Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Saturday
May 19th
Home arrow Opini arrow Euforia Emas Poboya
Euforia Emas Poboya PDF Print E-mail
ImageSaat ini Poboya memang menjadi pusat perhatian hampir seluruh masyarakat di lembah Palu. Jika sebelumnya nama Poboya belum terlalu dikenal oleh masyarakat kota ini, maka sekarang Poboya hampir menjadi topik pembicaraan disetiap sudut kota. Tak hanya sebatas buah bibir, euforia Poboya juga mampu menyedot banyak orang dari berbagai latar belakang dan asal usul daerah untuk datang mengadu nasib ke wilayah ini. Pos retribusi di pintu masuk yang dikelolah Dewan Adat saja sudah berhasil memungut sekitar 150 juta rupiah.
Dari hasil pemantauan media ini, aktifitas di areal pertambangan dapat dibagi dalam beberapa bagian, diantaranya para penambang yang beraktifitas di lubang galian, penyedia jasa angkat karung batu menggunakan tenaga manusia, penyedia jasa angkut karung menggunakan tali dan katrol, penyedia jasa angkutan karung ke kampung serta para pedagang.
Para penambang yang umumnya berasal dari luar Poboya, bekerja selama 12 sampai 24 jam, di dalam lubang galian. Satu lubang galian biasanya dikerjakan oleh 3 hingga 5 orang. Dalam sehari biasanya satu lubang bisa menghasilkan 100 karung batu, seperti yang diungkapkan Pendi, penambang asal Hulondalo, Gorontalo.
“Satu lobang bisa sampe 100 karung, dalam satu hari,” ujar pemuda yang datang bersama semua anggota keluarganya ini. Meski belum ada angka pasti, menurut para penambang saat ini sudah terdapat ratusan lubang galian yang beroperasi mengitari bukit penambangan.
Umumnya para penambang ini membangun tenda disekitar aliran sungai. Selain dijadikan tempat beristirahat, tenda ini juga berfungsi sebagai tempat mereka bermalam. Bahkan ada penambang yang tinggal ditenda tersebut bersama seluruh anggota keluarganya.
Sayangnya pola hidup yang tidak memperhatikan kebersihan, menjadikan lingkungan disekitar tenda dipenuhi dengan sampah. Sanitasi yang buruk juga dikhawatirkan akan mencemari air sungai yang dikonsumsi oleh warga Poboya.
Tak mau kalah dengan penambang, para penyedia jasa angkat karung tenaga manusia juga sibuk, naik turun bukit. Dengan upah 10.000 rupiah per karung, mereka pun rela menuruni bukit terjal mengangkat karung berisi batu.
Dari pengamatan media ini, sedikitnya 50 orang penyedia jasa angkat karung, beroperasi setiap harinya. Para pekerja ini adalah orang Da’a yang tersebar di kecamatan Maravola. Mereka adalah salah satu dari 27 sub etnik Kaili, suku asli yang mendiami daerah pegunungan yang mengitari lembah Palu.
Sebagian dari mereka sebelumnya bekerja sebagai pengangkat barang di Pasar Tradisional Inpres Manonda. “Kita dulu bekerja di Inpres, tapi di sini lebih bagus, pendapatanya bisa 400.000 satu hari, tergantung tenaga,” tutur Yoji, pemuda asal Desa Dombu.
Selain para penambang yang beraktifitas di dalam lubang galian, para pengangkut karung inilah yang sangat rentan terhadap keselamatan kerja. Saat media ini meninjau langsung aktifitas pertambangan, salah seorang dari pengangkut batu ini tergelincir dari ketinggian sekitar 20 meter di lereng bukit saat sedang mengangkat batu.
Seakan telah menjadi pemandangan lazim, semua orang yang beraktifitas saat itu hanya melayangkan pandangan kemudian melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Sungguh pemandangan yang menggugah rasa kemanusiaan.
Kesibukan lain datang dari penyedia angkutan karung menuju kampung, tempat pengolahan batu di tromol. Beragam jenis mobil, hilir mudik mengangkut puluhan bahkan ratusan karung batu menuju kampung Poboya.
Dengan bayaran 15.000 perkarung, mobil-mobil ini pun rela mengantri menunggu muatan. Mulai dari Truck, hingga mobil sekelas Toyota Kijang pun siap mengantri.
Hal yang sama juga terjadi di tenda-tenda pedagang. Meski harus menempuh jarak sekitar 3 kilo meter menuju areal pertambangan, para pedagang ini tetap bersemangat membawa barang dagangan mereka. Saat ini tercatat sedikitnya 20 tenda pedagang telah terbangun disekitar areal pertambangan.
Barang dagangan pun berfariasi mulai dari aneka makanan dan minuman, sandal, sepatu, lampu/senter goa (Headlamp) hingga obat-obatan. Aroma gorengan dari pedagang dan dari tenda para penambang sudah berbaur menjadi satu, menyebar keseluruh areal pertambangan.  
Meski tenda dagangan ini dibangun serampangan, namun para penambang tak pernah berpikir akan layak dan tidaknya sebuah tempat penjualan. Asal kebutuhan sudah mendesak, tenda-tenda ini pun ramai dikerumuni.
Demam Poboya memang telah melanda warga kota Palu dan sekitarnya, namun amat disayangkan, kondisi ini tidak diikuti dengan perhatian penuh dari pemerintah. Hingga berita ini ditulis belum ada kepastian hukum mengenai aktifitas penambangan tersebut.
Tidak adanya lembaga resmi yang bertanggung jawab atas aktifitas tersebut menyulitkan pemerintah setempat untuk mengontrol dampak lingkungan dan bisa dipastikan kontribusi kedaerah pun tidak akan jelas. Padahal menurut Lurah Poboya, uang yang beredar di wilayahnya berkisar 1 Milyar lebih perharinya. [ojan]
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 27 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22