Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Salam arrow Laskar Pelangi :“Ironi Dunia Pendidikan di Indonesia”
Laskar Pelangi :“Ironi Dunia Pendidikan di Indonesia” PDF Print E-mail
ImageLaskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini mengisahkan cerita  tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong sebuah pulau di propinsi Bangka Belitung yang penuh dengan keterbatasan. "Laskar Pelangi" ternyata kemudian tidak terhenti sampai disitu saja melainkan berkembang menjadi rangkaian empat karya tetralogi yaitu "Laskar Pelangi", "Sang Pemimpi", "Edensor", dan " Maryamah Karpov", dimana karya-karya berikutnya merupakan pendalaman kisah figur-figur yang ada sebelumnya dalam "Laskar Pelangi".

Novel ini bercerita tentang dimensi kehidupan yang multi kompleks khususnya menyangkut dunia pendidikan . Ketajaman dan kepekaan dalam menangkap momen-momen kehidupan para tokohnya, sejak kanak-kanak remaja hingga dewasa,  Andrea Hirata telah melahirkan sebuah karya yang mampu memberi pencerahan kepada kita semua yang sedang asyik bergelut dengan modernitas dan globalisasi dan melupakan jutaan orang lainnya yang masih berada dalam jerat kemiskinan.

Tak heran bila kemudian buku ini berkembang jauh melampaui harapan penulisnya, saat ini laskar pelangi tidak hanya menjadi bacaan sastra semata, namun juga telah menjadi referensi ilmiah. Novel ini banyak dirujuk untuk penulisan skripsi, tesis, makalah dan telah diseminarkan oleh birokrat untuk menyusun rekomendasi kebijakan bidang pendidikan.

Potret Buram Pendidikan

Dalam novel ini kita banyak disuguhi kisah-kisah seputar masalah-masalah pendidikan yang relatif  hampir terjadi diseluruh pelosok negeri ini, bagaimana pendidikan masih menjadi barang mewah yang begitu sulit dijangkau oleh kalangan masyarakat bawah. meski demikian menjadi sangat menarik dan menyentuh perasaan pembaca, karena kemampuan sang penulis menguraikan secara gamblang dengan sentuhan humanisme.

Lintang salah satu tokoh dalam buku ini yang harus bersepeda setiap harinya  sejauh 40 km untuk bisa sampai kesekolah meski hanya untuk menyanyikan lagu padamu negeri,  bisa mewakili realitas sosial dari jutaan anak-anak di indonesia yang putus sekolah. Meskipun ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata,  namun karena kondisi kemiskinan yang melingkupi keluarganya , ia mesti rela tidak meneruskan sekolah dan harus menjadi kuli kopra untuk membantu ekonomi keluarganya.
Andrea Hirata juga menggambarkan bagaimana kondisi fisik sekolah dasar mereka yang penuh dengan keterbatasan, sehingga sulit untuk mengatakan layak sebagai ruang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Seperti ungkapannya dalam salah satu bagian bukunya
" Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada barang berharga yang layak dicuri, satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang bergantung miring di dekat lonceng. Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku”.

Tentu saja, cerita gedung sekolah yang hampir ambruk, ketiadaan fasilitas, dan gaji guru yang amat rendah bukan hal baru di negeri ini, namun membaca novel ini akan  menyentak kesadaran kita akan timpangnya dunia pendidikan. Pasalnya, di kota-kota besar di Indonesia , kita tak jarang menemukan kenyataan  sebaliknya. Sekolah- sekolah mahal berkelas internasional dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang super mewah dimana hampir semua fasilitas ada. Tak cuma gedung yang bagus, megah dan mentereng, tapi program belajar mengajarnya juga sudah sangat maju dan modern.

Aspek lain dunia pendidikan yang juga diungkap sang penulis adalah tentang dedikasi, loyalitas dan profesionalisme yang tinggi dari dua orang guru di sekolah Muhammadiyah tersebut yaitu Ibu N.A. Muslimah Hafsari dan Bapak K.A. Harfan Effendy Noor. Kedua figur ini adalah sosok guru yang benar-benar bertahan dalam keterbatasan bahkan ketiadaan sarana, mereka adalah guru yang memberi hati dan hidup mereka untuk kecerdasan anak didiknya. Dua tokoh ini layak menjadi panutan bagi para pendidik dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan yang sebenarnya sehingga melahirkan generasi yang cerdas dan dan berahlak.

Ketimpangan sosial

Bagi para aktifis pekerja sosial Novel ini menjadi lebih menarik sebab mengungkap fenomena kehidupan yang tidak kalah pentingnya, bagaimana kehadiran sebuah perusahaan pertambangan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, bahkan sebaliknya kian memiskinkan. Kondisi yang sangat kontradiktif digambarkan sang penulis dimana PN. Timah yang memiliki lisensi tunggal tanpa batas untuk mengeksplorasi timah di daerah itu tidak memberi sedikitpun manfaat sosial untuk masyarakat disekitarnya. Buku ini juga mengungkapkan betapa arogansi dan angkuhnya individu yang berada di lingkungan PT. Timah dengan mengeluarkan kebijakan membentengi diri dengan membangun tembok pembatas untuk hunian orang staff PN Timah dari masyarakat setempat. Ini seperti mewakili gambaran umum dari operasi pertambangan oleh perusahaan besar yang juga terjadi di belahan lain negeri ini.

Sikap pemerintah yang mengutamakan kepentingan industry dan perusahaan ketimbang kehidupan rakyatnya juga terungkap dengan jelas disalah satu bagian bukunya," Pemerintah pusat yang rutin menerima royalti dan deviden miliaran rupiah tiba-tiba seperti tak pernah mengenal pulau kecil ini. Mereka memalingkan muka ketika rakyat Belitong menjerit menuntut ketidakadilan kompensasi atas PHK massal. Habis manis sepah dibuang. Jargon persatuan dan kesatuan menjadi sepi ketika ayam petelur telah menjadi mandul. Pulau Belitong yang dulu biru berkilauan laksana jutaan ubur-ubur Ctenopore redup laksana kapal hantu yang terapung-apung tak tentu arah, gelap, dan sendirian".

Visualisasi yang digambarkan sang penulis semestinya bisa menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah dan perusahaan-perusahaan sebelum dan saat eksplorasi pertambangan. Dimana operasi pertambangan saat ini makin memiskinkan rakyat lokal.

Penutup

Membaca novel Laskar Pelangi seperti mendapatkan pencerahan jiwa, sisi-sisi kemanusiaan yang banyak diungkap sang penulisnya  akan memberi banyak sumber inspirasi bagi kita bagaimana menjalani kehidupan. Membukakan mata dan hati kita akan realitas kehidupan sebagian besar penduduk di negeri ini.

Laskar Pelangi adalah  ironi dunia pendidikan di Indonesia, ironi dari kekayaan alam yang tak jua memakmurkan rakyatnya. Buku ini sangat perlu dibaca oleh para aktifis yang gigih  mendampingi berbagai permasalahan masyarakat, novel ini mestinya juga wajib dibaca oleh para pendidik, apalagi pemerintah yang selalu alpa pada kewajibannya. Yang kemudian menjadikan kita sebagai bangsa yang mudah didikte bangsa lain. Selamat membaca. (edhy&kiki)
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 22 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22