|
|
 |
|
|
|
|
Akibat pasar bebas China-Asean yang dimulai 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur baca selengkapnya di ESILO Edisi 37/2010
|
|
|
|
 |
|
Masalah di Uwemea Bukan Sekedar Soal Tambang Emas |
|
|
|
ymp 27/5/2009
Persoalan di Lipu Uwemea (Kecamatan Toili) bukan sekedar karena adanya pertambangan emas. Tapi lebih daripada itu menyangkut soal pembangunan kewilayahan yang sama sekali jarang menyentuh masyarakat dan wilayah di sana. Seharusnya jarak tempuh sekitar 20 kilo dari Singkoyo, tidak dijadikan alasan oleh pemerintah, sehingga akses pembangunan sangat minim dirasakan oleh masyarakat.
Secara umum, masyarakat yang mendiami wilayah tersebut adalah komunitas “Tau Taa Wana”, dengan pola ekonominya adalah berladang. Yang sebelumnya merupakan wilayah administratif dari Singkoyo. Namun, saat ini sudah menjadi wilayah definitif. Saat ini jumlah penduduknya sekitar 130 Kepala Keluarga.
Dari perbincangan Yayasan Merah Putih (YMP) dengan masyarakat di sana, ternyata terungkap sejumlah persoalan.
Masalah-masalah tersebut meliputi :
• Minimnya sarana pendidikan khususnya untuk SD dan SMP;
• Fasilitas layanan kesehatan yang kurang memadai, karena untuk berobat masyarakat harus turun jauh ke Singkoyo atau ke Kandang Jonga di mana terdapat Puskesmas
• Maraknya aktivitas pembalakan liar (illegal logging) di kawasan hutan di wilayah hulu, sehingga mengancam kesinambungan ekologi, terutama untuk pemukiman warga dan ladang pertanian. Terutama berpotensi bahaya banjir dan tanah longsor dari atas, ketika hujan deras turun;
• Akses jalan menuju ke Lipu Uwemea juga masih sangat buruk kondisinya. Ketika musim hujan tiba, jalan berlumpur dan berkubang, sehingga menyulitkan ditempuh dengan jenis kenderaan apapun;
• Masyarakat Uwemea meminta agar kiranya Pemkab Banggai mengakui keberadaan mereka sebagai komunitas “Tau Taa Wana”, yang memiliki cirri khas sebagai masyarakat hukum adat. Karena mereka masih kuat memberlakukan hukum adat serta norma-norma tradisional lainnya. Seperti model pengelolaan hutan (Pangale) dan ladang (Navu) berbasis tradisi, yang menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan ekologi;
• Soal tambang emas sendiri, masyarakat di sana belum mempersoalkannya, sebab masih dikelola secara tradisional, dan belum ada yang menggunakan bahan berbahaya seperti Mercuri dan bahan kimia keras lainnya dalam proses menambang.
Seharusnya Camat Toili sebagai ujung tombak pemerintahan daerah di sana, rajin mengunjungi masyarakat Uwemea. Sehingga keluhan-keluhan mendasar masyarakat dapat diketahui dan dilihat langsung realitasnya di lapangan.
Karena itu, Yayasan Merah Putih (YMP) melalui Kantor Lapangan Banggai di Luwuk, mendesak kiranya Pemkab Banggai lebih memperbaiki dan membenahi pembangunan kewilayahan. Terutama di wilayah-wilayah yang terisolir seperti Uwemea.
Demikianlah Siaran Pers ini dibuat, untuk disiarkan sebagaimana mestinya.
Azmi Sirajuddin AR
Manajer
Related Items:
|
|
|
 |
|
|
Anggota: 4
Berita: 257
WebLinks: 5
Tamu: 500774
|
|
|