| Ripin: Perjuangan Generasi Muda Tau Taa Wana |
|
ymp (12/1/2010 ) Sama seperti masyarakat pada umumnya, pendidikan bagi masyarakat adat Tau Taa Wana yang tinggal di pedalaman pegunungan Batui adalah sebuah kebutuhan. Namun jika kebutuhan masyarakat pada umumnya adalah legalitas formal sebuah lembaga pendidikan sebagai syarat utama untuk berkompetisi meraih kehidupan yang lebih baik, maka kebutuhan masyarakat Taa akan pendidikan adalah untuk bertahan hidup dengan ilmu yang ada. Setidaknya seperti itulah yang tergambar dari perjalanan usaha Ripin (13), anak ke tiga dari empat bersaudara, keluarga Apa Wis, Tau Tua Lipu (Kepala Kampung) Ueviau untuk bisa mengenyam pendidikan. Usaha Ripin dimulai ketika ia masuk Sekolah Dasar pada tahun 2004 di Mpoa, sekitar tiga jam perjalanan dari Lipu-nya Ueviau.Setahun lebih Ripin menjalani aktifitasnya di sekolah dasar tersebut, namun hingga duduk di kelas dua, entah kenapa ia mengaku belum bisa membaca dan menulis. Tak lama kemudian Ripin pun memilih berhenti dari sekolah. Faktor jarak yang cukup jauh dan kenyamanan menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk memutuskan berhenti. Jauh, karena ia harus berjalan selama tiga jam setiap harinya ke sekolah begitupun saat pulang. Tidak nyaman, karena secara psikology ia harus menanggung gelar sebagi anak dari suku yang tinggal di pedalaman hutan. Tentunya tantangan tersebut tidak mudah bagi anak seusia Ripin. Berhenti dari aktifitas sekolah formal tidak menjadikan Ripin berputus asa. Tiap harinya ia berusaha belajar bersama ayah dan ibunya saat beraktifitas di Navu (kebun). Tentunya kurikulum belajarnya tidak sama dengan sekolah formal, namun ia tetap menikmatinya. Tahun 2006 menjadi titik terang bagi harapan Ripin untuk bisa menulis, membaca dan berhitung. Pada tahun tersebut Yayasan Merah Putih (YMP) memulai program Sikolah Lipu di Ueviau, program yang juga berlangsung di hampir semua Lipu Tau Taa Wana di kawasan sungai Bulang. Beban sebagai anak dari Tau Tua Lipu sekaligus Tau Tua Ada (Kepala Adat) di Lipu-nya membuat Ripin semakin terpacu mengikuti setiap aktifitas Sikolah Lipu. Meski aktifitas belajar yang dilakukan tidak berlangsung dalam ruangan tertutup dengan barisan bangku dan meja, namun setidaknya hambatan jarak dan kenyamanan secara psikologis seperti yang ia rasakan sewaktu di Sekolah Dasar dulu sudah teratasi. Metode belajar Sikolah Lipu memang berbasis pada kebutuhan dan kondisi warga belajarnya. Keseharian Tau Taa yang lebih banyak dihabiskan di Navu membuat aktifitas belajar kadang berpindah-pindah. Di pinggiran sungai, di bawah pohon hingga di tengah areal Navu pernah menjadi kelas-kelas terbuka Sikolah Lipu. Saat ini, cita-cita Ripin untuk dapat membaca, menulis dan menghitung sudah tercapai, meski ia masih terus menyempurnakan kemampuanya dalam membagi bilangan. Enam bulan adalah waktu yang ia butuhkan untuk mendapatkan ketiga skill (kemampuan) tersebut. Sebuah waktu belajar yang relatif singkat untuk ukuran anak yang menurut sebagian orang adalah anak suku terasing. Seiring berkembangnya program YMP di Lipu-nya, Ripin juga mulai belajar manajemen dan tanggung jawab untuk menjalankan amanah. Ketika YMP membuka perpustakaan Lipu di Ueviau dan beberapa Lipu lainya, Ripin langsung menawarkan diri untuk menjadi pengelolah perpustakaan. Saat ini terdapat sekian buku yang ada di perpustakaan yang ia tangani. Selain menjadi pengelolah perpustakaan Lipu, saat ini ia juga menjadi asisten guru di Sikolah Lipu dan sedang giat-giatnya belajar musik tradisional Tau Taa Wana dibawah pengawasan kelompok musik etnik Pedati Palu. Generasi Tau Taa sedang berada pada titik balik yang diharapkan dapat membawa komunitasnya lebih dihargai dan diakui dimata pemerintah dan dimata dunia. Gerak substansi generasi Tau Taa Wana ini menepis anggapan bahwa mereka adalah komunitas tertutup dan sulit diajak kompromi. Yang dibutuhkan oleh komunitas ini adalah cara pandang orang luar yang bisa menganggap mereka adalah manusia yang juga punya hak untuk memilih dan menentukan apa yang terbaik bagi diri dan komunitasnya. Cara pandang yang tidak mengeneralisir nilai-nilai baik dan buruk berdasarkan pemahamanya sendiri. [ojan] |