| 8 Orang Tewas dan 40 HiIang Ribuan Warga Morowali Terisolasi akibat Banjir dan Longsor |
|
|
|
|
Kompas (24/7) Palu- Banjir yang melanda Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, semakin parah. Jika Minggu lalu hanya 11 desa di Kecamatan Bungku Utara yang terendam air, sejak Senin (23/7) dini hari air semakin meluas dan sudah merendam 18 desa di Kecamatan Mamosalata, Soyo Jaya, dan Petasia. Banjir yang disertai tanah longsor di sejumlah daerah itu mengakibatkan delapan warga tewas dan 40 orang hilang. Delapan warga tewas akibat tertimbun tanah longsor di Desa Ueruru, Kecamatan Bungku Utara. Empat dari korban yang tewas sudah dievakuasi, sedangkan empat lainnya masih tertimbun material longsor. "Kami sedang mengidentifikasi nama-nama mereka. Tapi, aparat Desa Ueruru sudah memastikan delapan warga tewas," kata Bupati Morowali Datlin Tamalagi yang dihubungi dari Palu. Butuh helikopter Transportasi darat menuju Ke¬camatan Bungku Utara dan Ma¬mosalata terputus akibat ambruknya dua buah jembatan yang menghubungkan kecamatan itu dengan kecamatan lainnya. Juga, hampir seluruh permukaan jalan menuju dua kecamatan itu ter¬genang air setinggi 2-3 meter. Sungai Solato dan Sungai Bongka yang mengapit Bungku Utara dan Mamosalata tidak dapat diseberangi karena arus airnya deras akibat hujan terus-menerus se¬lama beberapa hari terakhir. Alternatif lain menuju Bungku Utara dan Mamosalata adalah menggunakan transportasi laut. Namun, sejak sepekan terakhir tidak ada kapal yang berani berangkat ke Bungku Utara dan Mamosalata karena ketinggian ombak mencapai 4 meter . “Tim SAR dari Brigade Mobil juga batal ke sana karena dilarang oleh syahbandar," kata Datlin. Satu-satunya cara untuk menyalurkan bantuan ataupun mengevakuasi warga Bungku Utara dan Mamosalata, tambah Datlin, adalah dengan helikopter. Dia mengharapkan pemerintah pusat segera mengirim bantuan helikopter. Hamzah Ping, warga Desa Tokala Atas, Bungku Utara, menga¬takan, dari 134 keluarga di desa itu hanya 6 keluarga yang tidak mengungsi karena berada di ketinggian. Persediaan makanan hanya dimiliki enam keluarga itu, sedangkan semua persediaan ma¬kanan warga yang mengungsi sudah terendam air. "Bahan makanan kami hanya cukup sampai besok," kata Hamzah. Banjir di Morowali selalu berulang setiap tahun sejak tahun 1995. Namun, sampai saat ini belum ada upaya serius dari Pemkab Morowali ataupun Pemprov Sulteng untuk mengantisipasi, termasuk menangani perusakan hutan di wilayah itu. Related Items: |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|





