Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Celoteh arrow Kuasa Pangan
Kuasa Pangan PDF Print E-mail
Oleh Nasution Camang
Orang Indonesia boleh bilang, cinta itu dari mata turun ke hati. Tapi bule Inggris punya pepatah lain: “The way to a man’s heart is through his stomach.” Jalan menuju hati (cinta) pria adalah melalui perutnya. Kalau dipikir-pikir, benar juga adanya. Ayo..! Siapa yang sanggup menjalin cinta jika perutnya keroncongan? Bahkan Napoleon Bonaparte, si tukang perang itu mengakui, “kekuatan pasukanku ada di perutnya,” katanya.
Wajar saja jika Litinov Maxim (1876-1951) lantas menulis, “food is weapon”. Makanan adalah senjata.

Pernyataan diplomat Rusia ini, mungkin hasil bacaanya tentang sejarah negerinya, pada September 1812. Ketika itu, Jenderal Katusov mempimpin pasukan Rusia membakar Kota Moskwa, sembari
mundur perlahan setelah Napoleon me-nguasai kota itu. Tapi begitu pasukan Napoleon mulai kehabisan logistik, Katusof menyerang. Dan Napoleon pun jadi pecundang. Dari 650.000 orang pasukannya, yang tersisa hanya 27.000 orang. Kebanyakan mati lapar dan kedinginan.

Pasukan Amerika lain lagi, karena kewalahan menghadapi tentara Jepang, mereka gunakanlah herbisida untuk menghancurkan panen beras di wilayah yang dudukan Jepang. Harapannya, semoga si Jepang mati kelaparan. Hal sama dilakukan pada tentara Vietkong di tahun 1962-1971. Herbisida ditebar di hutan tropis Vietnam, akibatnya tanaman sumber pangan serta hutan tempat persembunyian tentara Vietkong bablas..

Maka benarlah hasil studi Anthony Oberschall dan Michael Seidman. Kedua peneliti berkebangsaan Amerika ini menyimpulkan, “dalam suatu perang,jumlah pasukan yang besar atau senjata yang canggih tidak ada artinya jika dibanding dengan penguasaan
bahan pangan. Malah, Dr. Rima Laibow dari Natural Solutions Foundation mengatakan, “…mereka yang menguasai makanan akan menguasai dunia…” paparnya dalam pertemuan National Association
of Nutrition Professional (NANP) 2005 silam.

Tapi lebih kurang 45 tahun sebelumnya, Wakil Presiden AS, Hubert Humphrey, memang sudah bikin pernyataan yang menghebohkan, “… jika Anda mencari jalan agar bangsa-bangsa tergantung pada Anda, maka ketergantungan panganlah yang
merupakan cara paling tepat”. Nah, silahkan tengok, selain punya angkatan perang kuat dengan peralatan perang canggih, Amerika Serikat sesungguhnya sekaligus lumbung pangan dunia. Setiap tahun, 20 persen surplus hasil pangannya, seperti gandum, jagung dan kedelai, di ekspor ke luar negeri.

“Lantas, bagaimana dengan Indonesia?” Tanyaku kepa-da Ibu Pertiwi. Tapi Ibu Pertiwi hanya diam. Raut mukanya kelihatan muram. Sebuah senyum yang dipaksakan tak bisa menyembunyikan kesedihan dari matanya yang nampak berkaca-kaca. “Bagaimana
dengan Indonesia?” Tanyaku mengulang. Lagi-lagi, Ibu Pertiwi hanya diam sembari menundukkan wajah. Akhirnya, Aku pun tak lagi memaksa bertanya.

Aku bisa maklum, beban perasaan yang ditanggungnya selama ini, bakal kian menyesak dadanya jika berkata jujur, bahwa kondisi
persenjataan kita terlampau buruk. Jangankan dengan Amerika, dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand saja kita kalah. Kondisi Persenjataan kita hanya sedikit lebih baik dari Laos dan Kamboja. ImageAku bisa memahami mengapa Ibu Pertiwi hanya
diam. Mungkin itu lebih baik untuk menghindari gundah gulana yang kian menumpuk jika berterus terang, bahwa negeri agraris ini, justeru diprediksi bakal mengalami krisis pangan pada tahun 2017.

Menurut kalkulasi, dibutuhkan tak kurang dari 15 juta hektare lahan pertanian untuk menyelamatkan kita dari ancaman krisis pangan itu. Tapi bisakah itu dipenuhi jika anak negeri yang
punya kuasa lebih doyan mengkonversi lahan pertanian yang sudah ada menjadi perkebunan sawit, jalan tol dan bangunan mewah? Jika pemerintah selalu gagal mencegah kehancuran sawah petani dari bencana alam? Jika cadangan lahan yang tersedia sudah digadaikan kepada perusahaan tambang dan HPH? Jika proyek impor pangan lebih disukai, karena di sana tersedia sejumlah rupiah untuk dikorupsi ?

Kali ini, Ibu Pertiwi tak lagi menyembunyikan kesedihannya.
Sedih, karena kedaulatan pangan yang diimpikan, terlampau sulit terwujud. Sedih, karena anak bangsa ini ibarat “anak ayam yang mati kelaparan dilumbung padi”. Sedih karena tahu bahwa
bangsa besar ini telah kehilangan kedaulatan pangan. Dan sebuah negara yang tak punya kedaulatan pangan, sesungguhnya adalah negeri lemah dan mudah dikendalikan, untuk tidak menyebutnya
sebagai negeri yang tak punya kedaulatan sebagai
bangsa dan negara merdeka.*** (Tion Camang)
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 21 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22