Ketika Lima Energi Bersekutu (Catatan laporan tahun 2025 – Yayasan Merah Putih Sulawesi Tengah)

Sulawesi Tengah—dengan bentang alam yang dikelilingi gunung dan laut—menjadi lokasi kerja sekelompok pegiat yang mendedikasikan diri untuk menjaga keberlanjutan ruang hidup masyarakat. Yayasan Merah Putih Sulawesi Tengah percaya bahwa perubahan besar berawal dari keberanian memperjuangkan suara-suara kecil yang kerap tidak terdengar.
Sepanjang tahun berjalan, berhadapan dengan lima agenda utama yang menuntut perhatian serius. Agenda tersebut mencakup perlindungan masyarakat adat, penguatan pengelolaan hutan, pemberdayaan desa, serta peningkatan keamanan dan kesejahteraan kelompok rentan, terutama perempuan dan anak.
Dengan pendekatan advokasi, pendampingan, dan kemitraan lintas pihak, gerakan mereka mencerminkan upaya sistematis untuk memastikan bahwa ruang hidup komunitas di daerah ini tetap terjaga—baik dari tekanan kebijakan yang belum berpihak maupun dari ancaman lingkungan yang terus meningkat.

Advokasi Kebijakan
Para pemimpin adat (tau tua ada) gelisah. Mereka menuntut agar tanah leluhur kembali diakui secara sah. Berkumpullah para penganyam ruang: Amran, Joisman, Syahrun, Zain, para akademisi UNTAD, dan kawan-kawan koalisi. Mereka mengetuk pintu para penguasa—DPRD, gubernur, pejabat hukum. Sepanjang tahun, mereka melakukan perjalanan, dari ruang rapat sampai kafe-kafe kecil di kota. Di sana mereka berbicara dengan wakil rakyat, pakar hukum, wartawan, bahkan musuh-musuh lama yang kini menjadi sekutu.
Dan ketika matahari terakhir tahun 2025 terbenam, rebah rasa lelah itu berubah menjadi haru. Pada 31 Desember 2025 – Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat akhirnya disahkan. Seolah dunia ikut menarik napas lega.

Pemberdayaan Hukum Tau Taa Wana
Jauh di selatan, di lembah-lembah sunyi Ampana, Masyarakat Hukum adat Tau Taa Wana hidup di lipu-lipu (kampung-kampung kecil). Hutan mereka mulai berubah. Ada yang menebang, ada yang mengambil, ada pula rencana bendungan besar yang kelak menenggelamkan kampung.
Maka para penganyam ruang turun ke jalan tanah, menyeberangi sungai, dan tidur di rumah-rumah panggung. Mereka duduk bersama Tau Tua Ada dan Tau Tua Lipu untuk menggali ingatan tentang batas-batas adat. Mereka melatih pemuda untuk menjadi paralegal, bukan dengan kitab magis, tetapi dengan pena dan keberanian—agar mereka bisa membela diri dari ancaman kriminalisasi. Akhir tahun, para pemimpin adat berjalan jauh sampai ke Jakarta, menghadap para pejabat tinggi negeri. Mereka menyerahkan peta, narasi, dan harapan. Dan para pejabat pun berjanji akan membuka jalan menuju pengakuan hutan adat.

Kampung Iklim di Banawa Tengah
Di hulu sungai dan tepi hutan Lampo, Lumbudolo, dan Powelua, perubahan iklim sudah berubah wujud menjadi banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Di sana para penganyam ruang menanam harapan berupa: 3700 bibit pohon MPTS; pelatihan pengelolaan sampah; patroli hutan; penyusunan peraturan desa dan rencana aksi pengelolaan iklim
Anak-anak desa belajar memilah sampah, orang tua belajar membuat kompos, pemuda ikut patroli, dan para perempuan menanam sayuran di pekarangan rumah. Tahun itu, tiga desa kecil itu tidak lagi sekadar tempat tinggal—mereka menjadi benteng iklim.

Program CERAH (Keadilan Iklim Berbasis Gender)
Di tiga kabupaten—Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong—perubahan iklim membuat hidup perempuan semakin berat. Kekeringan membuat ibu-ibu berjalan lebih jauh mencari air, banjir merusak kebun, dan kesehatan reproduksi perempuan menjadi rentan. Para penganyam ruang bergerak menyatukan tiga dunia:
• perubahan iklim
• kesehatan seksual & reproduksi
• perlindungan perempuan & anak
Mereka membuka ruang-ruang diskusi, lokakarya, seminar, dan aksi bersama. Mereka membantu pemerintah membangun rencana aksi keadilan iklim yang transformatif gender. Di banyak desa, perempuan berdiri paling depan dalam penanaman mangrove, pengelolaan sampah, hingga pencegahan pernikahan anak. Dan dari desa ke desa, lahirlah komunitas perempuan penggerak iklim—sebuah cahaya kecil bernama “CERAH”.

Jejaring dan Perjalanan Pengetahuan
Tak semua pertempuran terjadi di tanah sendiri. Beberapa penganyam ruang pergi jauh:
• ke Solok, belajar perhutanan sosial
• ke Manila, untuk berbicara soal keadilan lingkungan
• ke Sukabumi, menjadi pelatih hukum
• ke Bengkulu, berdialog tentang masa depan masyarakat adat
Mereka pulang membawa cerita, membawa ilmu, membawa jaringan baru.

Penutup: Tahun Ketika Lima Energi Bersekutu
Di akhir tahun, para penganyam ruang menatap kembali perjalanan panjang itu. Mereka tahu, perjuangan belum selesai.
Hutan masih terancam.
Perempuan masih menghadapi ketimpangan.
Desa masih rapuh menghadapi perubahan iklim.
Namun untuk pertama kalinya sejak lama, mereka merasa lima angin bergerak ke arah yang sama. Mendorong perubahan bersama. Dan begitulah, tahun 2025 tercatat sebagai
Tahun Ketika Lima energi Bersekutu demi ruang hidup yang adil dan lestari.

Catatan : Laporan lengkap YMP Sulteng: klik disini

 

Lihat Juga

Sampah Bukan Masalah, Kalau Dikelola Bersama

Donggala, 20 Juni 2025 Suasana Desa Powelua hari ini lebih semarak dari biasanya. Warga dari ...

Adaptasi dan Mitigasi Lokal di Desa: Upaya Nyata dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Donggala, 170325– Perubahan iklim semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang memiliki ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *