E-Silo terbaru

“Selain merusak lingkungan hidup, jika tak diatur dengan baik, kapitalis bisa muncul di tengah tambang rakyat. Yang menjadi penguasa bukan warga lokal, tapi pemilik modal yang paling besar.” selengkapnya di ESILO Edisi 39/2010
 
BERANDA arrow BERITA arrow Masyarakat Tuntut Perkebunan Sawit
Masyarakat Tuntut Perkebunan Sawit PDF Print E-mail

ymp 17 Februari 2011

ImagePalu-, Perkebunan Sawit tidak memberikan manfaat  kepada masyarakat lokal yang ada di sekitar areal perkebunan. Bahkan  perkebunan besar kelapa sawit yang dimiliki perusahaan besar  justru menciptakan persoalan baru ditengah komunitas, diantaranya konflik sosial dan permasalahan lingkungan yang berujung pada penderitaan masyarakat.

Hal itu diungkapkan sejumlah masyarakat yang tinggal disekitar area perkebunan sawit yang menjadi korban dari perusahaan perkebunan sawit, saat mengikuti  kegiatan Workshop Diseminasi Informasi Perkebunan Sawit, yang diselenggarakan oleh Sawit Watch bekerjasama dengan Perkumpulan Evergreen Indonesia di Hotel Grand Duta Palu mulai Senin (14) Hingga Jumat (18) Februari.

Kasmudin, Warga lalundu Kecamatan Rio Pakava Kabupaten Donggala mengaku sejak Tahun 2004 silam, warga desanya telah mengalami penderitaan akibat tindakan semena-mena Perusahaan sawit PT. LTT yang merupakan anak perusahaan Astra. Menurutnya perusahaan ini telah bertindak kejam dengan menggusur lahan kakao milik warga yang telah berproduksi. Karenanya ia menuntut perusahaan tersebut agar bertanggung jawab atas penderitaan warga desanya, ia juga mendesak pemerintah Kabupaten Donggala agar menindak tegas perusahaan sawit tersebut.

“ Kami menuntut perusahaan agar bertanggung jawab terhadap penderitaan kami, dengan mengembalikan lahan warga yang telah digusur dan mengganti kerugian masyarakat. Pemerintah harus berpihak ke masyarakat dan mengambil tindakan kepada perusahaan” tegas Kasmudin.

Hal senada juga disampaikan Suharjo, warga Desa Ongkoga Barat Kecamatan Boalemo Kabupaten Banggai. Menurutnya perusahaan Sawit PT Wira Mas Permai yang beroperasi di wilayahnya telah melakukan penipuan dan bertindak Zalim terhadap warga desa setempat, dengan cara menggusur lahan warga tanpa ada persetujuan dari pemilik lahan. Bahkan lahan plasma yang dijanjikan akan diberikan kepada warga tak kunjung direalisasikan hingga saat ini.

“ Perusahaan telah menipu kami dengan iming-iming penghasilan besar, namun yang ada saat ini kami justru kehilangan lahan kebun kami yang digusur secara paksa oleh perusahaan PT Wira Mas Permai. Kami menuntut agar perusahaan ini berhenti dan keluarg dari daerah kami” tegasnya.

Edy Wicaksono, anggota Perkumpulan Sawit Watch menyatakan, kehadiran perkebunan besar kelapa sawit selalu menimbulkan masalah, diantaranya konflik sosial dengan masyrakat lokal diantaranya, perampasan lahan, kriminalisasi warga, konflik buruh, dan system plasma yang selalu menjadikan petani sebagai kelompok yang dirugikan. Selain itu persoalan lingkungan selalu hadir di perkebunan sawit, mulai dari degradasi air, banjir dan pencemaran limbah.

“ Investasi perkebunan sawit selalu melahirkan konflik dengan masyarakat lokal, karenanya pemerintah perlu segera menghentikan ekspansi perkebunan sawit, selain tidak memberikan manfaat bagi warga dan melahirkan sejumlah persoalan, sawit juga tidak terbukti memberikan sumbangsih bagi pendapatan daerah, sebagai solusinya pemerintah sebaiknya mendayagunakan komoditas lokal seperti kakao, cengkeh atau kelapa dalam yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat” urainya.

Kegiatan ini diikuti masyarakat dari berbagai daerah di Sulawesi tengah, diantaranya Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parimo dan Kabupaten Banggai.