Wajah Suram Di Tubuh APBN  Tanggal 19 Juli 2007, ribuan Guru dari pulau Jawa dan Bali yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), berunjuk-rasa di gedung DPR-RI di Senayan. Ribuan Guru tersebut datang untuk menemui Komisi IX yang membidani masalah pendidikan. Kedatangan mereka menemui para anggota DPR untuk menyampaikan sejumlah aspirasi, seperti tuntutan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% di dalam APBN, dan perbaikan kesejahteraan Guru. |
|
 Pendidikan kita masih sangat mahal, belum bisa dijangkau oleh rakyat miskin, seperti Hasnah, yang kedua orangtuanya hanya buruh-upahan di kota Palu. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan Ibunya bekerja sebagai Tukang Cuci. Pendapatan yang diperoleh kedua orangtuanya sejauh ini hanya mampu membiayai abangnya bersekolah di salah satu SLTP di kota ini. Padahal, tahun ini, Hasnah genap berusia 7 tahun, usia yang pantas untuk masuk jenjang Sekolah Dasar. Tapi apa hendak dikata, kondisi ekonomi keluarga yang membuat dirinya hanya menatap pasrah anak-anak seusianya pergi mendaftar ke sekolah ditemani orang tua masing-masing. |
|
 Mansour Fakih, aktivis lembaga swadaya masyarakat yang juga praktisi pendidikan nasional, sebelum meninggal dunia, bersama kawan-kawannya di INSIST pernah menggagas apa yang disebut dengan “Pendidikan Popular”. Muatan pendidikan popular adalah pendidikan kritis, dengan titik berat pada pengembangan daya kesadaran dini dan kritikal anak dalam merespon situasi di sekitarnya. Pendidikan tidak mengasa kognitif dan afektif semata, tapi juga wajib merangsang stimuno kritikal pada diri seseorang, kata Mansour suatu ketika dulu. |
|
|
Oleh : Abdul Ghofur
“Kak, ayo mandi di sungai” ajak Toi kepada fasilitator. Toi adalah salah satu dari sekian anak yang sedang belajar di Sekolah Lipu. Sudah hampir satu tahun, anak semata wayang Bumbu atau biasa dipanggil Apa Ntoi ini ikut belajar baca, tulis , hitung bersama anak-anak lain yang seumuran dengan dia. Hampir setiap hari dia mengeja kata-kata, terkadang menghitung batu-batu yang berada di sekitar sungai yang tidak terlalu jauh dari “Lipu” atau pemukiman penduduk. Mulai pagi hari sampai sang mentari tenggelam di ufuk barat, anak-anak yang berumur antara 7 – 14 tahun itu mengisi hari-harinya.
|
|
|
Pendidikan (Kita) Tanpa Kebudayaan
Setiap tahun kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, Hari Guru, dan Hari Anak, tapi semua hanya berlalu sebagai seremonial belaka. Tidak satupun nilai dan teladan yang bisa dipetik dari berbagai peringatan tersebut. |
|
|
|
<< Start < Prev 11 Next > End >>
|
| Results 91 - 96 of 96 |