Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.

Perjuangan Tak Kenal Lelah Relawan YMP Membangun “Skola Lipu”

EFEKGILA.COM – Tak ada seragam, tak ada sepatu, tak ada pula gedung serta meja dan kursi seperti layaknya sebuah sekolah. Lalu apa yang ada di sana? Yang ada adalah semangat. Ya, semangat! Semangat untuk belajar, semangat untuk bisa membaca dan menulis.

Itulah pemandangan yang ada di Tau Taa Wana, sebuah suku terpencil di Desa Taronggo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Sejumlah anak berusia antara 6 sampai 13 tahun begitu serius menyimak.Kendati hanya duduk melingkar di tanah, mereka tampak antusias mengikuti pelajaran yang diberikan. Padahal, tidak semua anak-anak ini memegang buku dan alat tulis. Kalau pun ada yang punya buku, itu pun terlihat sudah lusuh.

Sejumlah relawan dari Yayasan Merah Putih dengan senang hati dan penuh kesabaran mengajarkan anak-anak ini. Sesekali mereka bergeser ke tempat tertutup di rumah adat atau Banua Bae, sebuah gubuk berbentuk panggung tanpa dinding. Begitulah suasana belajar yang diikuti anak-anak Tau Taa Wana.

Warga setempat menyebutnya tempat ini “Skola Lipu” yang berarti sekolah kampung. Anak-anak ini sudah terbiasa duduk bersila dan berselonjor kaki seraya mengeja huruf-huruf alfabet atau menulis. Tak ada kewajiban berpakaian seragam, apalagi harus memakai sepatu. Bila musim panen tiba, mereka belajar di sela waktu membantu orang tua di ladang, duduk di pematang dekat hamparan padi.Bukan hanya itu, seperti dilansir beritabenar.org , anak-anak itu juga kerap belajar di pinggir sungai atau hutan sekitar kampung. Saat berburu burung atau memetik buah, anak-anak saling berteka-teki “pelajaran” di sekolah. Dalam keheningan malam menyelimuti lipu, anak-anak yang telah mampu membaca, menulis, dan berhitung, kerap dimintai orang tua membantu mereka belajar aksara.

Meskipun namanya “Skola Lipu”, namun sekolah ini sebenarnya tidak memiliki guru layaknya sekolah umum. Mereka hanya punya tau mampatundek (fasilitator belajar) dari Yayasan Merah Putih (YMP). Beberapa anggota komunitas yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan dasar sekolah formal, meski tak tamat, ikut menjadi fasilitator.

Berbekal kemampuan literasi dasar, fasilitator komunitas itu mengawal pembelajaran aksara, mengandalkan papan tulis ukuran 50 x 50 cm. Jika kapur tulis habis, ubi kayu (singkong) yang dikeringkan jadi gantinya. Pada awal “Skola Lipu” dimulai peserta hanya menggunakan daun pisang muda jadi buku tulis dan lidi sebagai alat tulis.

Di Taronggo bukannya tidak ada sekolah. Namun jarak Sekolah Dasar terdekat dengan Taronggo mencapai 15 kilometer. SMP dan SMA hanya ada di ibukota kecamatan yang jauhnya 34 kilometer. Untuk mencapai ibukota kabupaten, warga Tau Taa Wana harus menempuh perjalanan laut selama enam jam. Lipu berada di lembah dan pegunungan dengan ketinggian antara 350m-1.120m dari permukaan laut.

Apa yang mendorong YMP membantu pendidikan di desa terpencil itu? Menurut Kiki Rikzi Amelia, manajer informasi dan kampanye YMP, keinginan kuat warga untuk belajar. Tujuan dibentuknya “Skola Lipu” sendiri untuk “melembagakan” proses belajar suku Tau Taa Wana dalam mengembangkan nilai-nilai budaya, adat istiadat kearifan lokal dan cara melestarikan alam. Selain itu untuk meningkatkan kemandiran komunitas adat lewat pendidikan keaksaraan.
“Dulu murid banyak. Sekarang hanya tinggal beberapa orang saja. Mereka sudah melanjutkan ke sekolah umum setelah orang tua mulai memahami betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan,” Kiki menjelaskan.

“Dengan kehadiran skola lipu, kita harap masyarakat Tau Taa Wana bisa tahu dan tak gampang dibodohi lagi. Ini bisa membuat mereka mandiri dan tentu saja membantu dalam menggali dan memahami nilai-nilai kearifan lokal sendiri,” timpal Koordinator YMP, Abdul Ghofur.

Sebuah keinginan yang sangat kuat untuk maju diperlihatkan warga desa Tau Taa Wana. Keterbatasan tak menghalangi mereka untuk belajar. Beruntung mereka bertemu orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan, sehingga sedikit banyak impian anak-anak desa itu dapat terwujud. Belajar memang tak kenal usia, tak kenal tempat, dan tak kenal lelah. Para relawan YMP dan anak-anak Tau Taa Wana telah memperlihatkan itu semua. (KS)

sumber : efekgila.com

Komentar

Lihat Juga

Menang lewat Kisah Skola Lipu

WARTAWAN Media Indonesia M Taufan SP Bustan asal Palu, Sulawesi Tengah, meraih juara II lomba Artikel dan Karya ...

Cerita Dari Wana

      CERITA DARI WANA Foto dan teks oleh Agung Wibowo Banyak hal dapat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *