Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Celoteh arrow Politik Angka-angka
Politik Angka-angka PDF Print E-mail
oleh: Nasution Camang
Dalam hiruk-pikuk kampanye Pemilu 2009, berlakulah defenisi ini: Politik adalah melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan. Dan alatnya adalah statistik. Seperti juga di berbagai media massa, iklan politik Partai Demokrat di Kompas edisi 29 Januari 2009 umpamanya, memperkuat asumsi ini. “Berjuang untuk Rakyat,” begitu tagline yang tertera di bagian atas di bawah logo dan nomor urut partai. Di sebelahnya, gambar SBY sedang melambaikan tangan kanannya. Di bagian bawah, rupa-rupa angka statistik dieksploitasi untuk memperkuat brand image partai. Misalnya, “69 % rakyat puas atas kinerja pemerintahan SBY.” Data yang bersumber dari LSI itu, tidak mencantumkan JK.  Lantas lebih ke bawah lagi, tertera sejumlah data statistik tentang apa yang turun dan yang naik dalam masa pemerintahan SBY sejak tahun 2004 hingga 2008.
Yang turun, masing-masing: BBM turun 3 kali; Pengangguran berkurang dari 9,9 % menjadi 8,5 %; Kemiskinan turun dari 16,7 % menjadi 15,4 %; Rasio hutang dengan PDB turun dari 56 % menjadi 34 %; Angkutan umum turun 10 %; Tarif Listrik untuk industri turun 8 %.
Yang naik,  masing-masing: Pertumbuhan ekonomi, di atas 6 % pertahun; cadangan devisa naik hingga US$ 51 milyar; Anggaran program pro rakyat naik 3 kali lipat dari Rp 19 trilyun menjadi Rp 58 trilyun; Anggaran pendidikan naik menjadi 20 % dari APBN. Gaji guru naik menjadi Rp 2 juta; Anggaran kesehatan naik menjadi Rp 16 trilyun; Lebih dari 500 pejabat publik diproses secara hukum; Pengasilan rakyat meningkat 18 %.
Sebagai alat politik, ternyata statistik cukup ampuh menjadi “candu” yang membius rakyat. Survey nasional Reform Institute mengungkap, sebanyak 28,33 % responden kesengsem pada iklan politik Partai Demokrat. Angka tertinggi dibanding partai lain, bahkan mampu mengalahkan Gerindra yang hanya 26,66 %, Golkar 9,75 % dan PKS 6 %.
Sejumlah cerdik cendekia, kontan menjadi sewot. Apa pasal? Karena politik angka-angka sajian Partai Demokrat itu, dianggap melakukan pembodohan dan tidak jujur pada realitas sosial yang sesungguhnya. Rupanya, PDIP sebagai partai oposisi pun ikut sewot. Maka pada koran yang sama di edisi yang sama (Kompas, 29 Januari 2009), iklan politik pun dipublis sebagai counter.
Dalam iklan politik tiga perempat halaman itu, tagline-nya menegaskan bahwa, “Rakyat Berhak Harga BBM Lebih Murah Lagi.” Penurunan harga BBM sebanyak 3 kali bukan prestasi pemerintah, tapi hasil otomatis dari akibat turunnya minyak dunia. Menariknya, PDIP juga menggunakan “statistik” sebagai “senjata politik” untuk menunjukkan sejumlah kegagalan utama pemerintahan SBY.
Pertama, BBM masih mahal, padahal minyak dunia sudah turun 70 % atau US$ 40, hampir sama dengan harga minyak dunia tahun 2004 (US$ 36,05). Jadi seharusnya BBM juga turun mendekati 70 % atau mendekati harga premium 2004 sebesar Rp 1.995 per liter. Tapi faktanya hanya turun 25 % atau Rp 4.500,-
Kedua, sembako semakin tak terjangkau dan kesenjangan ekonomi makin melebar. Gini ratio-nya dari 0,32 (2004) menjadi 0,36 (2007), dan diprediksi bertambah buruk lagi tahun 2008.
Ketiga, pemerintahan SBY gagal memenuhi target menurunkan kemiskinan dan pengangguran sesuai janjinya di Peraturan Presiden RI No. 07/2005. Jumlah kemiskinan saat ini 15,4 % (34,96 juta jiwa), padahal SBY berjanji menurunkan hingga 8,2 % (18,19 juta jiwa tahun 2009). Lantas jumlah pengangguran saat ini mencapai 8,5 % (9,34 juta jiwa), meleset jauh dari janji untuk menurunkan pengangguran hingga 5,1 % atau 5,65 juta jiwa pada tahun 2009.
Kita yang awam dengan urusan statistik, tentu saja menjadi bingung. Mana yang benar dari dua versi angka-angka yang kelihatan sama ilmiahnya itu? Ketimbang berlama-lama bingung, lebih baik saya gunakan kesimpulannya Disraely Benyamin. Sang novelis plus negarawan Inggeris itu, pernah bilang, “Ada tiga macam kebohongan: kebohongan biasa, kebohongan terkutuk dan kebohongan statistik.” Kesimpulan ini diamini Mark Twain.
Jadi, di tangan politisi, statistik adalah alat untuk mengilmiahkan ketidakjujuran pada realitas sosial. Atau alat ilmiah untuk menutup-nutupi kenyataan yang sesungguhnya. Tion Camang
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 21 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22