Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home
Mensinergikan Kerja-kerja HAM Region Sulawesi PDF Print E-mail
ImageSejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM) dari berbagai daerah di Sulawesi, sedang alot berdiskusi, merancang strategi, membagi kelompok dan tugas.  Usai berdiskusi, tim-tim yang telah terbentuk terlihat sibuk mempersiapkan berbagai peralatan untuk melakukan investigasi dalam kerangka monitoring kasus pelanggaran HAM, tak lama berselang dengan menggunakan tiga unit kendaraan roda empat, mereka  berangkat ke Salena yang berjarak sekitar tujuh kilometer arah barat kota Palu. Demikian suasana yang tergambar saat akan melakukan praktek lapangan dalam, “Pelatihan Monitoring dan Dokumentasi HAM” spesifikasi isu masyarakat adat region Sulawesi, yang diselenggarakan Yayasan Merah Putih (YMP).
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari sejak tanggal 6 sampai 9 September 2009 tersebut difasilitasi oleh Hisyam Setiawan dari Aliansi Masyarakat Adat Riau dan Azmi Siradjudin aktivis YMP. Keduanya  pernah mengikuti kegiatan serupa yang diselenggarakan oleh HURIDOCS dan DOCIP di Chiang Mai, Thailand, akhir tahun 2008 yang lalu.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama empat hari itu, peserta mengawalinya dengan berbagi pengalaman dalam pendokumentasian HAM, dari proses tersebut ditemukan berbagai kelemahan dalam kerja-kerja pendokumentasian yang dilakukan selama ini, terutama berkaitan dengan keterampilan aktifis dalam melakukan pencatatan, penyimpanan dan mengkampanyekan kasus pelanggaran HAM. “Selama ini kita melakukan pencatatan secara apa adanya, dan penyimpanan data dilakukan yang secara manual selama ini kadang membuat repot saat kita membutuhkan kembali data tersebut,” ujar Irsan peserta asal Tojo.
Hal itulah yang mendorong dilaksanakannya kegiatan ini, dengan maksud untuk meningkatkan keterampilan aktifis di region Sulawesi dalam melakukan monitoring dan pendokumen-tasian kasus-kasus HAM, khususnya yang intens dalam pembelaan hak-hak masyarakat adat. Serta sebagai langkah awal untuk memba-ngun sebuah jaringan kerja HAM yang antusias dan efektif di wilayah Sulawesi.” Kegiatan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman dalam pendokumentasian Kasus HAM, untuk meningkatkan keterampilan para aktifis, selain itu agar terbangun sebuah komunikasi aktifis HAM se-sulawesi agar terbangun sebuah jejaring kerja yang efektif” ungkap Edy Wicaksono selaku kordinator kegiatan.
Para peserta yang berasal dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi utara dan Gorontalo mendapat sejumlah materi di antaranya, mengenali isu spesifik dan masalahnya,  kategori dan tahapan kerja pendokumentasian, baik data kepustakaan maupun lapangan, pengggunaan aplikasi databases digital, dengan menggunakan software HURIDOCS, DOCIP, MARTUS. Di hari terakhir peserta mempraktekan semua materi yang telah didapatkan.
Pada sesi akhir, para peserta merumuskan beberapa rencana tindak lanjut, komunikasi yang terbangun bisa melahirkan kerja-kerja bersama dalam sebuah jaringan yang sifatnya region Sulawesi. Diantaranya membangun jaringan kerja, memandatkan ymp untuk menjadi dinamisator jaringan, membuat pelaporan regular setiap tiga bulan sekali, serta memanfaatkan majalah Silo sebagai media kampanye bersama.ojan
 
Fokus Utama
Image Tambang rakyat pilihan sulit

“Saat petugas penertiban datang, banyak penambang yang lari. Saya tetap bertahan, kalau mau di tangkap, tangkap saja! Hidup terlalu susah.” Ungkapan sederhana dan lugas ini cukup menggambarkan posisi dilematis para penambang ilegal di Bangka Belitung.  Seorang ibu mengungkapkan pernyataanya itu dalam sebuah program tayangan di salah satu televisi swasta. Ibu itu mewakili para sekitar 6500 penambang Nikel di Bangka Belitung (Babel). Aktivitas mereka sering disebut PETI (Penambang Tanpa Izin).

Baca Lengkapnya...
 
Fokus
Apa itu REDD,? “Menanam satu pohon berarti menunda kiamat”, guyonan ini pernah dilontarkan oleh salah seorang aktifis mahasiswa pecinta alam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu, dalam sebuah perbincangan santai di Sekertariat mereka beberapa bulan lalu. “Meski Tuhan telah menetapkan kiamat akan dating esok hari, tetaplah menanam pohon hari ini”. Ucap pria yang akrab disapa Nejo itu disambut argumentasi ringan dari teman-temannya. Tak ada istilah REDD yang terucap kala itu, namun kalimat itu menjadi relevan menggambarkan tujuan REDD.
Salam
Menakar Posisi Masyarakat Adat dalam Skema REDD Lebih dari satu dekade isu pemanasan global selalu menjadi pembicaraan penting, tidak hanya dikalangan akademisi atau aktifis lingkungan hidup namun juga di tingkat pemimpin negara-negara, berbagai pertemuan pun telah digelar untuk menghasilkan kesepakatan global menyangkut upaya mengatasi pemanasan global.  kini isu pemanasan global kian menghangat setelah dampaknya mulai terasa dimana-mana, termasuk di Indonesia.
 
Pekarangan
Raperda Perlindungan Tau Taa Wana, Inisiatif Bijak BPRD Morowali Ini boleh jadi kabar gembira bagi Masyarakat Adat Tau Taa Wana di Kab. Morowali. Pasalnya, Badan Legislasi (Baleg) DPRD Kab. Morowali, bersetuju mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Tau Taa Wana Kabupaten Morowali melalui “hak inisiatif” yang dimilikinya. Persetujuan itu diputuskan dalam rapat internal Baleg, Selasa (4/5/2010) silam.
Opini
Kekayaan Taman Nasional dan Kemiskinan kaum Tani Oleh: Rizal Cadas
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990).
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Login E-Silo






Lupa Password?
Belum Punya Akun? Daftar

Pengunjung E-Silo

We have 6 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22