| Kios Lipu di Dataran Bulang, Managemen atau Tradisi |
|
|
|
|
2 september 2008 Walau umurnya masih berhitung bulan, namun keberadaan Kios Lipu sudah dapat memotong mata rantai harga barang yang masuk, sehingga harga beli barang konsumsi dari luar bisa didapat dengan murah oleh masyarakat Taa yang bermukim di Dataran Bulang yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali. Namun perubahan sosial ekonomi bagi mereka, mendorong agar fungsi kelembagaan ekonomi kampung lebih adaptif dan melembaga di masyarakat. Apa saja? Berikut Ulasan, Pandangan dan sederet fakta-fakta yang dihimpun Manager Keuangan Yayasan Merah Putih (YMP), Zaiful selaku fasilitator dalam pelatihan kelembagaan ekonomi yang di laksanakan, di Ampana sejak tanggal 4 sampai 7 April 2008. Warung Kebutuhan Murah namun Kosong Harga barang di kampung sekarang sama dengan di Kampung Transmigrasi dataran Bulang, orang Taa tidak lagi harus menempuh berjalan kaki kurang lebih 6 jam untuk membeli kebutuhan hidupnya yang tidak tersedia di Lipu, cukup mendatangi Kios Lipu yang sudah telah menyediakannya denag harga terjangkau. Namun rupanya tak semulus dari perencanaanya, terdapat kendala yang dihadapi pengelolah Kios Lipu, seperti seringnya proses order barang/distribusi dari Terminal (Badan Usaha Komunitas/Bukom yang dibentuk bersama antara Komunitas Tau Taa dan YMP) mengalami kelambatan sehingga barang di Kios sering kosong. Pada proses awal, Pembelian barang, disesuaikan dengan jumlah komunitas, karena harga yang relatif murah menyebabkan beberapa masyarakat memborong barang yang ada di Kios. Tidak itu saja, menurut warga Lipu Lengkasa, Indo Hadi mengakui adanya pembeli dari luar Lipunya. “pembeli di kios bukan saja dari kawasan Lengkasa tapi juga dari lipu/kampung tertangga”, akunya. Selain itu, pengelolah Kios Lipu mengungkapkan, permintaan barang semakin banyak ketika ada hajatan/pesta. Tidak seperti Kios lainnya, isi jualan Kios Lipu diproteksi. Barang-barang yang dapat merusak tata konsumsi seperti mie instant tidak diperbolehkan untuk dijual. Menurut salah seorang pendamping Kios Lipu, Risman, hal ini dilakukan agar tata komsumsi masyarakat yang sudah sehat tidak di rusak oleh produk pabrik. Namun fakta ini dilihat sebagai celah sekaligus peluang sehingga ada yang membuka Kios dan menjual barang-barang instan tersebut. “Butuh proses untuk menata konsumsi masyarakat yang lebih sehat”, ungkap pendamping Tau Taa yang murah senyum ini. Pembelian Damar Masih Harga dasar Selain jualan barang-barang konsumsi, Kios Lipu juga membeli hasil hutan seperti damar namun harganya relatif masih harga standar. Di Sabado misalnya, harga masih lebih rendah. Di Kios Lipu di Vananga bulang, Mpoa dan Ue Viau belum mengusahakan pembelian damar, menurut ketua Kios Lipu di Ue Viau, Giro, penyebabnya karena Kios lipu belum punya modal. Menanggapi persoalan kebijakan harga dan modal terebut, selaku Manager Terminal, Santi menyatakan, untuk kebijakan harga damar, Terminal masih memakai harga dasar sesuai kesepakatan pertemuan awal, Oktober 2007. “Terminal akan mengusahakan mencari pasar dengan harga yang lebih tinggi dan akan membagi keuntungan bila pasaran damar sudah jelas. Untuk kebutuhan modal Kios Lipu dalam pembelian Damar, menunggu evaluasi perkembangan Kios”, ungkapnya. Kepercayaan dasar keberhasilan Bukom Kelembagaan ekonomi kampung memang sangat dibutuhkan masyarakat, karena selama ini, nilai tukar masyarakat masih rendah sehingga apabila membeli harganya mahal, tetapi bila menjual hasil produksi harganya murah. Konsep kelembagaan ekonomi kampung yang diberi nama Badan Usaha Komunitas disingkat Bukom ini masih baru dan masih dipersepsikan berbeda baik pengelola maupun pendamping, sebagaian pengelola menganggap, Bukom hanya sebagai tempat menjual barang kebutuhan dan membeli hasil produksi. Ada juga yang beranggapan bahwa Bukom adalah Badan usaha yang dimilki oleh komunitas untuk memenuhi kriteria keanggotaan yang melakukan penataan ekonomi kampung dan masalah sosial budaya. Sebenarnya, Bukom adalah Badan Usaha Komunitas Tau Taa Wana Bulang, konsep ini bagi masyarakat merupakan wadah ekonomi dan tempat belajar dengan tujuan untuk menata ekonomi kampung secara mandiri. Penguatan kelembagaan Bukom, menjadi cita-cita, dan harus disepakati dengan dilandasi kesadaran bersama. Agar organisasi kuat, manajemen pengelolaan harus jelas fungsi-fungsinya. Peningkatan kapasitas pengetahuan/keterampilan anggota dan pengelolanya dilakukan terus menerus serta mendorong anggotanya untuk menabung. Tetapi, hal utama yang harus diperhatikan untuk keberlanjutan organisasi adalah kepercayaan. Related Items: |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





