Mengintegrasikan Perspektif Gender Dalam Bidang SDA

(Palu 10/7/2015), Forum diskusi bertema ‘Menggagas Integrasi Perspektif Gender dalam Isu Program Sumber Daya Alam (SDA)’ yang diinisiasi Lingkar Belajar Untuk (LIBU) Perempuan bertujuan agar perspektif Gender dapat diintegrasikan dalam setiap program NGO yang bekerja di bidang Sumber Daya Alam.

dewi rana amir
Insert Foto : Dewi Rana Amir Direktur Libu ( Penggagas Diskusi ) 

Menurut Dewi Rana Amir (Direktur LIBU Perempuan), sangat penting untuk mengintegrasikan isu perempuan didalamnya, karena sebelumnya sekitar tahun 80-an isu-isu perempuan itu sangat tertinggal, tidak ada termainsreming dalam program-program di bidang SDA. Tidak ada perspektif perempuan yang dibangun, padahal peran perempuan dalam setiap tahapan proses dilapangan berlangsung itu haruslah ada. Karena menurutnya bukan sekedar hasil yang diinginkan tetapi bagaimana sebuah proses juga dilakoni khususnya kaum perempuan dalam lingkungan masyarakat tersebut.

Ia mencntohkan dalam proses reklaming, perspektif perempuan tidak hadir dalam pengakuan wilayah adat, sehingga perempuan tertinggal dari segi proses, pengalaman, pelaksanaan dan pengetahuan-pengetahuan lainnya,” terang Dewi yang juga sebagai penanggung jawab forum diskusi tersebut.

Searah dengan itu, Nisbah, selaku pemateri mengatakan perempuan juga harus dikedepankan bila berbicara mengenai pengurangan kemiskinan. Jika sebuah program tidak mengintervensi perspektif gender didalamnya maka perlahan-lahan nisbahreperan perempuan itu pasti akan tersingkirkan dari kekayaan alamnya, terang Komisioner KPU yang juga bergabung di LIBU Perempuan.

Asriani CO Comunity Based Forest Management (CBFM) YMP, juga menjelaskan bahwa isu SDA memanglah sangat penting. “program YMP pada dasarnya memanglah terkait dengan SDA, contoh pengelolaan hutan berbasis masyarakat, SIBAK, dan perubahan iklim, dan sangat setuju bila perempuan terlibat aktif, karena perempuan merupakan agen perubahan” terang Asriani selaku pendamping lapangan di Desa Balean Kecamatan Lobu Kabupaten Banggai itu. Seiring berkembangnya masyarakat di desa dampingan maka meningkat juga peran perempuan yang ada di lapangan. Sehingga pengembangan peran perempuan tidak lagi tersingkirkan ungkap Direktur LIBU Perempuan pada Diskusi yang terselenggara 9 Juli 2015. (RIA)

Lihat Juga

KARAMHA Sulteng Dorong Hutan Adat Masuk Dalam Perda Tata Ruang

PALU – Berbicara tentang Hutan Adat, Koalisi Advokasi untuk Rekognisi Hak Masyarakat Hukum Adat (KARAMHA) ...

Tidak Diganggu Saja Tau Taa Bisa Hidup Baik

     13 Agustus 2022, bertempat di Balai Pertemuan Lipu Kasiala Kabupaten Tojo Una-una dilaksanakan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *