|
Politik Chaoisme Berbalut Etnisitas
Oleh: Azmi Siradjudin
Rapat Pleno KPU Banggai untuk penetapan hasil perhitungan suara Pilkada Bupati/Wakil Bupati periode 2011-2016 sesuai jadwal akan dilakukan pada tanggal 14 April 2011. Walaupun demikian, sejumlah hasil quick count dan real count yang dilakukan sejumlah lembaga survei lokal dan nasional, menyatakan bahwa paslon Bupati/Wkl Bupati nomor urut 4 atas nama Sofian Mile dan Herwin Yatim dinyatakan unggul atas lima paslon lainnya. Termasuk unggul sekitar 40, 37% atas paslon incumbent Ma'mun Amir-Faizal Mang yang nangkring di posisi kedua dengan suara sekitar 35, 79%.
Hal inilah yang membuat secara spontanitas
beberapa pendukung paslon nomor 4 sudah memasang spanduk ucapan selamat atas kemenangan paslon nomor 4. Yang akhirnya memancing keributan, konvoi massa, hingga demonstrasi di depan KPU Banggai oleh pendukung paslon yang kalah, terutama dari paslon nomor 3 Ma'mun Amir-Faizal Mang.
Sejak tanggal 6 April hingga 9 April, saling klaim kemenangan memang sudah menghinggapi pendukung dari paslon nomor 3 maupun nomor 4. Peristiwa terbesar berangkali yang terjadi hari Sabtu tanggal 9/4/2011. Diawali oleh konvoi dan arak-arakan massa yang mengatasnamakan simpatisan Lembaga dan Masyarakat Adat Banggai, berakhir dengan konsentrasi massa sambil berorasi di depan Kantor KPU Banggai. Ternyata, kelompok massa ini ialah simpatisan
paslon nomor 3 (Ma'mun Amir-Faizal Mang). Di sana terlihat Koordinator Barisan Pendukung Ma'mun (BPM) saudara Mahtar Sangkota atau yang sering dipanggil Tarang. Sambil berorasi secara bergantian, para pendukung paslon nomor 3 dengan bungkusan pawai adat, menyatakan keberatan atas sikap KPU Banggai, Panwaslukada, serta Kepolisian yang mereka anggap tidak netral. Mereka juga mempersoalkan ketidak tegasan KPU dan Panwaslukada yang tidak
bertindak menurunkan spanduk ucapan selamat bagi paslon nomor 4, padahal perhitungan resmi dari KPU belum keluar. Mereka juga mempertanyakan independensi kehadiran Kapolda Sulteng Brigjen Dewa Parsana di Luwuk. Serta mempertanyakan keberadaan 4 kontainer di depan KPU yang dijadikan tempat menyimpan kertas suara yang masuk dari segala TPS.
Merasa tidak puas dengan sikap KPU, massa ini kemudian beralih ke depan Mapolres Banggai untuk berorasi pula. Setelah itu, mereka berbalik lagi menuju ke dalam kota Luwuk untuk berhenti di depan Posko Utama BPM di Kelurahan Karaton, Luwuk. Namun, karena mereka mendengar isu bahwa Murad Husein yang juga Dirut PT KLS beserta menantunya Herwin Yatim akan ke Makassar hari itu, maka sebahagian massa paslon nomor 3 yang berjumlah
ratusan orang bergerak cepat ke Bandara Bubung Luwuk. Di sana, mereka mengepung lokasi Bandara, serta mencari figur Murad Husein dan Herwin Yatim. Suasana chaos tidak dapat dihindari lagi di Bandara, massa yang sudah marah dan kalap mencari kedua sosok orang tersebut. Murad Husein mereka yang bersembunyi di dalam WC mereka temukan. Lantas terjadilah pengeroyokan dan pemukulan terhadap Bos KLS itu. Sedangkan Herwin Yatim berhasil lolos dari
kejaran massa, dan disembunyikan oleh petugas Bandara. Akibat kekacauan tanggal 9 April itu, maka Polda Sulteng kembali menghadirkan bantuan Brimob dari Poso dan Ampana.
Sayang sekali, pawai adat yang digelar hari Sabtu kemarin itu justru mengkerucut kepada politik pecah belah masyarakat dengan isu sentimen kedaerahan. Pawai adat yang digagas oleh barisan BPM dan Lembaga Adat Banggai itu kemudian mengangkat isu penzaliman terhadap etnis lokal Babasal (Banggai, Balantak, Saluan). Dan menganggap bahwa paslon nomor 4 Sofian Mile
dan Herwin Yatim lebih bernuansa penduduk migran atau pendatang. Bahwa Sofian MIle ada darah Gorontalonya dari pihak ayahnya walaupun ibunya sendiri dari etnis Saluan. Sedangkan Herwin Yatim mencerminkan migran Bugis dan Makassar plus Toraja dan Kendari (Murad Husein orang Toraja dan Istrinya orang Kendari). Politik bias massa ini kemudian menjadi politik chaoisme bernuansa etnisitas yang berpotensi menjadi konflik horizontal di masyarakat.
