Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home arrow Fokus arrow Antisipasi Bencana Butuh Kita Semua
Antisipasi Bencana Butuh Kita Semua PDF Print E-mail
Oleh: Mochammad Subarkah
aktifis Relawan Orang dan Alam (ROA)Sulteng
Terkejut, panik bahkan terenyuh juga kita menyaksikan bencana alam yang kerabkali melanda negeri ini, mulai dari banjir, gempa, angin putting beliung dan bencana lainnya bahkan ditambah lagi dengan peristiwa kebakaran yang memberangus rumah dan tempat usaha sebagai tempat berlindung dan mata pencaharian.
Anda tentu bisa membayangkan atau bahkan takut untuk membayangkannya seandainya bencana alam menimpa. Namun tentu kita semua tidak menghendaki hal itu terjadi dan menimpa kita, banyak cara yang sesungguhnya bisa dilakukan. Akan tetapi, itu semua juga berpaling pada kehendak dan kemauan kita untuk berbuat dalam upaya mengurangi risiko atau kerentanan yang ada disekitar wilayah kita.
Tidak sedikit lembaga, atau organisasi masyarakat bahkan komunitas telah menjadi penggiat upaya-upaya pengurangan risiko bencana baik secara nasional maupun dalam konteks local seperti yang ada di Sulawesi Tengah,tapi keberadaan mereka tidaklah cukup untuk sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak perlu sinergitas dari berbagai pihak untuk membangun upaya pengurangan risiko bencana.
Terlebih lagi jika saya mengutip pendapat seseorang yang mengatakan bahwa Sulawesi Tengah adalah merupakan laboratorium bencana dan jika diamati memang ada benarnya juga, mengapa demikian? Lihat saja bencana alam apa yang tidak pernah terjadi di wilayah Sulteng, semua sudah pernah terjadi, Gempa apalagi, Gunung meletus juga ada, banjir dan longsor tidak usah ditanya, tsunami juga pernah, angin putting beliung pun walaupun jarang tapi juga pernah melanda daerah ini.
Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kita melihat dan memahami serta melakukan tindakan untuk mengurangi itu semua ditengah-tengah tingkat eksploitasi sumberdaya alam yang cukup besar yang nota bene mengganggu keseimbangan lingkungan dan berakhir dengan timbulnya bencana ditambah lagi kebijakan Negara yang kerab tumpangtindih dan selalu berpihak kepada kepentingan modal yang meraup untung besar dan memberikan tabungan kerusakan lingkungan bagi anak cucu di daerah ini.
Seberapa besar kompensasi terhadap kelestarian lingkungan dan berapa besar kerugian yang diakibatkan oleh bencana setelah semua sumberdaya yang dimiliki hanya dinikmati oleh segelintir orang ditambah dengan bencana korupsi dimana-mana ditengah-tengah masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang risiko dan rentan terhadap bencana.
Sebut saja kejadian di Tahun 2009 ini, gempaTasikmalaya, Jawa Barat dan banjir bandang di Mandailing Natal, Sumatra Utara, telah muncul rentetan gempa besar yang memporak-porandakan Padang, Sumatra Barat, Jambi dan daerah-daerah di sekitarnya termasuk wilayah Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Toli-toli yang diterjang banjir bandang.
Semua ini kian memperjelas posisi Indonesia sebagai negara yang sangat rawan bencana. Bangsa Indonesia harus selalu siap dan siaga untuk menghadapi berbagai bahaya alam dan senantiasa berupaya untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bahaya-bahaya tersebut
Mungkin bisa saya katakan Negeri kita negeri dibawah bayang-bayang bencana, baik bencana yang diakibatkan oleh alam maupun bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia dan sebagian besar dari masyarakat kita menganggap mungkin sudah takdir bencana akan menimpa. Pertanyaannya takdirkah bencana itu, jika takdir haruskah kita berpasrah diri ?
Jawabannya bisa beragam dan tergantung dari sisi mana kita melihat dan menganalisa tentang bencana itu sendiri. Bencana memang sulit untuk diprediksi kapan akan terjadi. Namun tentunya ditengah-tengah ketidakpastian kapan akan terjadi bencana, ada baiknya kita tetap berusaha dan tidak begitu saja menjustifikasi ini adalah takdir.
Memang tak semudah membalikkan telapak tangan berbicara tentang bencana, wilayah Sulawesi Tengah punya banyak pengalaman dan berbagai kisah tentang bencana, baik bencana social, bencana alam dan bencana yang ditimbulkan oleh ulah manusia. Pengalaman itu sekiranya bisa menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk mewujudkan masyarakat yang tahan terhadap bencana.
Dari data yang dimiliki oleh sebuah lembaga kemanusiaan Relawan untuk Orang dan Alam Sulawesi Tengah (ROA-Sulteng) menyebutkan untuk wilayah Sulawesi Tengah sejak tahun 2007 terdapat 57 kasus bencana, 2008 tercatat 25 kasus sedangkan untuk tahun 2009 tercatat 28 kasus bencana.
Sungguh dahsyat memang dan jika dilihat kecenderungannya semakin meningkat dari sisi kerusakan yang diakibatkan oleh bencana. Olehnya dari pengalaman dan kejadian bencana yang kerabkali terjadi di wilayah Indonesia seyogyanya mulai memberikan prioritas perhatian yang mendalam terkait persoalan bencana. Regulasi kebijakan pun sudah dimiliki, institusi atau badan terkait bencana pun sudah ada akan tetapi bagaimana implementasinya ?
Masih banyak yang harus dikerjakan dan dibenahi tak hanya dari regulasi ataupun badan yang ada, akan tetapi bagaimana persoalan bencana sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat kita yang nota bene berada di wilayah yang rawan bencana.Paradigma penanggulangan bencana pun telah bergeser dari hanya tanggap kini lebih pada membangun kesiapsiagaan termasuk pada konteks pasca bencana.
Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana bukan hanya sekadar milik pemerintah atau badan tertentu akan tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak, pemerintah,swasta dan masyarakat yang dengan kondisi saat sekarang menuntut kita untuk memulai membangun negeri ini dengan mengutamakan perspektif bencana.
Mari melakukannya dari hal yang paling kecil yakni membangun kesiapsiagaan dari diri sendiri, ditingkatan keluarga dengan memberikan informasi yang cukup tentang bencana baik akibat alam maupun akibat ulah manusia serta cara mengantisipasi untuk mengurangi risiko dan kerentanan, kemudian dilanjutkan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat atau komunitas dan semua stakeholder dalam rangka membangun Negara yang memiliki kemampuan bertahan dalam berbagai ancaman bencana.  
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 22 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22