MENU UTAMA
Pengunjung Online
Ada 8 guests online


Homepage
Site map
Akibat pasar bebas China-Asean yang dimulai 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur baca selengkapnya di ESILO Edisi 37/2010
 
Tidak Lulus Sekolah Dasar Jadi Guru di Tengah Hutan Belantara PDF Print E-mail
15 September 2008
Oleh : Abd. Ghofur
Matahari belum terlalu panas, saat anak kecil berlarian mengejar bola yang terbuat dari rotan itu, ya.. anak-anak yang ada di Tau Taa Wana sudah terbiasa menggunakan bola yang biasa di pakai untuk sepak takraw, tapi bagi anak-anak meskipun bermain dengan bola seperti itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk terus bermain.

Pagi itu Sensi yang baru berusia 15 tahun menemani teman-teman serta adik-adiknya yang berusia antara 6 s/d 13 tahun untuk bermain sebelum belajar, sudah menjadi kebiasaan bahwa mereka akan meminta waktu untuk bermain baik sebelum maupun saat sedang mempelajari salah satu topik bahasan.
Sensi adalah salah satu kader fasilitator lokal yang hampir 1 tahun menemani anak-anak di Lipu (pemukiman) Ue Viau belajar baca, tulis dan hitung. Anak ke- 4 dari 4 bersaudara ini sebelumnya memang sudah pernah mengenyam sekolah dasar di Dataran Bulang, tetapi hanya sampai kelas 5 saja, karena harus mengikuti orang tua angkatnya pindah, bapaknya telah meninggal dunia ketika ia masih berumur 2 tahun, sedang ibunya menyusul 5 tahun kemudian akibat sakit malaria yang sudah tahunan. Dengan ketrampilan baca, tulis dan menghitung yang dimilikinya itu sangat berguna bagi komunitasnya, karena sebagian besar dari mereka masih buta aksara.
“Saya hanya bisa mengajarkan apa saya tahu, itu saja” tutur sensi di sela-sela diskusi bersama kader fasilitator lainnya. Memang dalam materi maupun methode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar tidak mengacu pada kurikulum nasional, yang kata sebagian pengamat maupun praktisi pendidikan tidak membumi, karena pendidikan di bangsa ini telah lari dari hakikat pendidikan itu sendiri. masih menurut gadis yang punya wajah manis ini terkadang ketika belajar menghitung dilakukan di kebun ketika memanen jagung muda, dimana semua peserta belajar di suruh menghitung semua jagung yang diambilnya dan menjumlahkannya dengan hasil dari didapat temannya yang lain. malah pernah menggunakan biji jagung untuk membilang angka secara urut. itu merupakan sebagian pengalaman yang didapatnya.
Pernah juga ketika penulis berkunjung ke lipunya, dia bersama dengan teman-temannya sedang belajar menganyam gelang (Yoku), sensi memang mempunyai keahlian membuat anyaman, ketrampilan itu dia peroleh dari belajar sama orang-orang tua di situ. dan sambil belajar menganyam, mereka juga membawa buku dan penanya, kemudian mereka menulis anyaman yang sedang mereka pelajari itu. begitulah aktivitas sekolah lipu yang ada di Tau Taa Wana, mereka tidak harus belajar menuliskan sungai terpanjang di pulau jawa, atau gunung tertinggi di Indonesia. tetapi apa yang mereka lakukan setiap hari itulah yang menjadi topik bahasan. Semisal ketika lagi di kebun atau sedang dalam hutan untuk mencari Buno (Buah Langsat) atau burung. Anak-anak Tau Taa Wana memang mempunyai keahlian dalam berburu burung dengan memakai Sumpit, alat berburu yang terbuat dari bambu ukuran kecil yang lubangnya besar, sebagai mata sumpit, mereka membuatnya dari bambu juga, tetapi Sederhana, dengan alat tulis seadanya adalah kesan pertama ketika melihat berjalannya sekolah lipu, mereka mempergunakan kapur dengan papan yang berukuran 1 X 0,5 M yang sudah di cat hitam. dan jika kapurnya habis mereka akan memakai ubi kayu (singkong) yang sudah dikeringkan dengan di jemur di terik matahari. Dan saat ini mereka telah beruntung karena sudah mempunyai buku dan pensil sebagai alat untuk tulis menulis. “Dulu sebelum ada buku dan pensil kita belajar pakai apa saja, kadang tanah, ranting atau dengan daun pisang yang masih muda dan ranting kayu kecil sebagai pensilnya” ujar Sensi.
Menurut sensi alat belajar itu pun terkadang masih di pakai jika proses belajar yang akan dilakukan tidak di buat dalam ruangan, atau saat tertentu yang memang ketika bermain, tiba-tiba ada keinginan untuk belajar, maka belajarnya pun akan berlangsung di sela-sela waktu bermain. Dengan menggunakan bahan yang seadanya di situ mereka belajar membuat kata atau menjumlah angka-angka secara bergantian dan ketika sudah bosan mereka kemabali bermain atau pulang ke rumahnya masing-masing.
Ketika di tanya kepada Mido atau biasa di panggil Apa Wis sebagai orang tua angkat Sensi yang juga merupakan pemangku adat di Lipu Ue Viau, apakah aktivitas anak angkatnya ini mengga-nggu kerjaannya dalam membantu pekerjaan dia di kebun, malah di jawab olehnya bahwa kami malah senang dengan begitu (mengajar baca, tulis, hitung) anak-anak di sini ke depan sudah tidak ada yang tidak bisa baca, tulis dan hitung. “Ane tare Sensi galu pendamping YMP, sampe sisi`i kita sampria ta nsani baca, tulis sangkani hitung”. (Kalau tak ada Sensi dan pendamping dari YMP, sampai saat ini kami semua tak akan bisa baca, tulis dan hitung) Ungkap lelaki paruh baya itu ketika berbincang-bincang dengan penulis sambil menunggu makan malam siap.
Melihat ini bahwa generasi Tau Taa Wana mulai melangkahkan satu lang-kah kakinya ke depan, dan terlalu dini untuk menilai langkah Sensi ini sebagai kartini dari hutan belantara, tetapi itu tidak menutup kemungkinan. Semuanya ini akan terrealisasi jika semua pihak yang peduli dengan Tau Taa Wana men-dukung berjalannya derap langkah sang kartini tersebut untuk terus melanjutkan langkah-langkah selanjutnya.


Related Items:

 
< Sebelum   Berikut >
Today83
Yesterday70
Week295
Month646
All94686

(C) Fliesenstadt
Anggota: 4
Berita: 257
WebLinks: 5
Tamu: 501161