*Politik Investasi Pasca Pilkada*
Namun, banyak orang menduga, bahwa siapapun yang menang di PIlkada kali ini, apakah paslon nomor 3 ataupun paslon nomor 4, maka itun pertarungan dua gurita bisnis lokal, Nyiur Mas Group di sisi Ma'mun Amir, serta KLS Group di sisi Herwin Yatim. Lebih menarik lagi, melihat relasi politik dan bsinis di sisi Sofian Mile. Banyak pihak sudah meperkirakan bahwa Sofian Mile yang
maju sebagai kandidat Bupati berpasangan dengan Herwin Yatim, menggunakan Golkar sebagai mesin politik. Sebab, secara historis, Sofian memang mantan anggota DPR RI dapil Sulteng dari Fraksi Golkar. Karena itu, dalam Pilkada kali ini, sumber terdekat dengan Sofian menyatakan bahwa Ketua Umum Golkar Abu Rizal Bakrie (Ichal) mati-matian mendukung semua hal untuk Sofian, termasuk sebagai donatur utama bagi sosok Sofian. Sedangkan Herwin Yatim tetap mengandalkan donasi mertuanya, Murad Husein dari KLS.
Salah satu sektor investasi yang mungkin menjadi bidikan kedua Paslon tersebut ialah perkebunan sawit. Pihak Murad Husein yang memotori mantunya di ajang Pilkada untuk kali kedua ini, telah memiliki luasan perkebunan sawit lebih dari 4000 Ha. Bahkan sudah memiliki kilang pengolahan CPO tersendiri, yang hingga tahun 2008 silam memungkinkan dirinya menjadi pemain tunggal sawit di Banggai. Namun, sejak pertengahan tahun 2008, monopoli sawit milik KLS mulai terusik oleh kehadiran Kencana Group dari Jakarta. Yang memperoleh izin lokasi dari Bupati Banggai, Ma'mun Amir, untuk dua lokasi perkebunan. Masing-masing 12000 Ha di Kecamatan Batui dengan bendera Sawindo Cemerlang (anak usaha Kencana Group), serta 17.500 Ha di Kecamatan Bualemo (juga anak usaha Kencana Group). Ternyata, izin lokasi yang
dikeluarkan oleh Ma'mun Amir sebagai Bupati itu, merupakan konspirasi bisnis klan Amir bersama Nyiur Mas Group, milik Upik Sugianto.
Jika, pada kahirnya memang Paslon nomor 4 (Sofian Mile - Herwin Yatim) memenangi Pilkada pasca penetapa pleno KPU Banggai, maka gerbong bisnis sawit akan berubah arah. Andai benar bahwa kedua izin lokasi yang dikeluarkan oleh Bupati terhadap Kencana Group itu belum memiliki asas legalitas seperti HGU, Izin Perkebunan, dan Izin Pinjam Pakai Kawasan serta Izin Pelepasan Kawasan dari Menhut RI, maka dipastikan bahwa izin lokasi dari Bupati dapat digugurkan atau diambil alih kapan saja untuk dikembalikan ke daerah. Artinya, ada dua kemungkinan gerbong investasi sawit ke depan di Banggai. Pertama, jika izin lokasi itu dapat ditarik ke daerah, maka Sofian Mile Bupati dapat mengalihkannya ke perusahaan lain, dengan terlebih dahulu
melakukan legalitas untuk berbagai aspeknya. Jika benar kelompok Bakrie menjadi salah satu donatur Sofian di Pilkada, maka bisa jadi kompensasi awalnya bagi keluarga Ichal adalah pengalihan izin lokasi Kencana Group yang sudah ditarik daerah ke perusahaan perkebunan milik keluarga Ichal, Bakrie Plantation. Dan untuk mengganti segala kerugian material yang sudah
dikeluarkan oleh Kencana Group selama ini, bukanlah perkara sulit bagi keluarga Ichal lewat Bakrie Brothers Group. Atau juga, bisa jadi kolaborasi bisnis sawit antara KLS dan Bakrie Brothers di eks lahan Kencana Group tersebut.
Di sektor usaha lainnya, di dataran Toili yang membentang di tiga wilayah kecamatan, sejak tahun 2009 silam eforia tambang emas sudah bermunculan. Yang dikelola secara massal dan sporadis oleh para penambang lokal dan pendatang dari eks lokasi tambang lainnya yang ada di berbagai daerah. PIhak DPRD pada bulan Februari tahun ini telah melegalkan pertambangan massal itu dengan PERDA TAMBANG RAKYAT. Mungkinkah, lahan bisnis ini juga akan dilirik
oleh Bakrie Brothers Group sebagai kompensasi atas dukungan mereka terhadap Sofian? Apalagi, mereka juga punya unit usaha yang bergerak di sektor pertambangan seperti Kaltim Prima Cola (KPC) yang ada di Kaltim sana.
Bagaimana dengan nasib rakyat dan kehidupan mereka ke depan? Masih banyak tanda tanya berkeliaran di ruang hampa di Kabupaten Banggai pasca Pilkada. Termasuk masa depan usulan pencanangan arela kerja hutan desa di Toiba Kecamatan Bualemo yang digagas oleh masyarakat Toiba dengan mediasi YMP. Walaupun di Desa Toiba sendiri, Sofian dan Herwin menang. Serta
kecenderungan soal penetapan tapal-batas Kabupaten Banggai dengan Tojo Una-Una, yang pada saat Bupati Ma'mun Amir menjadikan Desa Uemea sebagai batas terakhir Banggai di dataran Toili berbatasan dengan dataran Bulang. Plus, masa depan pembahasan draf RTRWK Banggai yang masih mandek di tangan BAPPEDA. Mungkinkah soal-soal ini akan terjawab mengiktui kecenderungan blok politik dan bisnis pasca Pilkada Banggai?
|