Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home arrow Fokus arrow Naga Menggeliat Bumi Tadulako Cemas
Naga Menggeliat Bumi Tadulako Cemas PDF Print E-mail
Berada di tengah hamparan hijau sawah dan ladang, beberapa petani di Desa Lolu, Kabupaten Sigi terlihat sibuk. Me-ngontrol pertumbuhan tanaman atau sekedar membersihkan gulma dan hama sudah menjadi rutinitas harian mereka. Potensi pertanian di Kabupaten baru ini memang sangat menjanjikan, bahkan untuk wilayah lembah Palu, Kabupaten Sigi menjadi daerah produksi pertanian yang paling menonjol. Beberapa komoditas unggulan sektor per-tanian seperti bawang dan sayur-sa-yuran banyak berasal dari daerah ini.
Pertanian dan perkebunan memang menjadi sektor yang paling diandalkan di Sulawesi Tengah. Ibarat Tadulako (panglima perang), sektor inilah yang membawa nama propinsi ini di kancah perekonomian nasional.
Begitu pun jika Sulawesi Tengah terkena dampak perdagangan bebas (FTA) ASEAN–China, maka sektor per-tanianlah yang akan merasakan dampak paling besar. Hal ini disebab-kan masyarakat di daerah ini umum-nya menggantungkan hidup pada sektor ini.
Untuk menghadapi serbuan produk pertanian dari China, tentu kesiapan sektor pertanian perlu diperkuat. Mulai dari kesiapan lahan, penanaman dan perawatan, hingga panen dan pema-saran, semua mesti disempurnakan.
Lantas, bagaimana kondisi pertanian di Sulawesi Tengah saat ini. Menu-rut pengakuan beberapa petani di Kab. Sigi, masalah klasik masih menjadi hambatan dalam meningkatkan kuali-tas dan volume produksi (kuantitas).
Seperti yang di ungkapkan Irham (47) ketua Kelompok Tani Beringin 2, Desa Lolu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Menurut bapak lima orang anak ini, irigasi masih menjadi persoalan yang tak jarang mengurangi kualitas bahkan menghambat proses produksi. Padahal air menjadi kebu-tuhan paling mendasar bagi petani.
“Air irigasi biasanya lancar, tapi kadang juga macet. Habis lebaran tahun lalu, air macet karena ada penggalian tanggul,”. Menurut Irham, awalnya penggalian tanggul (saluran induk iriga-si) dimaksudkan untuk memperlancar aliran air, namun kenyataan malah terbalik. “Mungkin ini terjadi karena penggalian tanggul tidak dilakukan menyeluruh,” katanya memprediksi.
Belum selesai masalah irigasi, petani diperhadapkan pada tantangan baru. Kabar yang santer terdengar China terkenal dengan barang produksi berharga murah. Jika benar, maka sepa-tutnyalah petani di daerah ini khawatir.
Bagaimana tidak, biaya produksi yang mahal masih menjadi nyanyian para petani hingga saat ini. Irham mengaku biaya pengolahan sawah seluas satu hektar bisa menelan jutaan rupiah. “Bagaimana kita bisa menjual murah kalau biaya pengolahan saja sudah mahal,” keluhnya.
Perkembangan teknologi pengolah-an pertanian yang diprediksi bisa lebih mengefisienkan waktu dan biaya ter-nyata tidak sepenuhnya benar. Trak-tor sebagai mesin pengolahan lahan, masih menjadi barang yang langka bagi petani. Untuk satu hektar  sawah, tak kurang Rp 1 juta  biaya mesti disi-apkan untuk menyewa mesin  itu.
Pada masa penanaman dan perawatan, biaya yang mesti dikeluarkan juga tidak sedikit. Munculnya berbagai ma-cam pestisida ternyata juga memicu munculnya hama-hama yang kian hari, kian kebal dan nantinya akan membutuhkan pestisida formula baru lagi.
Tanah yang lelah dengan berbagai pestisida dan bahan kimia lainya juga membutuhkan pupuk yang tidak sedikit agar bisa berproduksi dengan baik. “Kami sangat membutuhkan pupuk, biasanya produksi menurun karena pasokan pupuk habis di toko,” ungkap Irham.
Tak sampai disitu, masa panen, penggilingan dan pemasaran pun tidak luput dari biaya yang besar. Singkat-nya, petani di daerah ini masih kesulit-an untuk bersaing harga. Biaya pro-duksi yang besar memaksa mereka menjual produk dengan harga tinggi.
Tak jarang, petani merugi jika harga di pasar merosot rendah. “Kalau sudah seperti itu, biasanya teman-teman petani terpaksa meminjam modal dari pengusaha penggilingan untuk musim tanam selanjutnya,” ungkap Irham.
Miris memang melihat dilematisnya posisi para petani. Yang lebih ironis lagi, kondisi ini masih terjadi hingga saat ini, saat dimana perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN – China telah berjalan. [ojan]
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 10 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22