Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Wednesday
Sep 08th
Home
Perempuan Sabado: Merawat Alam untuk Kehidupan PDF Print E-mail
Tau Taa Wana yang menghuni kawasan hutan hujan tropis di dataran tinggi Sabadoyang secara administasi masuk kecamatan Mamosalato kabupaten Morowali, dalam kehidupan kesehariannya memanfaatkan tanah dan kekayaan alam ntana tau tua (wilayah adat) untuk mendukung keberlanjutan kehidupannya. Dengan aktifitas utama sebagai peladang, mereka mencukupi kebutuhan pangan dari usaha budidaya padi dan tanaman semusim di ladang (navu)  yang tersebar di sekitar pemukiman (lipu) dan belukar bekas ladang (yopo). Sedangkan untuk pemenuhan kehidupan ekonomi lainnya, mereka melakukan aktifitas meramu dan mengumpulkan hasil hutan non kayu seperti getah damar, gaharu, rotan, dan madu. Di waktu tertentu, untuk kebutuhan protein hewan aktifitas berburu satwa seperti babirusa, anoa dan burung serta menangkap ikan di sungai biasa dilakukan baik orang tua maupun anak muda.

Pemanfaatan Tata Guna Lahan
Di awali perbincangan lepas di Banua Bae (Balai Kampung) Lipu Sabado dengan kelompok perempuan tua (indo), lahir gagasan menarik dari  pernyataan Indo Ntuko (59 tahun) dalam bahasa setempat yang terjemahannya seperti ini, “ kami (perempuan) ini ada bukan hanya untuk melahirkan, tapi juga untuk mencari kebutuhan hidup bagi keluarga serta merawat alam untuk kepentingan orang banyak”. Dari pernyataan ini terlihat jelas posisi dan peran perempuan Taa tidak hanya sekedar urusan reproduksi tapi juga produksi bahkan untuk perlindungan kelangsungan pelayanan alam.  
Terilhami dari diskusi lepas tersebut, akhir Juli 2009 diinisiasi suatu diskusi terfokus dengan delapan partisi-pan perempuan Sabado  yang berusia 23–59 tahun dengan topik pemenuhan kebutuhan dari tata guna lahan.  Diskusi ini mengadopsi “Pebble Distribution Method”yang dikembangkan oleh CIFOR, yakni penetapan skor dengan metode distribusi kerikil, menggunakan jagung yang berjumlah 100 biji.  
Pertama, identifikasi unit lanskap atau tipe penggunaan lahan yang selama ini dipraktekan oleh orang Sabado.  Dari curah pendapat, terideintifikasi  ada tujuh tipe penggunaan lahan utama; 1] Hutan rimba (pangale), 2] hutan larangan (kapali), 3] hutan produksi (paplivu), 4] belukar bekas ladang lebih dari 10 tahun (yopo masia), 5] belukar bekas ladang kurang dari 10 tahun (yopo mangura), 6] ladang (navu) dan mukim (lipu).
Proses kedua, identifikasi kepentingan masyarakat lokal terkait kategori jenis kegunaan dari sumber daya alam.  Hasilnya, ada delapan kepentingan atau kategori kegunaan sebagai berikut ;1) energi, 2) obat-obatan, 3) makanan dan  sayur mayur, 4) protein hewani, 5) ba-ngunan dan perkakas rumah tangga, 6) peralatan musik, 7) bahan ritual adat, dan 8) rekreasi.
Selanjutnya, proses pemberian skor di mana masing-masing orang dipandu fasilitator akan menyebarkan biji-bijian pada matriks yang tersedia dimulai dari kategori jenis kegunaan pertama (seperti kepentingan untuk energi) dan diulang lagi untuk kategori kegunaan lainnya.
Dari pemberian skor ini, secara umum diperoleh informasi terkait kepentingan relatif dari tipe-tipe lahan me-nurut kegunaannya, sebagai berikut;1)Tipe penggunaan lahan yang penting bagi perempuan Sabado adalah belukar bekas ladang kurang dari 10 tahun (yopo mangura), kemudian secara berturut-turut belukar bekas ladang  lebih dari 10 tahun, ladang, hutan rimba, mukim, hutan produksi dan terakhir hutan larangan.  Sebagian besar sumber kayu bakar, bahan pangan seperti sayur mayur dan palawija, bahan untuk perlatan musik serta  tumbuhan obat-obatan berasal dari yopo mangura ini. Di samping akses perempuan ke lokasi tersebut cukup dekat dari mukim dan ladang.2)Belukar bekas ladang lebih dari 10 tahun (yopo masia), berkontribusi besar untuk kepentingan pemenuhan peralatan dan perkakas rumah tangga dan bahan ritual adat.3) Ladang bagi perempuan Sabado tidak hanya sumber bahan makanan pokok seperti padi dan jagung tapi juga berfungsi sebagai tempat rekreasi dan menghilang-kan kejenuhan  jika suasana mukim (lipu) kurang kondusif.4) Hutan rimba memiliki nilai penting untuk sumber protein hewani seperti anoa dan babirusa, sumber bahan ritual adat dan tumbuhan obat-obatan.

