Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Rujukan arrow Membongkar Mitos Pertambangan
Membongkar Mitos Pertambangan PDF Print E-mail
Jika kita membuka kamus, maka kita akan mendapatkan berbagai definisi tentang pertambangan. Namun amat sedikit dari definisi tersebut yang mendekati makna empirik dari kegiatan pertambangan. Untuk itu saya akan memberikan definisi menurut apa yang saya temui dan lihat dengan mata kepala saya sendiri. Definisi ini saya simpulkan dari hasil perjalanan saya ke beberapa daerah pertambangan di Indonesia dan beberapa negara.
Definisi Tambang
1.    Pertambangan adalah kegiatan untuk mendapatkan logam dan mineral dengan cara hancurkan gunung, hutan, sungai, laut dan penduduk kampung.  
2.    Pertambangan adalah kegiatan paling merusak alam dan kehidupan sosial yang dimiliki orang kaya dan hanya menguntungan orang kaya.
3.    Pertambangan adalah lubang besar yang menganga dan digali oleh para pembohong (Mark Twian)
4.    Pertambangan adalah industri yang banyak mitos dan kebohongan  

Ada beberapa fase yang harus dilalui oleh perusahaan sebelum melakukan eksploitasi. Saat proses tersebut di lalui oleh perusaan, maka saat itu pula beredar mitos-mitos pertambangan di masyarakat.
Pada kesempatan ini saya ingin menggambarkan mitos-mitos dan fakta-fakta dari pertambangan.

Mitos-Mitos Pertambangan
1.    Pertambangan adalah industri padat modal dan risiko tinggi
2.    Pertambangan adalah industri yang menyejahterakan rakyat
3.    Pertambangan adalah penyumbang devisa negara yang besar
4.    Pertambangan adalah industri yang banyak menyediakan lapangan kerja
5.    Pertambangan adalah industri yang bertanggungjawab

Fakta-Fakta Pertambangan:
1. Tahapan Penyelidikan Umum
•    Lahirkan Pro dan  Kontra yang memicu benih perpecahan di masyarakat
•    Beredar janji-jani 'surga' seperti masyarakat akan sejahtera, jalan di perbakiki, listrik terang benderang, menjadi kota ramai dll, sehingga gaya hidup masyarakat mulai berubah
•    Beredar informasi yang simpang siur dan membingungkan

2. Tahapan Eksplorasi
•    Konflik antar pemilik kepentingan mulai terbuka. Pada posisi ini biasanya Pemerintah mulai menujukan keberpihakan pada perusahaan.
•    Informasi yang semakin simpang siur semakin meresahan masayatakat.
•    Bujuk rayu, intimidasi, hingga teror dan ancaman makin meningkat

3. Tahapan Eksploitasi
•    Dimulainya Penghancuran gunung, hutan, sungai dan laut.
•    Dimulainya proses pembuangan limbah Tailing yang akan meracuni sumber air dan pangan.
•    Dimulainya kerja-kerja akademisi dan konsultan bayaran untuk membuktikan bahwa tidak ada pencemaran
•    Meningkatnya konflik antar masyarakat dan masyarakat dengan pejabat negara
•    Penguasaan sumberdaya alam, pencemaran lingkungan dan proses pemiskinan
•    Meningkatnya pelanggaran Hak Asasi Manusia, kasus korupsi dan suap
•    Meningkatnya kasus asusila karena akan terbukanya fasilitasi judi dan tempat prostitusi
•    Limbah Tailing dan Batuan akan menjadi masalah dari hulu hingga hilir.

4. Tahapan Tutup Tambang
•    Makin terpuruknya ekonomi lokal dan menigkatnya jumlah pengangguran
•    Terbatasnya waktu pantauan kualitas lingkungan
•    Terbentuknya danau-danau asam dan beracun yang akan terus ada dalam jangka waktu yang panjang
•    Tidak pulihnya ekosistem yang dirusak oleh perusahaan tambangan
•    APBD banyak terkuras untuk menutupi protes rakyat sementara perusahaan telah pergi meninggalkan berbagai masalah.

Adapun yang perlu diwaspadai jika konsep pengelolaan menggunakan konsep Tambang Rakyat adalah:
1.    Tambang Rakyat selalu menjadi jalan masuk untuk tambang skala besar
2.    Tambang Rakyat berpotensi menjadi daerah tak bertuan
3.    Tambang Rakyat mengundang konflik horizontal
4.    Tambang Rakyat mengundang keterlibatan cukong, pedagang merkuri, pedagang emas dan aparat

Penutup
1.    Belum ada satu pertambangan pun di Indonesia dan Dunia yang terbukti menyejahterakan penduduk lokal, sebaliknya banyak bukti pertambangan justeru  menyengsarakan rakyat
2.    Belum ada bukti pertambangan ramah terhadap lingkungan, sebaliknya semua tambang terbukti merusak lingkungan
3.    Belum ada bukti bahwa perusahaan tambang menepati janji-janji manisnya, sebaliknya justru banyak bukti bahwa mereka mengingkarinya.
4.    Belum ada bukti setelah cadangan emas habis, penduduk lokal menjadi sejahtera. Sebaliknya banyak bukti mereka akan ditinggalkan dalam kemiskinan yang lebih parah dari sebulumnya

(Sumber: makalah Chalid Muhammad, ketua Institut Hijau Indonesia; Badan Pendukung Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) disampaikan dalam workshop pengelolaan tambang Poboya)

 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 26 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22