Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Celoteh arrow Percaya Tuhan dan Mereka
Percaya Tuhan dan Mereka PDF Print E-mail
Gerbang tahun 2009 baru saja terbuka. Tapi Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) negeri ini sudah bikin kabar buruk.Katanya alam negeri ini akan ngambek untuk beberapa bulan ke depan. Laut, darat, dan udara bakal uring-uringan. Laut akan mempertontonkan gelombangnya setinggi dua hingga enam meter. Angin bakal memamerkan tiupannya yang kencang. Cuaca dan hujan akan memperlihatkan wajah buruknya. Dengan kabar buruk itu, BMG sesungguhnya mau bilang: “Wahai rakyat Indonesia, siap-siaplah menghadapi bencana”.  Paling tidak, begitu yang terjadi sepanjang 2008. Amukan gelombang, angin topan, dan cuaca buruk telah menimbulkan bencana. Kecelakaan laut, darat dan udara  kian membanyak. Banjir, tanah longsor dan kekeringan, datang silih berganti. Korban jiwa dan kerugian materiil pun tak terhindarkan. Kebanyakan dari mereka, jika tidak dapat disebut semua, adalah rakyat kecil. Lantas pejabat ?

Di koran-koran dan televisi, mereka terlihat santai walau memperlihatkan raut wajah prihatin. Beberapa diantara mereka kemudian membuat pernyataan yang mengkambing hitamkan Tuhan. Bahwa bencana itu adalah cobaan Tuhan. Bahwa kita mesti sabar menerima cobaan Tuhan. Padahal dalam Islam, Tuhan sendiri bilang: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (dari) akibat perbuatan mereka, agar mereka sadar.” (QS. Ar-Ruum: 41).

Nah, siapa yang mesti dipercaya, Tuhan atau Mereka? Wallahu a’alam. Tapi mungkin karena bantahan dari Tuhan ini, sehingga sejumlah pejabat tak lagi seenaknya mencari kambing hitam. Buktinya, ketika banjir di Morowali dan beberapa tempat lainnya di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, elit politik dan pejabat  di daerah ini mulai mengkambing hitamkan “hujan deras”.

Dalam logika anak Sekolah Dasar (SD), memang masuk akal. Banjir selalu disebabkan oleh hujan deras. Tapi untuk pakar lingkungan, itu pernyataan nyeleneh! Mengapa? Karena dalam penelitian mereka, badai gelombang, badai angin, hujan deras dan panas menyengat yang semakin tak menentu dan mengakibatkan banjir, tanah longsor dan kekeringan ini sesungguhnya disebabkan oleh “global warming” (pemanasan bumi secara global). Dan penyebab utama global warming itu adalah pembukaan atau penebangan hutan secara tak terkendali atau berlebih-lebihan.

Celakanya, negeri kita mendapat gelar dari Buku Rekor Guinness 2008 sebagai penghancur hutan tercepat di Dunia. Karena menurut laporan Badan Pangan Dunia (FAO), Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap hari. Ini setara dengan hancurnya 300 lapangan sepak bola setiap jam. Dan khusus untuk Sulawesi Tengah, pengrusakan hutan telah mencapai 9 kali lapangan sepak bola per jam. Pengrusakan ini kemungkinan besar bakal menjadi-jadi, karena para pemimpinan daerah ini masih sangat doyan mengobral hutan kepada pengusaha pembalakan dan pertambangan.

Kalau rakyat protes, mereka dengan geram bilang, “Ini untuk kepentingan ekonomi daerah!” Padahal, beredar gosip bahwa tanda tangan seorang pejabat berwenang untuk satu izin kuasa pertambangan, senilai Rp 200 juta. Bayangkan kalau ada puluhan hingga ratusan izin yang diteken. Berapa duit yang masuk ke kantong pribadi sang pejabat?! Tapi sekali lagi,  ini hanya gosip, boleh percaya boleh tidak! Masalahnya, untuk percaya bahwa izin pertambangan dan pembalakan itu demi kepentingan daerah, juga repot.

Tak ada ukuran jelas berapa banyak manfaat ekonomi yang bisa dirasakan oleh daerah dan masyarakat setempat. Kalau hitung-hitungan kerugiannya sudah jelas. Dibutuhkan dana sebesar Rp 440 trilyun untuk merehabilitasi 55 juta hektar hutan Indonesia yang telah rusak. Dan rehabilitasi itu perlu waktu sekitar 25 tahun. Begitu pernyataan langsung Menteri Kehutanan, MS Ka’ban, beberapa waktu lalu di koran-koran. Ini tentu saja belum termasuk ratusan ribu hektar calon hutan yang akan rusak akibat izin pembalakan dan pertambangan baru itu.

Lantas, kalau rakyat tetap ngotot protes, mereka pun ngotot bilang  “ini untuk kepentingan ekonomi daerah!” Teriaknya menekan. Saya jadi teringat firman Allah swt., dalam surah Al Baqarah: “Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, Mereka menjawab, Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (ayat 11). “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (ayat 12). Jadi siapa yang mesti dipercaya, Tuhan atau Mereka ? *  
(Tion Camang)
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 23 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22