Harapan ke depan
Pada diskusi terfokus ini, Indo Erdin (36 tahun) berkomentar bahwa “hutan  itu penyedia kebutuhan yang penting bagi masyarakat bukan hanya sekarang tapi juga untuk anak cucu kita nantinya, olehnya itu, perlu di rawat sepenuh hati dan tegakkan sanksi adat bagi yang merusaknya” tegasnya.  Catatan lainnya dari peserta diskusi adalah perlu mendekatkan sumber bahan obat-obatan yang selama ini tersedia di hutan rimba dalam bentuk budidaya tanaman obat di sekitar pemukiman.  Di samping itu, harapan perempuan Sabado agar pengetahuan lokal terkait pemanfaatan sumber daya alam bisa ditransformasikan ke anak-anak baik melalui lingkungan keluarga maupun di sekolah lipu.
Penting menyimak pernyataan Kepala Kampung (tau tua lipu) Sabado, Apa Ntuko (66 tahun) pada akhir diskusi ini. Ucapnya, “Hutan tumbuh dari tanah, semua  berasal dari tanah. Jadi tanah harus dilindungi dan dipertahankan oleh orang Taa”.
Dari proses belajar bersama masyarakat adat Tau Taa menunjukkan bahwa perempuan Sabado memiliki akses dan kontrol yang sama dengan laki-laki dalam  pemanfaatan dan pengelolaan lahan hutan. amran t
 
Fokus Utama
Image FTA China - ASEAN Berkah atau Musibah Produk dari China memang terkenal dengan harga yang murah dengan kualitas yang tak kalah bagus dengan produk dalam negeri. Untuk pasar bebas 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur BEGITULAH opini yang beredar di masyarakat pada masa tahun 2000 sampai 2002.
Baca Lengkapnya...
 
Fokus
Kesiapan Pemerintah dan Pelaku Ekonomi Kerakyatan Ancaman Perdagangan Bebas (FTA)  ASEAN–China, sudah di depan mata. Tang-gal 1 Januari 2010 kesepakatan itu resmi diberlakukan. Indonesia sebagai bagian dari Negara ASEAN pasti akan menerima dampaknya baik positif maupun negatifnya.
Salam
Perdagangan Bebas dan Serbuan Produk Asing sejak 1 Januari 2010, Indonesia wajib membuka pasar dalam negeri secara luas untuk produk dari negara-negara ASEAN dan Cina. Sebaliknya, Indonesia pun akan diberikan  kesempatan lebih luas untuk memasukan produknya ke  pasar negara-negara tersebut.
 
Pekarangan
Image Mensinergikan Kerja-kerja HAM Region Sulawesi Sejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM) dari berbagai daerah di Sulawesi, sedang alot berdiskusi, merancang strategi, membagi kelompok dan tugas.  Usai berdiskusi, tim-tim yang telah terbentuk terlihat sibuk mempersiapkan berbagai peralatan untuk melakukan investigasi dalam kerangka monitoring kasus pelanggaran HAM, tak lama berselang dengan menggunakan tiga unit kendaraan roda empat, mereka  berangkat ke Salena yang berjarak sekitar tujuh kilometer arah barat kota Palu.
Opini
Komoditi Kelapa Dalam Terjun Bebas Logo Daerah di Sulawesi Tengah menggunakan simbol-simbol komoditi kelapa dalam/rakyat/lokalsebagai ikon pasti ada dasar historis dan misi tertentu. Layak disimak pula ada kontradiksi dengan makin terabaikannya komoditi ini dimana tertekannya petani kelapa oleh akses harga jual komoditi yang rendah, ketersediaan pupuk murah, informasi teknologi terbaru  terbatas, pengelolaan hasil yang manual/tenaga manusia dapat dikatakan cenderung tradisonal, keberpihakan kebijakan yang lamban.    
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Login E-Silo






Lupa Password?
Belum Punya Akun? Daftar

Pengunjung E-Silo

We have 1 guest online

Arsip E-Silo


Silo 22