| Jembatan Lobu Semakin Terlantar |
|
|
|
|
Bangsa Indonesia sepertinya tidak pandai merawat aset sejarahnya. Seperti nasib jembatan kayu Lobu, di usianya yang semakin renta dan reok saat ini, perhatian dari pemerintah tak kunjung datang. Jembatan kayu yang selesai dibangun tahun 1942 itu, semakin tidak terawat. Sebahagian seng penutup atapnya sudah lapuk dan terbuka, bahkan beberapa lembar sudah ada yang copot karena diterpa angin kencang Desember silam. Beberapa papan lantai jembatan sudah diganti oleh penduduk setempat. Karena lapuk oleh tetesan air yang jatuh dari atap, serta beban berat kenderaan yang melintas setiap hari. Ujung barat jembatan ini pun kini mulai goyang dan terancam putus. Padahal, pada jembatan kayu itu tersimpan kenangan sejarah perkembangan masyarakat dan wilayah di sepanjang Sungai Lobu itu. Menurut cerita dan kesaksian yang dihimpun dari penduduk setempat, jembatan kayu itu dibangun sejak tahun 1940. Dan baru rampung serta resmi digunakan oleh kolonial Belanda pada tahun 1942. Buktinya bisa dilihat pada monumen kecil di ujung timur jembatan yang bertuliskan angka tahun 1942. Dari cerita-cerita itu pula, diketahui bahwa desainernya adalah orang Belanda, serta mandornya berasal dari Manado. Di sebelah utara jembatan, masih bisa dijumpai sumur tua, tempat para pekerja dan mandor mengambil air untuk diminum dan memasak. Seluruh pekerja berasal dari kampung-kampung terdekat. Seluruh bahan baku jembatan yang terbuat dari kayu, bersumber dari hutan tropis di hulu Sungai Lobu. “Waktu itu, hutan di hulu masih lebat dan terjaga, banyak cadangan kayu tropis yang berkualitas, sehingga mudah dapat bahan baku kayu”, ujar Pak Jarhan dari Desa Lobu. Jembatan itu pula, pernah dilalui oleh konvoi Laskar Merah Putih (LMP) Lobu menuju Bunta, untuk menjembut Komandan Laskar Merah Putih dari Gorontalo, Nani Wartabone. Setelah bergabung dengan laskar pejuang kemerdekaan LMP, pimpinan Nani Wartabone, tahun 1943 di tepi pantai Lobu, masyarakat dari sepanjang Sungai Lobu mengibarkan bendera Merah Putih. “Jadi, kami di wilayah Sungai Lobu lebih duluan mengibarkan bendera Merah Putih dibandingkan orang Jakarta”, ujar Andong, pemuda dari Bolobungkang. Itulah sejumput nilai historis yang bersentuhan langsung dengan keberadaan jembatan kayu itu. Sudah berkali – kali masyarakat dari beberapa desa di aliran Sungai Lobu mengadukan hal tersebut kapada Pemkab Banggai. Tapi, sejauh ini belum ada respon dan tindakan nyata. Menurut Pak Djamaris Daipatimu dari Desa Kadodi, dulu pernah ada survei kelayakan pembangunan jembatan besi oleh tim dari pemerintah kabupaten dan propinsi. Katanya, waktu itu sempat disinggung nilai pembangunan jembatan besi direncanakan sebesar 11 milyar rupiah. Namun, hingga jembatan bersejarah itu hampir rontok, belum ada realisasi sama sekali. Bahkan sejumlah pemuda dari Lobu dan Bolobungkang pernah menyambangi Dinas Pariwisata dan Budaya Banggai, di Luwuk. Maksudnya ingin meminta pihak Dinas Pariwisata dan Budaya, agar jembatan Lobu dapat diusulkan sebagai warisan budaya dan sejarah (cultural herritage) ke tingkat nasional. Agar ada tindakan perlindungan nyata dari sana. Kalau jembatan itu bisa diterima sebagai warisan sejarah dan budaya nasional, pasti ada langkah kongkrit penyelamatannya. Pertengahan tahun 90-an, pernah datang cucu dari desainer Belanda tersebut. Dia datang ke Lobu hanya untuk melihat apakah jembatan itu masih ada. Kedatangan cucu sang desainer itu dilatarbelakangi oleh penemuan catatan harian kakeknya, yang masih utuh tersimpan di Amsterdam, Belanda. Dalam catatan harian tersebut, Sang Kakek menyebut tentang jembatan kayu yang terletak di atas Sungai Lobu. Menghubungkan wilayah Pagimana ke Bunta. Setelah berkeliling di beberapa tempat di Sulawesi, akhirnya si cucu menemukan jembatan yang dimaksud oleh kakeknya. Ketika YMP berdialog dengan masyarakat setempat terkait nasib jembatan itu, muncul sejumlah kekhawatiran. Selain faktor usia dan beban kenderaan, ancaman terbesar yang kini mengintai jembatan Lobu, adalah rencana eksploitasi hutan besar-besaran oleh salah satu perusahaan IUPHHK. Areal penebangan nantinya tepat di hulu Sungai Lobu, yang akan dikerjakan mulai tahun 2010 hingga 2012, sesuai Peta Rencana Kerja Lima Tahunan (RKL), milik perusahaan. Tanpa eksploitasi hutanpun, kalau hujan deras, air sungai bisa meluap hingga lantai jembatan, ujar salah seorang penduduk. Untuk memperlambat kerusakan jembatan, masyarakat di sekitar jembatan membatasi jenis kenderaan yang bisa melintasi jembatan. Kenderaan besar dan berat seperti bis antar propinsi, dan truck angkutan, harus lewat sungai. Namun, ketika banjir, dan air sungai meluap, terpaksa seluruh kenderaan berbagai jenis harus melintas lagi di jembatan tersebut. Termasuk kenderaan besar dan berat, tidak punya pilihan selain melintasi jembatan renta itu. Selain usia yang renta dan kurangnya perhatian pemerintah, kini rencana penebangan hutan di hulu sungai menjadi ancaman baru bagi keberadaan jembatan bernilai sejarah itu. Kini, selain menahan beban pengguna jalan, jembatan ini pun merangkap jadi media kampanye Calon Legeslatif (caleg). Tepat di ujung jembatan sebelah barat jembatan, telah banyak ditemui tempelan stiker kampanye para caleg. Semoga peran musimanya ini dapat membuat jembatan Lobu bisa lebih diperhatikan. [Magfira Binaba, Raden MH, Azmi Sirajuddin] |
| Salam |
| Aspirasi |
| Fokus |
| Ulasan |
| Rujukan |
| Opini |
| Arus Bawah |
| Celoteh |
| Kontak Esilo |
| Pekarangan |