| Adakah Komoditas Andalan untuk Menembus Pasar China? |
|
|
|
|
Serbuan produk China dari dulu memang banyak menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha dalam negeri. Apalagi saat ini kran perdagangan bebas sudah dibuka, artinya tidak ada lagi batasan China untuk memasarkan produknya di Indonesia.
Bagaimana dengan produk dalam negeri. Khusus untuk Sulawesi Tengah, tampaknya pengusaha lokal tidak terlalu terganggu dengan rumor ancaman produk China. Apa sebab? Seperti yang diketahui, Sulteng terkenal dengan penghasil dan penjual bahan baku mentah yang cukup diperhitungkan. Kayu Hitam (ebony), minyak mentah sawit (CPO), rotan dan minyak bumi mentah merupakan komoditas andalan di bidang industri. Sedangkan bidang non industri biji kakao, kopra dan rumput laut menjadi primadona. Semua komoditas tersebut menjadi andalan ekspor Sulteng dengan pasar Amerika dan Asia. Lantas perlukah kita berbangga. Jika ditilik dari nominal keuntungan daerah dari hasil ekspor tersebut, tampaknya Pemerintah harus berpikir dua kali. Sebagaian besar komoditas ekspor diatas merupakan bahan mentah atau setengah jadi. Banyak kalangan menilai, jika bahan mentah tersebut bisa diolah menjadi barang jadi, maka keuntunganya bisa berlipat ganda. Maka, jangan heran jika kayu olahan yang kita kirim ke China, akan kita terima kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga yang melambung tinggi. Hal ini disebabkan karena, Sulteng merupakan pengekspor bahan mentah dan bahan jadi yang handal. Jika sudah seperti ini, maka cukup dimaklumi jika iklim usaha di Sulteng tidak kebakaran jenggot saat kesepakatan Perdagangan Bebas (FTA) China – ASEAN disepakati pada awal 2010. Ditambah lagi rumor bahwa produk China yang paling banyak masuk ke Indonesia adalah produk industry, bukan pertanian. Di sektor pertanian pun Sulteng masih lemah. Selain kakao, rumput laut dan kopra tidak ada komoditas lain yang bisa memenuhi kebutuhan eks-por. Bawang, yang menjadi salah satu komoditas andalan juga belum mampu memberikan hasil yang maksimal. Sangat disayangkan. Potensi lahan dan aktifitas masyarakat yang umumnya bertani ternyata tidak bisa menghasilkan produksi yang maksimal. Harus diakui, iklim usaha di Sulteng masih sangat lemah. Hal ini menjadi-kan kreatifitas pengusaha kurang berkembang. Padahal, Sulteng memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Lihat saja rotan, tumbuhan merambat ini hanya terdapat di Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Di seluruh wilayah Sulteng, tumbuhan ini bisa didapatkan dengan mudah. Namun satu kenyataan pahit, bahwa industri rotan terbesar justru ada di Pulau Jawa. Begitu pula dengan jagung. Potensi tanaman jagung yang terdapat di Kabupaten Tojo Una-una begitu besar, bahkan menurut sebagian kalangan lebih besar dari Gorontalo. Namun jagung menjadi ikon keberha-silan pertanian yang melambungkan nama propinsi Gorontalo. Di mana persoalanya? Apakah masyarakat dan pemerintah tidak sadar akan potensinya. Atau memang semua menginginkan jalur singkat dan praktis untuk menambah pendapatan. Di bulan maret ini, Dinas Perindus-trian dan Perdagangan serta Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperin-dagkop) Sulteng akan mela-kukan sosialisai dan konsolidasi terkait persiapan menghadapi FTA China – ASEAN. Meski agak terlambat, namun harapan masyarakat Sulteng begitu besar agar daerah ini bisa mengubah ancaman menjadi peluang. Tentunya sikap pesimistis atau phobia tidak pan-tas untuk menghadapi perkembangan seperti saat ini. Jika Sulteng tidak merasa terancam dengan adanya FTA China – ASEAN, maka sudah saatnya daerah ini me-nyusun strategi untuk menggairahkan iklim usahanya. Saat ini China me-mang menjadi negara yang menarik perhatian dunia. Serangan produknya menyebar ke negara-negara maju, bahkan mengua-sai pasar-pasar di Amerika. Namun perlu diingat, China juga merupakan potensi pasar yang besar bagi negara-negara lain, mengingat besarnya jumlah penduduk dan tingginya tingkat konsumsinya. Saatnya, pemerintah dan masyara-kat sadar akan potensinya daerahnya. Kualitas dan nilai tambah produksi menjadi kunci keberhasilan dalam meraih pasar. tim |
| Salam |
| Aspirasi |
| Fokus |
| Ulasan |
| Rujukan |
| Opini |
| Arus Bawah |
| Celoteh |
| Kontak Esilo |
| Pekarangan |