Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home arrow Opini arrow Solusi Krisis Pangan Yang Dilematis
Solusi Krisis Pangan Yang Dilematis PDF Print E-mail
Pencegahan krisis pangan dengan cara yang tidak bijak dapat menimbulkan konsekuensi lain seperti kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia pada bibit unggul. FAO 1988 menyatakan kerusakan sumber daya lahan, kerusakan irigasi disebabkan oleh salinisasi dan degradasi kesuburan tanah disebabkan oleh penggunaan pestisida dan pupuk buatan yang tidak terkontrol. 43 persen  wilayah Afrika, 32 persen  Asia, 19 persen  Amerika Latin potensial menjadi daerah yang tandus.
Di negara-negara besar sistem pertanian tradisional yang berlangsung dan bertahan selama berabad-abad dalam hal kemampuanya untuk mempertahankan tingkat produksi yang stabil dan terus-menerus. Namun demikian sistem tersebut mengalami perubahan yang begitu cepat selama dan semenjak jaman penjajahan, pengenalan pendidikan dan teknologi asing dibidang pertanian, tekanan jumlah penduduk yang semakin meingkat, perubahan dalam lingkungan sosial politik dan penggabungan dalam suatu sistem pasar internasional yang dikuasai secara eksternal. Pada mulanya sistem bertanam berorientasi subsistem telah berkembang menjadi sistem berorientasi pasar.
Sebagai respon terhadap pengaruh asing dan kebutuhan yang semakin besar karena peningkatan jumlah penduduk maka sistem pertanian daerah tropis cenderung berubah kesalah satu dari dua keadaan ekstrim yakni penggunaan input luar secara besar-besaran atau HEIA (high eksternal input agriculture) dan pemanfaatan sumber daya lokal yang mengurangi atau bahkan tidak menggunakan input luar sama sekali atau LEIA (low ekternal input agriculture).
HEIA dengan bendera revolusi hijau sangat tergantung pada input kimia buatan (pupuk, pestisida), benih hibrida, mekanisasi dengan memanfaatkan bahan bakar minyak dan juga irigasi. Sistem pertanian ini mengkonsumsi sumber-sumber yang tidak dapat diperbaharui, seperti minyak bumi dan fosfat dalam tingkat yang membahayakan. Sistem ini menyebabkan kergantungan daerah pada pasokan peralatan, benih, serta input lainya dari luar daerahnya sudah sangat tinggi mengkhawatirkan seperti petani yang resah saat harga pestisida dan pupuk naik. Mengenai dampak baik buruknya sistem ini telah berperan dalam peningkatan produksi dan indeks pertanian dengan bibit-bibit unggulnya namun disisi lain ia juga berpengaruh negatif pada ekosisitem lingkungan hidup. Reijntjes et el., (1999) melaporkan beberapa hal negatif yang terjadi akibat penerapan HEIA antara lain : (1) kebutuhan tanaman budidaya akan pestisida meningkatkan pencemaran air, tanah dan udara. Keracunan pestisida disebagian besar penduduk dunia ketiga,hama menjadi lebih kebal, dapat menularkan racun pada rantai makanan. (2) efisiensi pupuk buatan terbukti rendah, yakni sekitar 40-50 % Nitrogen hilang jika diberikan dilahan kering dan 60-70 % hilang pada padi sawah. Pada kondisi kurang mendukung (curah hujan tinggi, musim kemarau panjang, erosi tinggi,kandungan bahan organik rendah), maka efisiensi akan rendah lagi; pupuk buatan bisa menggangu kehidupan dan keseimbangan tanah, aplikasi yang tidak seimbang dari pupuk mineral nitrogen menyebabkan pengasaman dan dan menurunkan pH tanah serta ketersediaan fosfor bagi tanaman.; penggunaan pupuk buatan NPK yang terus menerus menyebabkan penipisan unsur-unsur hara mikro; sumber daya (khususnya fosfat) untuk produksi semakin tampak keterbatasannya, ditingkat usaha tani, hal ini berarti akan meningkat harga pupuk dan akan menyulitkan petani; meningkatkan resiko global melalui pelepasan Nitrogen Oksida pada Atmosfir dan lapisan atasnya. Pada lapisan Statosfer, Nitrogean Oksida akan menipiskan lapisan ozon,meningkatkan suhu global (efek rumah kaca) dan mengganggu kestabilan iklim, (3) Varietas unggul (Hibrida) dapat memberikan hasil yang tinggi jika dipupuk (hara), pengairan dan pengendalian hama/penyakit yang memadai, namun jika kondisi sperti itu tidak dapat dipenuhi, maka resiko kerugian hasil panen akan menjadi tinggi dibanding dengan varietas lokal.(4) harga-harga mesin dan input lain meningkat dengan tajam dibandingkan dengan harga-harga hasil, sehingga tidak menguntungkan petani.
    Penerapan pertanian dengan input rendah (LEIA) juga membawa dampak yang berbahaya karena terjadi pengolahan lahan diluar batas kemampuannya. Dampak negatif tersebut antara lain: (1) pengundulan hutan atau  hilangnya vegetasi pelindung(sistem terbuka) akibat desakan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat, (2) meningkatkan Degradasi tanah ( erosi tanah dan menurunnya kandungan unsur hara, (3) peningkatan kerentanan terhadap serangan hama dan penyakit, (4) disintegrasi ekonomi, sosial dan budaya.
    Dari dampak-dampak negatif yang terjadi memberikan indikasi bahwa penerapan HEIA dan LEIA, keduanya tidak dapat memberikan harapan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan bahkan sebaliknya ekologi semakin rusak, produksi cenderung menurun dan kehidupan petani terasa semakin sulit. Untuk itu perlu terus dipikirkan tentang “Pertanian Alternatif”  dengan teknologi yang dapat lebih memberikan jaminan terhadap berkelenjutan sistem.
    Pertanian alternatif berkisar dari pertanian organik yang sama sekali tidak menggunakan masukkan kimia (prodiksi pabrik) sampai teknologi yang masih mengizinkan sedikit bahan kimia dari luar lahan usaha tani. Disinilah tantangan para ilmuan dan pemerintah bagaimana dapat membangun kemitraan yang baik dalam rangka menciptakan teknologi pertanian tepat guna dan ramah lingkungan. Sekali lagi hal ini tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan dua unsur diatas, ilmuan mungkin dapat menjalankan penelitianya menggunakan sumber dana yang lain selain dari pemerintah, namun mereka tidak dapat mengaplikasikan jika pemerintah tidak mendukung. Sangat disayangkan jika hasil penemuan para ilmuan hanya berhenti dirak-rak perpustakaan karena tidak ditindak lanjuti.

Sumber: Makalah Ir. Abd. Rahim Thaha, MP, Staff pengajar di Prodi Ilmu Tanah Faperta Untad dan Koord. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia – Wilayah Sulawesi Tengah.

 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 8 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22