EMPAT KATA

Donggala, 9 April 2020. Bekerja, di rumah saja. Demikian kesimpulan rapat Akhir Maret 2020 untuk meminimalkan resiko COVID 19. Pekerjaan sebagai pendamping lapangan yang agenda kerjanya 75 % di lapangan membuat saya memutar otak – apa yang bisa kuperbuat dengan kondisi ini? Kamu tulis pengalamanmu dan nanti kita refleksikan, ungkap salah seorang senior. Saya pun membuka catatan harian, dan menuliskannya.

Minggu ke-3 Maret, Pukul 13:30 Wita saya mamacu kendaraanku ke arah barat laut Kota Palu, untuk menjalankan tugas sebagai pendamping Proklim (Program Kampung Iklim) di Desa Lampo. Perjalan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Disepanjang jalan menuju Desa Lampo kita menyaksikan pemandangan dua dimensi yang diciptakan tuhan untuk dinikmati: laut dan gunung. Namun ada ironi yang harus juga diterima, gunung yang seharusnya menjadi penyangga dan keseimbangan ekosistem diekspolitasi berlebihan sehingga kecantikan kian memudar. Alam itu memberi pesan “sesuatu yang berlebihan memang tidak akan berdampak baik”

Setiba di Lampo saya menuju ke Sekretariat LPHD Lampo, sembari merapikan barang-barang. Kami disambut Ardin Sekretaris LPHD Lampo. Saya mencoba mencairkan suasana dengan menjadi pendengar dari setiap ceritanya. Satu persatu pengurus LPHD datang kesekretariat. saya mengenal beberapa wajah mereka, ada yang muda, ada juga yang dewasa. Sambil berbincang satu sama lain, saya mengamati dan memperhatikan mereka. Ada hal luar biasa dipenglihatanku. Badan mereka kekar, kelihatan dari pundak mereka yang lebar karena seringnya memikul sesuatu yang berat. Beris di kaki uratnya keluar karena jauhnya perjalanan, sorot mata yang sayup tapi penuh keyakinan menerangkan bahwa mereka adalah pekerja keras disiang hari yang menyempatkan waktunya datang bercengkramah di ruangan kecil untuk mimpi yang besar.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka saya memperkenalkan diri di depan, bahwa saya adalah pendamping baru, saya akan banyak berinteraksi dengan mereka. Kami menyusun beberapa waktu kegiatan di bulan Maret kita membuat pelatihan kepemimpinan. Jumat, 20 Maret 2020 dilaksanakan Pelatihan tersebut. Pelatihan melibatkan unsur dari kelembagaan Desa Lampo, seperti Pemerintah Desa, BPD Lampo, LPHD, Dan KUPS. dilaksanakan selama dua hari, hari pertama dibawakan oleh Ibu Kiki dihari kedua difasilitasi oleh Zaiful. Mashuri Kepala Desa Lampo, mengatakan “saya sengaja mengajak para aparat desa dalam pelatihan ini agar mereka bisa mengembangkan kapsitas mereka, dan bisa berbicara didepan umum”. Terlepas dari itu semua, mereka yang hadir memang sangat berharap akan lahir pemimpin baru dari desa yang mereka cintai itu.

Cuaca diluar mendung dengan angin sedikit kencang bertiup sehingga terdengar suaranya dari daun jendela sekretariat. Ibu-ibu sekitar sibuk mengangkat jemuran mereka, ayam dan kambing tetangga juga mulai mencari tempat berteduh, mereka tahu bahwa sebentar lagi akan ada air yang jatuh membasahi mereka. Betul adanya tidak lama kemudian, rintik hujan mulai turun di pegunungan dan lembah lampo, hujan itu ingin ikut dalam haru di pelatihan kepemimpinan hari kedua. Ada hal yang membuat hati senang sekaligus kagum di pelatihan hari itu, ketika Pemateri menyuruh peserta untuk menuliskan cita-cita, harapan, impian mereka dalam 20 tahun kedepan.

Saya memberikan sebuah kertas karton kecil dan pulpen kepada peserta untuk menuliskan harapan. Setelah semua menuliskannya, saya kumpulkan kertas kecil itu kemudian saya buka. Hampir semua peseta menuliskan empat kata, tapi salah satu peserta yang menulis empat kata itu menohok isi hati, empat kata itu penuh keringat, penuh peluh, penuh tenaga untuk bekerja. Empat kata bak matahari, berbau asap dari para-para kopra. Emapat kata itu mengalir seperti seperti doa, seperti bambu yang diilir dari hulu, semuanya murni tidak ada yang dibuat-buat. Tulisan itu berbunyi “saya ingin anakku Sarjana”.

Begitu sederhana kalimat itu tertulis tapi bisa membuat pembaca larut dalam tafsirnya. Mereka masyarakat Desa Lampo punya harapan akan ada lahir pemimpin dari desa kecil yang luasannya hanya 849 Ha itu. Mereka sadar bahwa anak-anaknya harus lebih dari mereka, sekolahlah kalian tinggi-tinggi nak, datang kembali di desa ini, kemudian bagunlah desa ini dengan ilmumu. Begitu kira-kira harapan mereka.

Setelah pelatihan berakhir saya memberikan lagi kertas untuk mereka agar bisa menuliskan kesan-kesan mereka selama 2 hari mengikuti pelatihan kepemimpinan. Semua berbahagia dalam mengikutinya, semua bersyukur bisa belajar. Setelah hari itu saya duduk sendiri di beranda sekretariat memikirkan bahwa hari-hari selanjutnya akan menjadi hari menyenangkan dalam pendampingan. Herdiansyah

Komentar

Lihat Juga

SILO 81- MENYIKAPI PERUBAHAN IKLIM

Pasca perjanjian Paris di tahun 2015 mengenai reduksi emisi karbon dioksida (CO2), masyarakat dunia mulai ...

Pola Ruang Untuk Tau Taa Wana

Palu, 26 Desember 2019. Apa yang sebaiknya dilakukan untuk masyarakat pingiran agar tidak tereliminasi dalam ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *