Donggala, Juli 2025. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Hilda menuruni bukit kecil di belakang rumahnya. Di tangannya tergenggam ember berisi cairan pupuk organik buatan sendiri. Ia menaburkannya di akar tanaman sayur di pekarangan. Bukan sekadar rutinitas, tapi cara sederhana Hilda melawan perubahan iklim yang semakin terasa menusuk kehidupan di desanya, Loli Saluran.
Hari itu, Hilda dan puluhan perempuan lain dari desa-desa sekitar berkumpul dalam sebuah forum yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya: Diskusi Kritis Perempuan dan Perubahan Iklim. Tempatnya sederhana, sebuah balai desa yang biasa digunakan untuk rapat desa, kini berubah jadi ruang berbagi luka, harapan, dan strategi.
Di sana ada Indriani, dari Desa Loli Oge, dengan suara tegas yang keluar dari tubuh mungilnya. Ia bercerita tentang anak-anak perempuan di desanya yang mulai sering mengeluh sakit saat menstruasi, air sungai yang tercemar, dan udara berdebu akibat tambang galian C yang kian merajalela. “Ini bukan cuma tentang lingkungan, ini soal tubuh kami,” katanya.
Di pojok ruangan, Ibu Rati—anggota Satgas PPA dari Loli Oge—menyimak dengan saksama. Dalam hatinya berkecamuk ingatan tentang bagaimana air bersih makin sulit didapat, anak-anak sakit ISPA, dan suaminya yang kehilangan ladang karena longsor. Tapi hari itu, Rati tidak datang sebagai korban. Ia datang sebagai suara.
Hutan Gundul, Sungai Berubah Warna, dan Perempuan yang Tak Diam
Diskusi demi diskusi berlangsung. Perempuan-perempuan ini mulai merangkai cerita mereka menjadi peta perubahan iklim versi mereka sendiri. Tak ada grafik. Tak ada proyeksi ilmiah. Yang ada adalah cerita tentang debit air yang hilang, tentang laut yang tak lagi ramah bagi suami-suami mereka, tentang lahan pertanian yang kadang berubah menjadi banjir dan abrasi.
Mereka menyadari, mereka berada di garis depan—dan selama ini, suara mereka tidak pernah masuk ke forum-forum resmi desa.
“Perempuan itu tidak hanya memasak dan mencuci. Kami juga menjaga bumi ini,” kata Hilda. Di rumahnya, ia mengolah sampah organik menjadi pupuk. Ia menanam pohon. Ia menolak diam. Di desa Loli Tasiburi, Febi dan teman-temannya menggelar penyuluhan tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi. Mereka menyusun mimpi tentang desa yang ramah untuk perempuan, anak, dan alam.
Tumbuhnya Champion dari Tanah Terluka
Diskusi yang awalnya hanya dipenuhi rasa takut berubah menjadi taman tumbuhnya keberanian. Muncul istilah baru yang dibagikan oleh fasilitator: local champion. Seseorang yang akan menjadi suara perempuan, lingkungan, dan masa depan.
Ibu Rati tak menyangka ia disebut sebagai salah satunya. Demikian pula Ibu Hilda. Mereka tak punya gelar, tak pandai membuat proposal. Tapi mereka punya tekad. Dari forum ini, lahirlah janji bersama ke depan:
• Membentuk forum komunikasi perempuan desa.
• Aksi tanam pohon di daerah rawan longsor.
• Mendorong regulasi pelindung wilayah sungai dan pantai.
• Membangun ruang aman bagi perempuan dan remaja perempuan.
• Peningkatan kapasitas dalam pengolahan sampah, dan desakan penghentian operasi tambang galian C.
“Bumi ini bukan warisan, tapi titipan untuk anak cucu,” ucap salah satu perempuan dengan mata berkaca-kaca.
Donggala Tak Lagi Diam
Sore itu, balai desa tak lagi sunyi. Meski banyak peristiwa dan ide belum sempat dituangkan secara tertulis, para perempuan itu membawa pulang lebih dari sekadar kertas catatan. Mereka membawa semangat, jejaring, dan kepercayaan bahwa perubahan bisa dimulai dari suara kecil mereka. Kali ini, dengan keyakinan yang lebih kuat bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Donggala telah memulai. Dan perempuanlah yang menggerakkannya.
Diskusi kritis yang terselenggara atas dukungan IPAS Indonesia dan Yasayan Merah Putih Sulawesi Tengah ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat kapasitas perempuan desa, menjadikan mereka bukan hanya penerima dampak, tetapi juga pemimpin dalam perubahan, semoga. zf
Yayasan Merah Putih Yayasan Merah Putih