Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home
Teguh Menjaga Tradisi PDF Print E-mail
Masanang mo raya mami
Ri eyo kajela Pedati
Nempo ra sambote tasi
Aku ne’e kalingani

( bahagianya kami, disaat pedati  tiba, walau di seberang lautan, kami jangan dilupakan).
Demikian salah satu penggalan bait dari syair-syair tende bomba yang disenandungkan saat melepas kepergian kelompok pedati di Lipu (kampung) Sabado. Bait demi bait syair yang disenandungkan silih berganti oleh para tetua kampung,  menjadikan suasana pagi (4/11/2009) di Lipu yang asri itu menjadi penuh haru. Jabat tangan dan pelukan perpisahan mengiringi kepulangan tim pedati  setelah selama sepuluh hari menetap di Sabado, pedati yang merupakan kelompok pemerhati seni budaya tradisi, telah merampungkan  eksplorasi budaya tradisi dan musik etnik Tau Taa Wana, di salah satu unit pemukiman komunitas yang tengah memperjuangkan pengakuan atas budaya dan kearifan leluhurnya.
“Saya sangat bangga dengan masyarakat adat Tau Taa Wana , teruslah seperti ini, menjaga tradisi leluhur, menjaga hutan biar tetap lestari dan kita akan sama-sama berjuang agar Ranperda Propinsi Sulawesi Tengah tentang Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat Adat Tau Taa Wana segera menjadi PERDA” pesan Smit Lalove kepada masyarakat sabado dengan terbata-bata.
 Sabado adalah salah satu unit pemukiman kecil Tau Taa Wana yang terletak di pegunungan Tokala, berada di ketinggian 730 meter diatas permukaan laut. Kampung ini dihuni oleh 20 kepala keluarga, dimana komunitasnya sangat memegang teguh adat istiadat warisan leluhurnya, interaksi sosial dan pengelolaan sumberdaya alam dilakukan dengan prinsip-prinsip kearifan lokal yang memperlakukan hutan dan lingkungan sekitarnya dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.
Hal utama yang menarik perhatian kawan-kawan PEDATI adalah kesenian yang dimiliki oleh Taau Taa. kehidupan mereka seperti pujangga, terlihat dari kebiasaan dan kelihaian mereka dalam mengungkapkan sesuatunya dengan bersyair, tende bomba (ungkapan halus perasaan untuk seseorang), kayori (bermakna lebih dalam dan halus lagi dari tende bomba), mansibat/ngan-ngayu (pantun anak-anak) dan masih banyak lagi. “ Pun disini kami temukan beragam alat musik yang telah ada ratusan tahun lalu seperti gesso (dimainkan dengan cara gesek mirip biola), talali (alat music tiup serupa suling), tamburu (alat music dari mambu dimainkan dengan cara dipkul) dan lainnya,  yang sangat membuat saya bangga dan terharu adalah kehi-dupan mereka yang bersahaja dan bersahabat dengan alam” ungkap Ichi, vocalis Pedati dengan mata berbinar.
Tak terasa perjalanan tim susur budaya kelompok pedati selama sepuluh hari telah berakhir, dan mereka kembali membawa sejuta pengharapan Tau Taa. “Kami ingin orang lain menghargai kami, kami ingin diakui oleh pemerintah, kami ingin tinggal  selamanya di tanah kami” demikian kesan yang didapatkan selama di Sabado. gaya
 
Fokus Utama
Image Tambang rakyat pilihan sulit

“Saat petugas penertiban datang, banyak penambang yang lari. Saya tetap bertahan, kalau mau di tangkap, tangkap saja! Hidup terlalu susah.” Ungkapan sederhana dan lugas ini cukup menggambarkan posisi dilematis para penambang ilegal di Bangka Belitung.  Seorang ibu mengungkapkan pernyataanya itu dalam sebuah program tayangan di salah satu televisi swasta. Ibu itu mewakili para sekitar 6500 penambang Nikel di Bangka Belitung (Babel). Aktivitas mereka sering disebut PETI (Penambang Tanpa Izin).

Baca Lengkapnya...
 
Fokus
Apa itu REDD,? “Menanam satu pohon berarti menunda kiamat”, guyonan ini pernah dilontarkan oleh salah seorang aktifis mahasiswa pecinta alam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu, dalam sebuah perbincangan santai di Sekertariat mereka beberapa bulan lalu. “Meski Tuhan telah menetapkan kiamat akan dating esok hari, tetaplah menanam pohon hari ini”. Ucap pria yang akrab disapa Nejo itu disambut argumentasi ringan dari teman-temannya. Tak ada istilah REDD yang terucap kala itu, namun kalimat itu menjadi relevan menggambarkan tujuan REDD.
Salam
Menakar Posisi Masyarakat Adat dalam Skema REDD Lebih dari satu dekade isu pemanasan global selalu menjadi pembicaraan penting, tidak hanya dikalangan akademisi atau aktifis lingkungan hidup namun juga di tingkat pemimpin negara-negara, berbagai pertemuan pun telah digelar untuk menghasilkan kesepakatan global menyangkut upaya mengatasi pemanasan global.  kini isu pemanasan global kian menghangat setelah dampaknya mulai terasa dimana-mana, termasuk di Indonesia.
 
Pekarangan
Raperda Perlindungan Tau Taa Wana, Inisiatif Bijak BPRD Morowali Ini boleh jadi kabar gembira bagi Masyarakat Adat Tau Taa Wana di Kab. Morowali. Pasalnya, Badan Legislasi (Baleg) DPRD Kab. Morowali, bersetuju mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Tau Taa Wana Kabupaten Morowali melalui “hak inisiatif” yang dimilikinya. Persetujuan itu diputuskan dalam rapat internal Baleg, Selasa (4/5/2010) silam.
Opini
Kekayaan Taman Nasional dan Kemiskinan kaum Tani Oleh: Rizal Cadas
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990).
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Login E-Silo






Lupa Password?
Belum Punya Akun? Daftar

Pengunjung E-Silo

We have 23 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22