Apa boleh buat, kali ini saya terpaksa berceloteh tentang kemiskinan lagi. Bukan karena saya mencintai kemiskinan, atau benci pada orang-orang miskin. Tidak sama sekali! Ini karena pemerintah kita kembali mereproduksi kemiskinan massal lewat mekanisme pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Padahal rupa-rupa cara dari santun sampai anarkis sudah rakyat lakukan agar harga BBM tidak dinaikkan, tapi SBY-JK tetap tak hirau. Pemimpin pilihan rakyat itu, tetap nekat mencabut subsidi BBM. Alasannya, APBN harus diselamatkan, titik. |
|
|
Nasution Camang Alangkah indahnya angka-angka BPS ini: Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 mencapai 5,6 persen. Di 2006, meskipun trendnya turun tapi masih bisa tumbuh 5,5 persen. Lantas tahun 2007, naik cukup lumayan, 6,32 persen. |
|
|
Entah kerasukan mahluk apa, tiba-tiba saja penguasa negeri ini meneken Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan. Isinya: memberikan tarif sewa hutan lindung dan hutan produksi sebesar Rp 1,2 juta – Rp 3 juta perhektar pertahun. Kalau dasar hitungannya meter persegi, ya jatuhnya Rp 120 – Rp 300 per m2 per tahun. |
|
Oleh: Karlina Supelli Apakah yang kita rayakan kala tahun kalender berganti? Tak seorang pun bisa melepas masa silam. Bahkan saat Paus Gregorius XIII mengubah perhitungan kalender hingga dalam semalam orang melesat dari tanggal 4 ke 15 Oktober 1582, tak sepotong waktu pun tercuri. Di tengah kegaduhan menyiapkan pesta, mungkin kita juga minta peramal membaca tanda- tanda peristiwa yang akan datang. Apakah tanda itu berisi harapan atau kematian, tidak lagi relevan. Yang utama ialah mengulang ritual gaduh akhir tahun. Mungkin inilah cara kita melupakan barisan kelalaian yang berlarian meninggalkan korban berceceran di seluruh negeri. Indonesia ialah sebuah kisah tentang alpa. |
|
|
KEMARIN rakyat miskin disibukkan antri untuk menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah sebagai kompensasi dari kenaikan BBM. Sekarang antrian terlihat lagi namun, bukan untuk menerima bantuan tetapi untuk mendapatkan dua liter minyak tanah Bahkan ada warga yang pulang dengan jerigen yang kosong karena tak kebagian.
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
| Results 10 - 14 of 14 |