikendalikan oleh keluarga, terutama orang tua. Tanpa diminta, sebagian keluarga dekat pun kadang andil memarakkan suasana belajar dalam lingkungan rumah tangga. Dengan begitu, meskipun tanpa dipandu dengan kurikulum dan dilengkapi dengan buku pelajaran tertentu, anak-anak usia sekolah yang diperhatikan pertumbuhan dan perkembangan fisiknya dengan baik ternyata dapat tumbuh sehat dan mandiri.

Dengan kata lain, pembelajaran perilaku hidup sehari-hari melalui suasana kekeluargaan yang harmonis ternyata dapat menopang anak mencapai kesuksesan secara berkelanjutan tanpa kendala.
Pandangan itu sebenarnya tidak sepenuhnya dapat diterima oleh keluarga modern—terutama dari kalangan terdidik dan terpelajar—karena ada keterbatasan orang tua dalam menguasai dan mengajarkan hakikat multikeilmuan yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh putra-putrinya. Sebagai alternatif solusinya, anak-anak mereka dipilihkan, didaftarkan, bahkan diantarkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Di sekolah, setiap guru malah sudah siap dengan program pembelajaran yang didasarkan pada kurikulum tertentu, serta didukung dengan beragam buku sumber. Secara umum, anak-anak dinilai aspek kognitifnya melalui soal-soal ujian—salah satunya dengan soal pilihan ganda atau tes benar atau salah—yang cendrung membingungkan anak. Ironisnya, mereka terlanjur percaya bahwa kelulusan anak didasarkan pada angka semata sehingga kurang memperhatikan kreativitas berpikir anak. Padahal, potensi kreativitas berpikir jauh lebih bermanfaat bagi anak, terutama saat menghadapi perubahan hidup, bahkan kehidupan pada waktu yang akan datang, daripada sekedar kemampuan menghafal informasi yang memiliki kebenaran temporal.
Jika begitu polemik yang terjadi di tengah keluarga, bagaimana alternatif solusinya? Apakah anak-anak hanya perlu dididik oleh keluarga meskipun ada keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang? Sebaliknya, apakah anak-anak hanya perlu disekolahkan ke lembaga formal karena tersedia program pembelajaran dan guru yang akan mengajarinya? Di samping itu, bukankah lembaga pendidikan persekolahan telah berpengalaman dalam memberdayakan kualitas anak. Bukti bahwa anak-anak telah lulus dengan angka tinggi, bahkan mahir dalam lomba bidang tertentu memang dapat menguatkan hal itu. Akan tetapi, tidak jarang orang semakin bertanya-tanya bahwa mutu moral alumni lembaga sekolah dapat dipertanyakan kualitasnya. Secara umum, sih…, tidak! Namun, asal mau, dengan mengikuti derasnya arus informasi melalui media cetak dan elektronik, sungguh tidak sulit menemukan bukti bahwa kualitas perkembangan berpikir sebagian anak sekolah mengalami kemajuan terbatas sehingga sangat membahayakan diri dan keluarga.
    Bagi anak yang terlanjur berharap masa depannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya, keterbatasan kemampuan berpikir kadang dapat menjadikannya cepat menempuh jalan pintas. Sebagai contoh kasus, seorang anak yang dinyatakan tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah dapat melakukan tingkah laku yang merugikan diri sendiri (karena boleh memiliki dasar penilaian berbeda,  silakan pembaca yang budiman mencari contoh sendiri). Dengan alasan mendapatkan beban batin yang berat, ia kurang memahami dan menyadari bahwa masih ada kesempatan baik baginya untuk meraih sukses pada ruang dan waktu yang lain. Jika terabaikan, lebih lanjut, perilaku negatif anak itu juga dapat menjadi beban keluarga. Paling tidak, orang tua akan turut menanggung beban batiniah yang luar biasa, bahkan ada perasaan dosa yang teramat dalam karena merasa tidak mampu mendukung anak sekedar naik kelas atau lulus ujian sekolah.
    Nah, mereka ketahuan. Mereka pula yang akan menanggung beban. Mereka terlanjur mengandalkan lembaga persekolahan untuk menopang kepintaran anak menghafal konsep keilmuaan. Padahal, hakikat hidup tidak hanya demikian. Artinya, sejak awal, sudah selazimnya jika keberdayaan nalar anak diperhatikan oleh pihak keluarga. Andaikata, pemberdayaan nalar anak dimulai secara intensif di rumah, bahkan didukung secara sinergis di sekolah, mudah diduga bahwa keberdayaan anak berpikir akan bertambah baik. Ini berarti bahwa naik dan lulus sekolah itu urusan mudah. Asal nalar sudah terlatih dengan baik, adalah wajar bahwa anak naik kelas atau lulus sekolah karena dapat menjawab persoalan nyata yang diungkap dalam soal ujian akhir, baik ujian sekolah maupun ujian nasional.
    Dengan begitu, analog dengan anak tidak naik atau tidak lulus sekolah, anak-anak yang kurang mengalami pendidikan formal secara maksimal, mereka cenderung akan tetap tabah dan sabar meskipun—andai saja—tersesat dalam menerobos lebatnya hutan. Jika versi anak sekolah, ia hanya mengandalkan kompas untuk mencari arah. Itupun kalau ada. Akan tetapi, versi anak kreatif berpikir, terangnya sinar mentari setiap hari tentu merupakan panduan/penentu arah mata angin yang sangat berharga. Oleh karena itulah, jika ingin sukses hidup dalam kehiduapan yang begitu luas, jangan hanya mengandalkan pendidikan sekolah. Jadi, belajar di rumah, ya. Belajar di sekolah, ya. Belajar di alam, ya. Tidak belajar, jangan. Pilihan terakhir pasti sangat membahayakan mutu hidup dan kehidupan Anda.
Penulis adalah Dosen Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Bahasa dan Seni, FKIP,
  Universitas Tadulako (2000-sekarang).



Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >