MENU UTAMA
Pengunjung Online
Ada 7 guests online


Homepage
Site map
Akibat pasar bebas China-Asean yang dimulai 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur baca selengkapnya di ESILO Edisi 37/2010
 
Tambang Emas Toili Yang Kontroversial PDF Print E-mail
YMP  Jumat (22/1)
Luwuk- Sejak batas waktu aktivitas pertambangan emas di dataran Toili berakhir pada tanggal 20/1/2010, Kamis kemarin pada tanggal 21 Januari 2010, tim terpadu penertiban Pemkab yang dipimpin langsung oleh Kadis Tamben Banggai, Hardi Uda'a, yang didampingi oleh Dandim 1308/LB dan aparat Kepolisian, telah melakukan penertiban dan penutupan di sejumlha titik penambangan. Fokus penertiban dan penutupan kemarin dilangsungkan di unit 12 (kecamatan Toili), dan terus bergerak hingga ke Topo dan Dongin (Kec-Toili Barat). Kegiatan penutupan kemarin berjalan persuasif, walaupun pihak tim terpadu memerintahkan para penambang yang umumnya
berasal dari luar Toili itu membongkar tenda-tenda dan base camp yang mereka tempati, para penambang tidak berkomentar apa-apa. Sebab mereka sebelumnya sudah diinfromasikan tentang rencana penutupan itu. Selain meminta para penambang membongkar base camp, tim terpadu juga meminta penambang membereskan alat-alat kerja mereka, seperti mesin tromol,
mesin alkon, dan peralatan lainnya.

Tampak juga, sejumlah anngota Dekab Banggai dari Komisi B yang membidangi isu pertambangan dan energi, turut serta dalam proses penertiban tersebut. Menurut Kadis Tamben Banggai yang dikonfirmasi lewat telepon oleh YMP, setelah penutupan dan penertiban ini, tidak
dibenarkan lagi adanya aktivitas penambangan ilegal di seluruh kawasan dataran Toili. bahkan, rencana untuk memulangkan paran penambang ke kampung halamannya kini mulai disusun oleh tim terpadu. Selanjutnya, sambil melakukan pemulangan secara bertahap, tim terpadu bersama
jajaran Polres dan Kodim akan melakukan pangawasan di wilayah perbatasan, bandara dan pelabuhan. Hal ini untuk mengantisipasi migrasi penduduk lainnya dari daerah luar yang terlanjur kepincut dengan godaan emas Toili.

Kemungkinan, dalam waktu dekat, akan dilakukan sweeping KTP Banggai bagi setiap pintu masuk di perbatasan, pelabuhan dan bandara yang menuju ke Luwuk. Hal itu untuk mencegah dan membatasi akses masuk bagi penduduk dari daerah luar untuk masuk ke daerah ini menambang. Hal lain yang akan dilakukan oleh tim terpadu, adalah mengirim selebaran
resmi ke setiap kabuoaten terdekat bahwa tambang emas Toili telah ditutup.

Staf YMP yang turun ke lapangan beberapa jam setelah penertiban itu menemukan fakta lain. Bahwa, sejumlah orang penambang yang dimintai keterangannya terkait penertiban dan penutupan itu merasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh Pemkab Banggai. Sebut saja Udin (nama disamarkan), pria 2 anak dari Balikpapan, Kaltim. Dia datang ke Toili seminggu sebelum pergantian tahun ke 2010, dan langsung menuju ke unit 12 mempertaruhkan nasibnya. Biaya yang telah dikeluarkannya untuk seluruh keberangkatannya dari kampung halaman hingga membeli alat secara patungan dengan kawannya, sudah mencapai 20 juta Rupiah. Alat
yang digunakannya adalah sebuah mesin tromol bekas dan beberapa pipa bekas pula. Alat itu mereka beli di Bontang.

Udin dan temannya itu mengaku, setelah hampir sebulan menambang di beberapa titik, modal 20 juta yang mereka keluarkan selama ini belum kembali atau belum kembali modal. Sebab, pendapatan rata-rata mereka hanya sampai 10 gram bersih per hari. Hasil penjulannya mereka pakai pula untuk membeli sembako dan BBM untuk mesinnya. Selain itu, modus maraknya calo keamanan yang meminta retribusi pengamanan, juga menguras pendapatan mereka sendiri.

Oleh sebab itu, senada dengan keluhan para penambang lainnya yang terlanjur datang ke Toili, mereka berharap ada perubahan sikap dan kebijakan dari Pemkab Banggai. Mereka bilang,kalau keluhan soal tidak adanya pemasukan yang masuk ke kas daerah dari aktivitas penambangan
emas itu, sebaiknya Pemkab buat saja aturannya. Sehingga bisa legal dan dapat berkontribusi bagi pendapatan daerah. Daripada uang itu masuk ke kantong calo-calo keamanan dan oknum aparat desa dan keamanan. Begitulah keluhan umum yang hampir sama mereka utarakan ke
YMP saat diwawancarai di lapangan.

Bahkan, mereka meminta YMP dan LSM lainnya, agar mereka bisa memperoleh keadilan dari pemkab Banggai, dengan cara memebrikan mereka waktu agar modalnya bisa kembali. Begiutlah harapan rata-rata penambang yang dijum pai sat YMP pasac penertiban kemarin.*

Azmi Sirajuddin
(Manajer Kantor)
YMP-Kantor Lapangan Banggai




 
Berikut >
Today43
Yesterday68
Week185
Month536
All94576

(C) Fliesenstadt
Anggota: 4
Berita: 257
WebLinks: 5
Tamu: 500773