Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home arrow Opini arrow Komoditi Kelapa Dalam Terjun Bebas
Komoditi Kelapa Dalam Terjun Bebas PDF Print E-mail
Logo Daerah di Sulawesi Tengah menggunakan simbol-simbol komoditi kelapa dalam/rakyat/lokalsebagai ikon pasti ada dasar historis dan misi tertentu. Layak disimak pula ada kontradiksi dengan makin terabaikannya komoditi ini dimana tertekannya petani kelapa oleh akses harga jual komoditi yang rendah, ketersediaan pupuk murah, informasi teknologi terbaru  terbatas, pengelolaan hasil yang manual/tenaga manusia dapat dikatakan cenderung tradisonal, keberpihakan kebijakan yang lamban.     Kelapa merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Ada dua pendapat mengenai asal usul kelapa yaitu dari Amerika Selatan menurut D.F. Cook, Van Martius Beccari dan Thor Herjerdahl dan dari Asia atau Indo Pasific menurut Berry, Werth, Mearil, Mayurathan, Lepesma, dan Pureseglove. Kata coco pertama kali digunakan oleh Vasco da Gama, atau dapat juga disebut Nux Indica, al djanz al kindi, ganz-ganz, nargil, narlie, tenga, temuai, coconut, dan pohon kehidupan.
Kelapa dijuluki pohon kehidupan, karena setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan seperti berikut: (1) sabut: coir fiber, keset, sapu, matras, bahan pembuat spring bed; (2) tempurung: charcoal, carbon aktif dan kerajinan tangan; (3)daging buah: kopra, minyak kelapa murni/VCO, coconut cream, santan, kelapa parutan kering(desiccated coconut); (4) air kelapa: cuka, Nata de Coco; (5) batang klelapa: bahan bangunan untuk kerangka atau atap; (6) daun kelapa: Lidi untuk sapu, barang anyaman (dekorasi pesta atau Mayang); (7) nira kelapa: gula merah (kelapa)
Kelapa merupakan komoditi penting bagi kehidupan masyarakat dan perekonomian Indonesia.  Produk tanaman kelapa selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga sebagai sumber devisa Negara melalui ekspor.  Selain itu komoditi ini dapat menyerap tenaga kerja 6,9 juta KK, serta telah berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan.  Data Dewan kelapa Indonesia bahwa kontribusi kelapa dalam ekspor Indonesia (tahun 2006) adalah kopra 62.410 ton (36,885 juta dolar), minyak kelapa 519.974 ton (270,667 juta dolar).
Berdasarkan hasil studi di kecamatan Sigi Biromaru yang dilakukan penulis tentang penerapan teknologi budidaya kelapa dalam  di beberapa desa di Kecamatan Sigi Biromaru yang memiliki sebaran populasi tanaman kelapa dalam  terbanyak antara lain Desa Kalukubula, Jono Oge, Sidondo I dan II menunjukkan bahwa teknologi budidaya di terapkan secara terbatas bisa dikatakan tradisonal.
Kondisi lainnya juga ditekan dengan populasi kelapa dalam yang dipelihara adalah tanaman tua yang berumur diatas 40 tahun, yang membuat produksi buah akan terus menurun, biaya produksi yang juga terus sulit ditutupi oleh menurunnya harga kopra dan terbatasnya pasar sabuk,tempurung,arang kelapa.  Keengganan menanam kembali tanaman baru oleh petani karena harus menunggu 7 – 8 tahun untuk tanaman berbuah.  
Hasil studi lain dikemukaakan pula tentang produksi kelapa dalam tahun 2007 adalah 2.264 ton dengan produktivitas 2130 kg/ha  pada luas areal 3171 ha. Hasil produksi kelapa dalam menurun pada tahun 2009 adalah 1974.32 ton dengan produktifitas 920 kg/ha sedangkan ketersediaan luas areal 2225 ha. .
Luas areal total tanaman di Kecamatan Sigi Biromaru 2225 ha dengan status tanaman kelapa dalam yang menghasilkan seluas 2146 ha dan tidak menghasilkan dan tua 79 ha. Total  luas tanaman yang menghasilkan 4885 ha di Kabupaten Sigi. Luas areal tanaman kelapa dalam di Kecamatan Sigi Biromaru terluas dari 8 kecamatan lainnya di kabupaten Sigi atau memiliki 46 % dari total luas lahan di kabupaten sigi.  Menurut data dinas pertanian dan kehutanan Kabupaten Sigi tahun 2009 total produksi kelapa dalam kabupaten Sigi 5488 ton per tahun dengan rata-rata produktifitas  978 kg/ha.
