Member Area

ESILO Media Aspirasi Rakyat

Tuesday
Feb 07th
Home arrow Fokus arrow FTA China - ASEAN Berkah atau Musibah
FTA China - ASEAN Berkah atau Musibah PDF Print E-mail
ImageProduk dari China memang terkenal dengan harga yang murah dengan kualitas yang tak kalah bagus dengan produk dalam negeri. Untuk pasar bebas 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indonesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur BEGITULAH opini yang beredar di masyarakat pada masa tahun 2000 sampai 2002. Seperti yang telah diketahui, kerangka kerja sama Perdagangan Bebas atau dalam bahasa Inggris disebut Free Trade Area (FTA) antara Negara-negara ASEAN dan China telah disepakati pada tahun 2002. Namun pelaksanaannya baru dilberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010.
Meski agak berlebihan, setidaknya opini masyarakat tadi sudah menggambarkan persaingan pasar saat perdagangan bebas diberlakukan. Lalu, seperti apa sebetulnya Perdagangan Bebas tersebut.
Pada prinsipnya pembentukan setiap wilayah perdagangan bebas bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan biaya­-biaya yang tidak perlu, agar kegiatan produksi, perdagangan dan konsumsi berjalan efisien.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, sistem yang dibangun dalam kesepa-katan perdagangan bebas bertujuan untuk memudahkan keluar masuk-nya produk dari dalam dan dari luar Negeri. Maka, tidak menutup kemungkinan prediksi masyarakat itu akan terwujud.
Karena barang-barang dari luar negeri akan bebas masuk ke pasar-pasar di Indonesia tanpa dipungut biaya. Selain itu pedagang atau pengusaha dalam negeri juga bisa dengan laluasa menjual atau mengekspor barangnya ke luar negeri.
Artinya pedagang kita bisa melakukan kerjasama dengan pedagang atau pengusaha dari luar negeri. Lantas, jika perjanjian tersebut bisa memudahkan pedagang dan pengusaha memasarkan produknya, kenapa banyak pihak yang menolak FTA.
Lemahnya daya saing industri dalam negeri, adalah alasan yang dikemukakan  Ketua Komisi VI DPR RI, Airlangga Hartarto dalam siaran pers pada pertengahan desember 2009 lalu. “Daya saing produk dalam negeri masih lemah jika dilihat dari sisi harga dan kualitas,”
Produk dari China memang terkenal dengan harga yang murah dengan kualitas yang tak kalah bagus dengan produk dalam negeri. Untuk pasar bebas 2010 ini, beragam produk dari China akan membanjiri pasar Indo-nesia mulai dari komoditas pertanian sampai dengan industri manufaktur seperti tekstil, mainan, dan elektronik.
Khusus komoditas pertanian, Guru besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, mengemuka-kan, daya saing produk pertanian Indonesia masih kalah jauh dibandingkan China. Sebab, China unggul hampir di semua lini, teknologi pertanian, infrastruktur, unit pengolahan, hingga Trading House (rumah dagang).
Rudi menambahkan, dalam pengembangan teknologi pertanian, China melakukan penelitian secara menyeluruh, baik dari aspek komodi-tas maupun dampaknya bagi konsumen, sehingga hampir tidak ada yang perlu dipertanyakannya lagi.
Lantas, bagaimana dengan kesiapan industri dalam negeri. Komite Eksekutif Asosiasi Industri Baja dan Besi, Purwono Widodo mengatakan pene-rapan FTA bisa menghancurkan industri nasional dan memunculkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran.
Hal yang sama diungkapkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Me-nurut Asosiasi ini, potensi dampak ter-buruk dari perdagangan bebas adalah PHK yang bisa mencapai 7,5 juta orang.
Sayangnya, persiapan yang harusnya dilakukan oleh industri dalam negeri belum berjalan maksimal. Masalah-masalah klise seperti keterbatas-an infrastruktur, keterbatasan suplai listrik dan energi, serta berbagai per-masalahan terkait perizinan dan birokrasi yang berbelit-belit masih menjadi keluhan.
“Ketika akan membangun pabrik, pengusaha kita sudah kesulitan per-izinan di pusat dan daerah. Proses perizinan di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bisa sampai enam bulan. Belum lagi pungutan-pungutan lainnya,” keluh Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Perepatuan Indonesia (Aprisindo).
Lemahnya peran pemerintah dalam menggairahkan perindustrian dalam negeri tak ketinggalan menjadi keluhan para pengusaha. “Kenyataanya, industri lebih dibiarkan berjuang sendirian untuk bertahan, meningkatkan produktivitas, dan mencari pasar,” ujar Benny Soetrisno, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik.
Namun Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan pemerin-tah tetap berkomitmen melaksanakan perdagangan bebas China-ASEAN, tetapi dengan tetap merespon keberatan yang diajukan sektor-sektor industri dalam negeri.  [dari berbagai media]
 
 


E-SILO Terbaru

Image


Silo Edisi 34/Sep-Okt 2009

Pengunjung E-Silo

We have 14 guests online

Arsip E-Silo


Silo 22