Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Celoteh arrow Merdekakah Kita?
Merdekakah Kita? PDF Print E-mail
ImageEnam puluh tiga tahun lalu, Soekarno, didampingi Moh. Hatta, membacakan secarik naskah proklamasi  di  hadapan  ribuan  massa  rakyat  yang tumplek di depan kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur 56. Suaranya berat dan lantang. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoea-saan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta”. Ketika masih menjadi anak sekolah dulu, guru sejarah saya mengajarkan, peristiwa yang berlangsung pagi hari tepat jam 10.00 wib itu, adalah momentum kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia. Artinya, negara Indonesia tak lagi dijajah oleh kolonial. Bangsa Indonesia telah berdaulat atas negerinya.
Selama hampir separuh umur yang saya miliki, saya gunakan untuk meyakini ucapan sang guru sejarah. Karena memang buku sejarah yang jadi acuan belajar menceritakan, para kolonialis sudah hengkang. Lari tunggang langgang diusir pahlawan bangsa. Belakangan saya menjadi ragu sendiri, benarkah Indonesia sudah merdeka ?
Keraguan saya menjadi kegundahan ketika menyaksikan hampir seluruh televisi negeri ini menayangkan peristiwa memilukan, 31 Oktober 1997. Kala itu, Presi-den Soeharto dengan wajah miris meneken semacam akad perjanjian bernama Letter of Intent (LoI). Di hadap-annya, berdiri Camdessus, direktur sebuah lembaga internasional yang disebut IMF. Wajahnya terkesan po-ngah. Dalam hati tentu dia bersorak sorai, menyaksikan sang bapak pembangunan akhirnya bersetuju menyerahkan negeri ini dikelola oleh mahluk bernama “pasar dan modal”. Dan mahluk ini justeru hanya dikuasai oleh sekelompok kecil pengusaha yang mengklaim diri sebagai rezim “kapitalisme global”, nun jauh di negeri barat.  
Barangkali kegundahan itu tidak terlalu menyakitkan jika saja para ahli ekonomi politik tidak memberitahu saya lewat koran-koran, bahwa peristiwa penekenan LoI itu adalah awal dari sebuah penjajahan jilid tiga. Benar kata Aristoteles, “merasa sama dengan menderita, mengetahui sama dengan menyakitkan”.
Bagaimana tidak menyakitkan kalau kita jadi tahu bahwa ternyata logika kapitalisme global itu tidak menghendaki semua hal yang bersifat sosial dan pembelaan terhadap orang kaum miskin, kaum marginal.  Semua hal harus diatur dan ditentukan oleh individu, kekuatan pasar, dan modal. Celakanya, mahluk bernama “pasar dan modal” adalah monster liar yang tak terkendali. Untuk mengembangkan modal, tak perlu menghiraukan moral. Begitu prinsip kerjanya. Lebih celaka lagi, elit-elit pemimpin negeri ini, justeru dijadikan mandor pengembangan modal yang tak hirau moral itu.
Beginilah hasil cara kerja rezim kapitalisme global yang menggunakan pemimpin negeri ini sebagai bandor kerjanya: Jual atau kuasakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada pengusaha asing. Lantas buatlah aturan yang bisa membuat mereka nyaman menguasai dunia usaha kita. Misalnya, berikan kemudahan pajak, atur tarif buruh agar murah, lalu perketat keamanan agar mereka merasa aman.
Tidak itu saja, berikan mereka keleluasaan untuk mengkapling dan menguasai tanah, air dan hutan negeri ini. Biarkan mereka menguras kekayaan alam sebanyak-banyaknya. Kalau toh terjadi bencana karena itu, ada Tuhan yang bisa dikambing hitamkan. Toh rakyat negeri ini akan diam jika sudah menjual nama Tuhan.
Agar iklim usaha mereka di negeri ini semakin terjamin, cabut segala subsidi ekonomi bagi rakyatnya. Cabut subsidi BBM, pupuk, listrik dan lain-lainnya kepada rakyat. Biarkan kekuatan pasar yang mengaturnya. Kalau pencabutan subsidi membuat rakyat negeri ini miskin, carilah utang untuk menanggulanginya. Pasti banyak yang mau memberi. Bukankah negeri sangat patuh membayar utangnya. Mereka pasti percaya.
Masihkah kita merasa merdeka, jika warisan kekayaan negeri ini sudah dikuasai kekuatan asing ? Masihkah kita merasa merdeka jika anak bangsa ini tidak bisa menikmati kekayaan negerinya? Masihkah kita merasa merdeka jika anak bangsa ini diperintah oleh para makelar atau mandor kekuatan asing ? Masihkah kita merasa merdeka jika anak bangsa ini diperintah oleh perampok-perampok yang menggerogoti ibu pertiwi ? Masihkah kita merasa merdeka jika perempuan negeri mengandung anak bangsa yang sudah harus menanggung hutang sejak masih dalam kandungan ? Masihkah kita merasa merdeka…?
Saya terlalu lelah untuk menjawab. Hanya kata-kata Bung Karno yang tiba-tiba terlintas. “Tantangan yang saya hadapi jauh lebih mudah dari kalian. Saya hanya menghadapi para penjajah dari bangsa asing. Tetapi kalian akan menghadapi penjajah dari bangsa sendiri.” Rupanya, kita masih harus memerdekakan kemerdekaan ini.** (tion camang)
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 18 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22