Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home
Berbagi untuk Anak-anak Sekolah Lipu PDF Print E-mail
Image“Saya merasa sangat berbahagia bisa membantu mengumpulkan buku-buku bacaan untuk anak-anak di sekolah lipu,” ujar Novita, di tengah kesibukannya melayani para donator yang menyumbangkan buku. Novita dan lima temannya menjadi relawan kegiatan donasi buku untuk sekolah lipu yang diselenggarakan bersamaan dengan pementasan seni budaya dalam acara Apresiasi Budaya Tau Taa Wana 2009 tanggal 12 desember 2009.
  Kesibukan mereka telah dimulai beberapa hari sebelum malam pagelaran seni budaya dimana donasi buku diselenggarakan. Mereka menghubungi berbagai pihak yang dianggap mau menyumbangkan buku bacaan, baik keluarga, teman maupun lembaga-lembaga tertentu, selain menyampaikan secara lisan, mereka juga membagikan selebaran di tempat-tempat umum.
Kegiatan ini dilaksanakan mengingat betapa pentingnya buku bacaan bagi anak-anak, dengan membaca buku akan membuka pengetahuan, mengasah daya pikir,  imajinasi serta membentuk kepribadian yang luhur, apalagi anak anak komunitas Tau Taa Wana yang tinggal di pedalaman memiliki keterbatasan dalam mengakses buku bacaan.
Dan ternyata apresiasi dari masyarakat kota Palu sangat besar, beberapa orang datang memberikan sumbangan buku-buku bacaan, ada yang secara individu, adapula yang membawa nama organisasi dan sekolahnya.
Hingga beberapa hari setelah kegiatan donasi buku usai, masih ada saja pihak yang datang ke kantor Yayasan Merah Putih mengantarkan sumbangan buku-buku bacaan. Saat silo edisi ini ditulis, para relawan donasi buku sedang melaksanakan pencatatan buku, sortir dan pengepakan untuk didistribusikan ke perpustakaan lipu.
Sampai tulisan ini dibuat, telah terkumpul 623 eksemplar bahan bacaan yang terdiri dari majalah dewasa dan anak, komik, buku pengetahuan umum, serta buku pelajaran sekolah. Besarnya sumbangan ini menunjukan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan ini dan wujud dukungan untuk perpustakaan lipu sebagai pusat informasi dan pengetahuan bagi komunitas Tau Taa Wana.
Atas  nama Yayasan Merah Putih dan panitia donasi buku, kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan dan partisipasi kepada masyarakat kota Palu. Terutama pihak-pihak yang telah menyumbangkan bahan bacaan diantaranya, Persatuan Guru Seni Budaya Palu, Kedai Buku Nemu, mahasiswa STIMIK, pelajar SMK Swadaya Palu dan pihak lainnya yang turut berkontribusi atas kesuksesan acara ini.
Apresiasi yang tinggi juga kami berikan kepada seluruh kawan-kawan relawan yang telah bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati , semoga kegiatan dan kerjasama ini dapat kita lakukan secara berkesinambungan. Laporan lengkap dari pengumpulan buku dan distribusinya akan kami sampaikan kemudian. edy
 
Fokus Utama
Image Tambang rakyat pilihan sulit

“Saat petugas penertiban datang, banyak penambang yang lari. Saya tetap bertahan, kalau mau di tangkap, tangkap saja! Hidup terlalu susah.” Ungkapan sederhana dan lugas ini cukup menggambarkan posisi dilematis para penambang ilegal di Bangka Belitung.  Seorang ibu mengungkapkan pernyataanya itu dalam sebuah program tayangan di salah satu televisi swasta. Ibu itu mewakili para sekitar 6500 penambang Nikel di Bangka Belitung (Babel). Aktivitas mereka sering disebut PETI (Penambang Tanpa Izin).

Baca Lengkapnya...
 
Fokus
Apa itu REDD,? “Menanam satu pohon berarti menunda kiamat”, guyonan ini pernah dilontarkan oleh salah seorang aktifis mahasiswa pecinta alam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu, dalam sebuah perbincangan santai di Sekertariat mereka beberapa bulan lalu. “Meski Tuhan telah menetapkan kiamat akan dating esok hari, tetaplah menanam pohon hari ini”. Ucap pria yang akrab disapa Nejo itu disambut argumentasi ringan dari teman-temannya. Tak ada istilah REDD yang terucap kala itu, namun kalimat itu menjadi relevan menggambarkan tujuan REDD.
Salam
Menakar Posisi Masyarakat Adat dalam Skema REDD Lebih dari satu dekade isu pemanasan global selalu menjadi pembicaraan penting, tidak hanya dikalangan akademisi atau aktifis lingkungan hidup namun juga di tingkat pemimpin negara-negara, berbagai pertemuan pun telah digelar untuk menghasilkan kesepakatan global menyangkut upaya mengatasi pemanasan global.  kini isu pemanasan global kian menghangat setelah dampaknya mulai terasa dimana-mana, termasuk di Indonesia.
 
Pekarangan
Raperda Perlindungan Tau Taa Wana, Inisiatif Bijak BPRD Morowali Ini boleh jadi kabar gembira bagi Masyarakat Adat Tau Taa Wana di Kab. Morowali. Pasalnya, Badan Legislasi (Baleg) DPRD Kab. Morowali, bersetuju mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Tau Taa Wana Kabupaten Morowali melalui “hak inisiatif” yang dimilikinya. Persetujuan itu diputuskan dalam rapat internal Baleg, Selasa (4/5/2010) silam.
Opini
Kekayaan Taman Nasional dan Kemiskinan kaum Tani Oleh: Rizal Cadas
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990).
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Login E-Silo






Lupa Password?
Belum Punya Akun? Daftar

Pengunjung E-Silo

We have 7 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22