| Akhirnya Kami Dapat Menghitung Sendiri |
|
|
|
|
12 September 2008 Pernyataan ini terlontar ketika Tau Taa Wana mampu menghitung jumlah damar dan rotan yang mereka peroleh dari hutan. mungkin terasa asing bagi sebagian orang, bahkan mereka yang bergerak di bidang pendidikan sekalipun. Apalagi kalangan pendidik yang berpikiran, dogmatis, formalis dan legalis, sekolah lipu adalah hal yang aneh. Ada seorang pendidik menelpon ke Biro SILO Ampana yang mengatakan, “Bagaimana mungkin ada sekolah yang gurunya tidak tamat SD,” katanya di ujung telepon. Sang penelepon tidaklah salah jika sekolah dipahami sebagai sekumpulan gedung, serombongan tenaga pengajar yang berijazah diploma dan strata satu, seperangkat kurikulum, setumpuk buku paket yang siap diajarkan dan baju seragam yang berganti setiap hari. Tapi pendidikan bukanlah jejalan benda-benda mati tetapi sebuah proses perubahan terarah yang dipijakan pada akar budaya, kondisi sosial dan pengalaman keseharian peserta didik atau masyarakat didik. Sekolah yang tidak biasa, seperti sekolah lipu (semacam sekolah kampung) bukanlah barang baru. Akar sejarahnya di Indonesia cukup kuat. Lihat sejarah pesantren yang dibangun oleh masyarakat dan menggunakan kurikulum sendiri. Tengok pula sekolah rumah (home schooling) yang kini diakui pemerintah. Sebenarnya sejumlah literatur dan media kita telah mengulas masalah ini secara tuntas, tetapi bagi penggemar acara gosip, iklan dan sinetron akan sulit memahami model pendidikan yang tidak lazim ini secara paripurna. Di tanah adat Taa Wana, Sekolah Lipu yang telah berjalan kurang lebih dua tahun telah memberikan manfaat. Ini bisa dilihat semakin banyaknya anggota komunitas yang bisa baca, tulis dan hitung. Gurunya yang tidak tamat sekolah dasar ikut berproses bersama peserta didiknya. Mereka berprinsip, semua orang adalah guru, setiap tempat adalah ruang belajar, setiap aktivitas adalah proses belajar dan setiap pengalaman adalah bahan pelajaran. “Kami belajar apa saja, dan di mana pun kami sempat,” tutur Sensi dari Lipu Ue Viau, salah serorang kader Fasilitator Sekolah Lipu. Untuk keberlanjutan sekolah lipu memang direkrut beberapa orang anggota komunitas yang telah dianggap mampu memfasilitasi sekolah lipu. Fasilitator lapangan dari Yayasan Merah Putih (YMP) hanya mendam-pingi dari sisi methodologi. Dalam perkembangannya Sekolah Lipu telah menjadi kebutuhan masyarakat adat Taa Wana. Sebab manfaat Sekolah Lipu telah dirasakan oleh masyarakat sendiri ketika berhubungan dengan masyarakat lain, misalnya dalam hal jual beli. “Karena belajar di Sekolah Lipu kami dapat mengerti bagaimana menghitung perolehan damar dan rotan,” kata Ninu asal Lipu Sabado. Selain mendampingi fasilitator lokal, banyak hal yang perlu didiskusikan dengan komunitas, di antaranya menyangkut kebudayaan dan pengetahuan lokal semisal, pengetahuan berkebun, berburu, inventarisasi jenis kesenian dan penguasaan alat-alat kesenian (Geso, Du‘e, dll). Budaya dan aktivitas keseharian komunitas ini disistematikakan kemudian dijadikan masukan untuk kurikulum dan modul pembelajaran yang menjadi pegangan para fasilitator Sekolah Lipu. Di samping itu ada pertemuan berkala antara fasilitator Sekolah Lipu dan fasilitator lapangan untuk berbagi pengalaman. Pertemuan rutin ini menjadi media belajar bersama antara fasilitator Sekolah Lipu, baik menyangkut metode yang efektif maupun proses pembelajaran. Karena semakin banyaknya metode yang dipakai akan menjadikan proses belajar semakin menyenangkan bagi peserta didik. Saat ini Sekolah Lipu terdapat di Lipu Vananga Bulang, Ueviau, Sabado dan Kablenga. Setiap Sekolah Lipu ini difasilitasi satu orang fasilitator lokal. Peserta didik di Sekolah Lipu tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa. Peserta didik dewasa membentuk kelompok sendiri yang difasilitasi oleh salah seorang anggota kelompok. Kalangan perempuan biasanya membentuk kelompok sendiri jika mendiskusikan kegiatan-kegiatan khusus perempuan di lipu. ghf/bd Related Items: |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|






