MENU UTAMA
Pengunjung Online
Ada 14 guests online
Login Form





Lupa password?


Homepage
Site map
"Kilas balik Sulteng 2009, penegakan hukum, korupsi, lingkungan hidup, bencana, dan kekerasan terhadap perempuan" baca selengkapnya di ESILO Edisi 36/2009
 
Politik Energi dan Amuk Massa

ymp 15/2/2010

ImageOleh: Andika  
Amuk massa karena pemadaman listrik kembali terjadi, kali ini dilakukan oleh masyarakat tentena yang geram atas pemadaman lisrtik. PLN dianggap mengingkari janji, dimana pemadaman hanya berlangsung sepuluh hari. Tindakan ini dilakukan masyarakat tentena pada Jumat malam tanggal 11 Desember 2009, pukul 19.00 Wita  (Media Alkhairaat, 2009). Protes semacam ini sudah sering terjadi di Sulawesi Tengah (sulteng), utamanya di Kota Palu. Sasaran kemarahan masyarakat pun, selalu diarahkan kepada PLN yang dianggap masyarakat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pemadaman listrik yang terjadi.  
 
Ripin: Perjuangan Generasi Muda Tau Taa Wana

ymp (12/1/2010 )

Sama seperti masyarakat pada umumnya, pendidikan bagi masyarakat adat Tau Taa Wana yang tinggal di pedalaman pegunungan Batui adalah sebuah kebutuhan. Namun jika kebutuhan masyarakat pada umumnya adalah legalitas formal sebuah lembaga pendidikan sebagai syarat utama untuk berkompetisi meraih kehidupan yang lebih baik, maka kebutuhan masyarakat Taa akan pendidikan adalah untuk bertahan hidup dengan ilmu yang ada.

 
Sumber Daya Alam untuk rakyat ataukah pemodal?
15/11/2009
Oleh : Andika Setiawan 
Poboya: Potret Buram Pengelolaan Sumber Daya Alam
Pertambangan Poboya adalah cerminan ekspansi kapitalisasi sektor sumber daya alam melalui keterikatan negara dalam kerjasama ekonomi berupa kontrak karya. Luas konsesi yang terdiri dari enam blok terpisah itu disebut-sebut merupakan cadangan potensial secara ekonomis dengan total cadangan 2 juta Ons.
 
Dengan Blok Hijau, Indonesia Bisa Keluar Dari Jebakan REDD
ymp 8/9/2009
Organisasi lingkungan hidup di Indonesia harus mendorong pemerintah untuk bisa keluar dari skema REDD. Mengingat skema REDD gelagatnya hanya menguntungkan negara industri. Sedangkan negara pemilik hutan tropis seperti Indonesia, hanya dipaksa menjadi pemelihara dan perawat hutan. Hal tersebut tetap tidak adil secara global, sebab negara industri besar seperti AS belum mau menurunkan emisi karbonnya.
 
<< Awal < Sebelum 1 2 3 4 5 6 Berikut > Akhir >>

Hasil 1 - 6 dari 32
Today15
Yesterday88
Week170
Month808
All78319

(C) Fliesenstadt
Anggota: 4
Berita: 256
WebLinks: 5
Tamu: 431269