Seiring dengan berjalan dan berkembangnya daerah,  tingginya permintaan akan kebutuhan industri dan perumahan yang menggunakan bahan baku kayu kelapa yang terus menggoda.  Dimana pedagang pengumpul  kayu/pohon kelapa yang menawarkan harga 200 – 300 ribu per pohon membuat petani kelapa yang lainnya ikut tergiur.  Tergiurnya petani berdasarkan kebutuhan ekonomi (uang). Posisi ini tidak dibaca oleh pihak terkait sebagai masalah yang harus diselesaikan agar populasi tidak berkurang dan produksi tetap terjaga.
Desa Kalukubula sebagai contoh banyaknya alih fungsi lahan dari tanaman kelapa menjadi areal perumahan dan kondisi ini akan terus terjadi karena desa tersebut sebagai kawasan perluasan pembangunan.  Sedikitpun aksi untuk menjaga keberlanjutan populasi tidak membuat pihak terkait melihat kondisi ini akan menekan produksi kelapa agar tidak menurun.          
Menurunnya produksi dari tahun ke tahun di Kabupaten Sigi juga di sebabkan aspek pemeliharaan meliputi, pemupukan, pengendalian organisme penggangu tanaman/OPT tidak di lakukan oleh petani.  Hal ini juga makin diperparah oleh keberadaan penyuluh pertanian yang terbatas oleh jumlah dan mobilitas serta transformasi pengetahuan teknik pemeliharaan yang baik.  Desa Sidondo II menjadi bukti bahwa keberadaan penyuluh pertanian tidak mampu mempengaruhi petani untuk menerapkan teknologi budidaya kelapa yang produktif.
Panen produksi kelapa diperoleh maksimal 20 buah/biji per pohon dalam 1 kali panen, bila dikonversikan ke dalam berat kg bahwa dalam 4 biji/buah kelapa sama dengan 1 kg kopra. Artinya, 1 pohon menghasilkan 5 kg kopra.  Apabila petani hanya mampu melakukan panen 3 kali dalam 1 tahun berarti petani dalam setiap tahunnya menghasilkan 15 kg kopra pertahun, produksi yang maksimal bila tanaman dalam keadaan normal adalah 2000- 2500 kg per hektar atau 20-25 kg perpohon.  Petani kehilangan produksi rata-rata 5 – 10 kg perpohon pertahun, dalam nilai rupiah pendapatan yang terbuang 30 ribu perpohon pertahun ( @ Rp 3000/kg).     
  Meneropong kondisi produksi di atas terasa makin hari semakin meruginya petani kelapa,  dan mustahil mengatakan kondisi ini sebagai kenyataan yang tidak boleh dirubah, lebih mengiris hati jika kekayaan intelektual kita tidak mampu melihat GAJAH BESAR di pelupuk mata, pada sisi lain sangat bangganya kita dengan simbol-simbol tanaman ini yang di tancapkan pada lambang daerah.    
 Petani kelapa di kecamatan Sigi Biromaru sebagian besar mengolah buah kelapa menjadi kopra dan minyak rumah tangga, untuk bagian sabut kelapa dan tempurung (tabingga)  dijual untuk bahan bakar pengrajin batubata/batumerah.  Akses informasi tentang teknologi pascapanen seperti buah kelapa menjadi Virgin Coconut Oil/VCO begitu terbatas.  Aplikasi teknologi ini masih harus membutuhkan pihak ketiga/mediator untuk mendampingi petani mengaplikasikan sampai suatu saat petani kita menjadi mandiri.
Penulis berfikir bahwa semua gurita yang dialami petani dapat diselesaikan dengan berbagai pendekatan,  (1) Kebijakan berupa regulasi untuk menekanan populasi agar tidak berkurang dan mengeluarkan peraturan perlindungan varietas tanaman kelapa dalam sebagai kekayaan daerah, (2) Merumuskan program yang mendorong petani untuk tetap membudidayakan kelapa dalam, (3) Mendorong peremajaan kelapa dalam dan penerapan teknologi budidaya kelapa yang baik, serta mendorong penggunaan teknologi VCO sebagai industry kecil rumah tangga, (4) Bila memungkinkan menfasilitasi terbentuknya kelembagaan yang berfungsi sebagai mediator, motiva-tor bahkan konseptor bagi keberlanjutan komoditi kelapa dalam di daerah ini.         
Akhirnya berbagai gurita-gurita yang menghimpit kondisi pertanian kelapa dalam menjadi bagian yang mesti di rumuskan, di implementasikan, diawasi dan di evaluasi agar mendapat pelajaran berharga sampai hasil produksi yang terus meningkat.
* Staf  ROA SULTENG/ LSM Bantuan Kemanusiaan.
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 16 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22